
"Devina"
Entah sudah berapa kali Devano memanggil nama kembarannya sambil mengetuk pintu kamar yang dikunci dari dalam, dia sangat cemas karena sekarang sudah pukul sembilan malam dan Devina masih belum keluar dari kamarnya. Sejak pulang dari toko buku Devina sama sekali tidak keluar dari kamarnya bahkan Devano sampai berbohong dengan kedua orang tuanya dan mengatakan kalau Devina sedang sakit kepala jadi dia ingin istirahat.
Sekarang Devano benar-benar cemas dia sudah cukup lama berdiri di depan pintu kamar Devina sambil mengetuk pintu itu berkali-kali dan memanggil namanya. Sungguh Devano sangat marah terutama pada Ziko karena ini semua pasti karena pria itu apalagi saat di perjalanan tadi Devina menanyakan beberapa hal yang cukup aneh.
"Devina buku pintunya"
Masih belum mendapat jawaban Devano pergi mengambil kunci cadangan yang selalu disimpan di ruang keluarga lalu kembali lagi dan membuka pintu kamar Devina. Gelap sekali suasana kamarnya lalu Devano menghidupkan lampu dan dia melihat Devina yang sudah memakai piyama tidurnya sedang berbaring di ranjang dengan selimut yang menutupi tubuhnya sampai ke leher.
Berjalan mendekat Devano dapat melihat kembarannya itu tertidur dengan nyenyak. Tadinya dia kasihan untuk membangunkan, tapi Devina harus makan karena gadis itu tidak turun untuk makan malam.
"Devina"
Memanggil dengan penuh kelembutan Devano mengusap-ngusap pipi kembarannya.
"Vina bangun dulu"
Entah berapa lama Devano berusaha hingga akhirnya mata indah itu perlahan terbuka dan langsung menatapnya.
"Makan dulu." Kata Devano lembut
Devina menggelengkan kepalanya pelan.
"Enggak lapar"
"Kamu belum makan apa-apa nanti sakit." Kata Devano dengan sabar
Devina memasang wajah sedihnya dan kembali menggelengkan kepalanya membuat Devano menghela nafasnya pelan lalu mengusap pipi Devina dengan lembut.
"Kamu nangis?" Tanya Devano yang dijawab dengan gelengan singkat oleh kembarannya
Tapi, Devano tau kalau kembarannya itu berbohong.
"Mau makan apa?" Tanya Devano
"Gak mau makann." Rengek Devina
Dia benar-benar tidak nafsu makan sekarang.
"Kamu belum makan malam nanti sakit." Kata Devano berusaha membujuk
Sekali Devina menggelengkan kepalanya lalu bangun dari tidurnya dan memeluk Devano yang duduk di tepi ranjang. Pelukan Devina cukup erat membuat Devano tersenyum tipis dan membalas pelukannya dengan sayang.
Tidak ada kata apapun yang Devina keluarkan dan Devano juga tidak mau memaksanya untuk bicara.
Pelukan Devano memang salah satu tempat yang selalu bisa membuat Devina merasa sangat nyaman. Sudah cukup lama dia menangis dan sekarang mata Devina mendadak perih, dia mengantuk.
Sudah sejak tadi juga ponselnya dimatikan, biar saja dia ingin tenang sejenak.
Pesan yang Ziko kirimkan membuat Devina terus berfikir, apa dia egois dan kekanakan?
'Jijik banget gue liatnya Devina terlalu kekanakan gak sih? Sumpah kenapa ada yang betah ada dekat dia gue aja liatnya ilfeel'
Devina pernah mendengar perkataan seperti itu dan sudah lama sekali dia melupakannya, tapi sekarang dia kembali mengingat.
"Vanooo"
"Hmm"
"Kamu sebel gak sama aku? Kamu jijik gak sama aku? Kamu benci gak sama aku? Kamu...."
"Ngomong apa sih Vin?" Tanya Devano tidak suka
Devina menggelengkan kepalanya pelan dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Kenapa hmm? Apa aku perlu kasih pelajaran untuk Ziko?" Tanya Devano yang langsung membuat Devina melepaskan pelukannya
Dia menatap Devano lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat, jangan sampai Devano melakukan sesuatu pada kekasihnya.
Kekasihnya.
Apa Ziko masih kekasihnya?
"Jangannn"
"Dia nyakitin kamu kan? Dia buat kamu nangis?" Tanya Devano
"Enggak, bukan salah dia." Kata Devina yang membuat Devano kesal mendengarnya
"Terus salah kamu? Kenapa kamu sering nyalahin diri sendiri Devina?" Tanya Devano kesal
Dulu waktu di tampar oleh Hara dia juga mengatakan kalau bukan salah Hara dan itu semua salahnya.
Hal itu salah satu sikap Devina yang membuatnya kesal bukan main.
Satu hal yang Devano yakini kalau besok Ziko datang dan meminta maaf padanya Devina akan langsung memaafkan lalu bersikap seolah semua ini terjadi.
"Memang salah aku dia pasti capek pacaran sama cewek kayak aku yang egois terus kekanakan dam banyak maunya." Kata Devina
"Devina"
Mengangkat wajah Devina hingga menatapnya dada Devano terasa sesak ketika melihat mata kembarannya yang digenangi air mata. Apalagi ketika Devina tersenyum tipis, tapi hal itu malah membuat air matanya jatuh dan akhirnya Devina tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis.
"Jangan nangis." Kata Devano sambil menghapus air mata di pipi Devina
Dia bersumpah tidak akan membiarkan Ziko menyakiti Devina lagi.
Bisa-bisanya pria itu membuat kembarannya menangis?!
"Vano"
"Hmm"
"Aku capek dari tadi nangis, tapi air matanya gak mau berhenti." Kata Devina sambil mengusap pipinya lagi
"Tadi katanya gak nangis." Kata Devano
"Bohong"
Tersenyum tipis Devano menangkup wajah kembarannya lalu mencium keningnya dengan lembut.
"Kalau kamu masih nangis aku bakal pukulin Ziko besok." Kata Devano yang berhasil membuat Devina berhenti menangis
Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Jangann"
Setelah mengatakan hal itu perut Devina berbunyi membuat tawa kecil Devano terdengar dan dia langsung membujuk Devina untuk makan. Meskipun menolak pada awalnya Devina tetap mengangguk ketika perutnya semakin keroncongan.
Bersama dengan Devano mereka turun dan menuju ruang makan, beruntung tidak bertemu Daffa atau Fahisa karena Devina tidak pernah bisa menyembunyikan matanya yang habis menangis. Sampai di ruang makan Devano mengambilkan makan malam untuk Devina lalu duduk disampingnya dan menunggu sampai gadis itu selesai.
"Kamu gak mau tidur? Tidur aja aku gak papa makan sendirian." Kata Devina
"Enggak papa aku nungguin kamu sampai selesai." Kata Devano
Tidak bisa menolak Devina hanya diam dan mulai menyantap makan malamnya, tapi baru beberapa suap dia sudah malas untuk makan.
"Vano udahh"
"Baru sedikit." Kata Devano
"Malass mau makan." Kata Devina dengan bibir mengerucut
"Mau aku suapin?" Tanya Devano
Devina terdiam sebentar lalu menganggukkan kepalanya.
Suapan demi suapan Devina terima dan dalam diam Devano tersenyum sambil memperhatikan kembarannya yang tidak banyak bicara. Sepi rasanya ketika Devina hanya diam tidak bicara apapun dan memasang wajah murung karena gadis itu biasa membuat rumah terasa ramai.
Saat tengah sibuk dengan fikiran masing-masing suara Fahisa membuat keduanya sedikit kaget dan menoleh.
"Ehh anak Mommy sudah keluar kamar? Katanya kamu sakit kepala sayang." Kata Fahisa
Devina terlihat bingung, tapi dia mengerti ketika Devano menatapnya pasti kembarannya itu mengatakan kalau dia sakit kepala agar orang tuanya tidak pergi ke kamar.
"Emm sudah enggak Mommy sekarang Vina sedang lapar." Kata Devina membuat Fahisa tertawa kecil
Berjalan mendekat Devina terlihat cemas ketika Fahisa menatapnya dengan penuh selidik.
"Kamu menangis Devina?" Tanya Fahisa
Devina diam dan menatap Fahisa serta Devano bergantian, otaknya sedang berusaha mencari alasan yang bisa membuat Fahisa percaya.
Dan berhasil Devina mendapatkannya.
"Iya soalnya besok ada ulangan matematika terus Devina gak pernah nyambung sama pelajarannya ditambah sekarang kepala Vina pusing, jadi Vina nangis." Kata Devina
Menggelengkan kepalanya pelan Fahisa mengusap puncak kepalanya anaknya dengan sayang.
"Jangan difikirin sayang masa kamu sampai gak mau makan malam." Kata Fahisa
Devina hanya mengangguk dan membuat Fahisa tersenyum lalu mengusap puncak kepala anaknya dengan sayang.
"Habis ini langsung tidur ya?" Kata Devina
Sekali lagi Devina mengangguk patuh lalu Fahisa mencubit pelan pipi anaknya dan mengatakan kalau dia akan membuat kopi untuk suaminya. Setelah Fahisa pergi Devina menghela nafasnya lega, beruntung sekali dia bisa mencari alasan.
"Udah makannya?" Tanya Devano
Tersenyum tipis Devina mengangguk singkat lalu mengambil minum yang ada di atas meja.
"Udah, mau ke kamar lagi." Kata Devina
"Langsung tidur ya?" Kata Devano yang dijawab dengan anggukan singkat oleh Devina
Setelah itu Devina melangkahkan kakinya ke kamar dan meninggalkan Devano yang katanya masih mau membuat kopi, belakangan ini kembarannya memang sering begadang. Saat sampai di kamar Devina langsung merebahkan tubuhnya di ranjang dan dengan ragu mengambil ponsel yang ia letakkan di nakas lalu menghidupkannya.
Ketika layar ponselnya menyala dan data hidup ada begitu banyak notifikasi yang masuk, tentu saja didominasi oleh kekasihnya.
Tanpa membuka room chat nya Devina membaca satu pesan dari Ziko.
Devina aku minta maaf, balas chat aku please...
Tapi, Devina enggan membukanya.
Ada ratusan chat juga puluhan panggilan tak terjawab yang telah Devina abaikan sejak pulang dari sekolah.
Biar saja dia akan mengabaikan panggilan dari kekasihnya.
¤¤¤
Malam ini Ziko menolak datang ke restoran meskipun dia memiliki jadwal untuk tampil bersama yang lainnya, tidak dia sedang tidak mood. Sudah ratusan pesan dan puluhan kali Ziko mencoba untuk menghubungi kekasihnya, tapi tidak ada satupun jawaban atau balasan yang dia terima.
Devina seolah menghilang.
Rasanya Ziko hampir frustasi karena Devina menghindarinya, dia takut sangat takut kalu ketika bertemu nanti Devina malah meminta putus. Tidak, jangan sampai hal itu terjadi karena Ziko benar-benar tidak mau berpisah dari Devina.
Harusnya ketika Devina sudah menjadi miliknya dia menjaga gadis itu agar tidaj menjauh pergi, tapi sekarang dia malah melakukan hal yang sebaliknya.
Ziko sangat takut kalau Devina benar-benar menjauh darinya.
Beralih mencari nomor Mona tanpa basa basi Ziko menelpon gadis itu untuk menanyakan Devina karena biasanya gadis itu selalu bercerita pada Mona setiap ada masalah. Butuh dua kali sampai Mona mengangkat panggilan telponnya dan bicara dengan nada malas.
'Kenapa?'
"Mon gue mau nanya, Devina ada...."
Perkataan Ziko terputus dengan suara ketus Mona.
'Ngapain nanya temen gue? Masih peduli lo?'
"Mona, gue udah coba hubungin Vina, tapi dia gak balas ataupun angkat chat dari gue." Kata Ziko
'Bagus kalau gue jadi dia gue juga bakal lakuin hal yang sama'
"Mona...."
'Ngapain? Setelah perasaannya diragukan dia ngeliat cowoknya jalan sama cewek lain, lo kok brengsek sih Ko?'
Helaan nafas Ziko terdengar ketika mendengar perkataan Mona, dia tau kalau dia membuat kesalahan.
"Gue mau minta maaf sama dia Mon." Kata Ziko pelan
'Gue nyesel udah dukung lo Ko tau gitu mendingan gue dukung Vina sama Alex aja atau sama Harris sekalian'
"Mon apaansih?" Kata Ziko tidak suka dengan perkataan Mona
'Lo yang apaan?! Kenapa sih Ko? Tau gak Devina telpon gue sambil nangis!'
Mona membentaknya, tapi itu bukan masalah karena satu-satunya masalah adalah perkataan bahwa kekasihnya menangis.
Menangis karena ulahnya.
'Bisa-bisanya tega lo bilang kalau Devina itu egois dan kekanakan! Lo Ziko yang egois bukan Devina dan lo juga yang kekanakan bukan Devina!'
Perkataan itu membuat Ziko diam, bukan karena menyesal, tapi karena bingung dan tidak mengerti.
Kapan dia mengatakan kalau Devina egois dan kekanakan?
Dia tidak pernah sekalipun mengatakan hal itu pada kekasihnya.
"Gue gak pernah bilang gitu ke Devina." Kata Ziko
'Terus Devina bohong gitu? Dia bahkan kirim screenshot ke gue chat kalian berdua'
"Tapi, gue gak pernah bilang hal kayak gitu ke Devina." Kata Ziko lagi
Kali ini Mona ikut terdiam, apa ada kesalahan?
"Mon gue gak mungkin bilang kayak gitu ke Devina." Kata Ziko
Mona masih tetap diam merasa bingung dengan perkataan Devina dan Ziko.
Mana yang harus dia percaya?
¤¤¤
Selama di sekolah Devina benar-benar menghindari Ziko mulai dari datang ketika bel masuk berbunyi dan langsung pergi ketika bel istirahat lalu menghampiri Devano yang menunggu di kelas. Sekarang Ziko benar-benar menahan diri untuk tidak berteriak atau membawa Devina pergi lalu meminta gadis itu untuk bicara dengannya.
Saat merasa tidak memiliki nafsu makan Ziko memilih pergi dari kantin dan kembali ke kelas lalu duduk di bangku sebelah Devina, menunggu gadis itu sampai kembali. Selagi menunggu Ziko mengambil selembar kertas dari buku yang ada di meja gadisnya dan menuliskan sesuatu disana, usahanya kalau nanti Devina tidak mau bicara.
Ketika bel masuk berbunyi Ziko terus menatap ke pintu kelas dan menunggu sampai kekasihnya itu muncul. Cukup lama karena hingga kelas hampir penuh Devina belum juga masuk ke dalam kelas, gadis itu sengaja menghindarinya.
"Ko"
Mendongakkan kepalanya Ziko menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Gio dengan penuh tanda tanya.
"Jam kosong tadi Devina jalan ke arah perpus"
Perkataan itu membuat senyum tipis Ziko terbentuk dan dia langsung bergegas keluar kelas, pergi ke perpustakaan. Beruntung kelas Devano sedang ada guru jadi dia bisa dengan mudah menemui kekasihnya.
Sampai di perpustakaan mata Ziko menjelajah ke segala sisi untuk mencari keberadaan Devina dan berhasil dia menangkap sosok kekasihnya di sudut perpustakaan sedang mencari buku.
Dengan hati-hati Ziko melangkah masuk dan menghampiri Devina.
"Vina"
Tubuh itu menegang lalu dia menoleh sebentar dan wajah datarnya membuat Ziko merasa sedih.
Devina tidak pernah menatapnya seperti itu.
Saat tangan Ziko meraih tangan yang biasa dia genggam Devina langsung menepisnya dan mengatakan hal yang membuat Ziko terdiam.
"Aku mau sendirian"
¤¤¤
Butuh double upp????
Baikann atau putussss yaaaa😶