
Malam ini Devano terpaksa mengurungkan niatnya untuk memarahi Devina yang keluar malam-malam dengan pakaian seperti itu karena ada teman-temannya di rumah, dia masih punya otak untuk tidak mempermalukan kembarannya di rumah sendiri. Awalnya Devano tidak tau tentang story itu, tapi char grupnya dengan teman-teman sangat ramai dan ternyata membahas tentang Devina bahkan mereka mengirimkan screenshot foto itu ke dalam grup.
Jelas saja hal itu menyulut emosi Devano apalagi banyak yang mengatakan kalau Devina sangat cantik berpakaian begitu. Bukan tidak suka, tapi Devano tau kemana mata mereka pasti bukan hanya fokus pada wajah adiknya melainkan ke kaki mulus Devina yang terekspos dengan sangat jelas.
Sesaat setelah tau Devano terus menggerutu dan mengirim DM begitu banyak kepada kembarannya hingga Daffa bertanya. Sama halnya dengan dia saat ditunjukkan Daffa juga terlihat tidak suka dan langsung menelpon anaknya.
Ternyata ketika sampai rumah Fahisa mengatakan kalau dia mengizinkan Devina.
"Hisa kamu kenapa sih? Aku gak suka kalau banyak mata laki-laki yang menatapnya, tidak bukan menatap wajahnya, tapi menatap kaki mulusnya!" Kata Daffa kesal
"Mom kalau sudah sekali diizinkan nanti Vina akan terus melakukannya." Kata Devano melayangkan protesnya
Melihat hal itu Fahisa menghela nafasnya pelan dia sudah menduga kalau hal seperti ini akan terjadi, tapi dia juga tidak tega mengatakan jangan pada Devina apalagi gadis itu menatapnya dengan penuh harap.
"Vina kan kesana naik mobil dan dia juga bawa jaket untuk nutupin pahanya kalau mau duduk." Kata Fahisa
"Tetap saja Fahisa...."
"Tetap saja Mom..."
Like father like son.
Kedua orang itu langsung melayangkan protes pada Fahisa secara bersamaan dan kalau sudah begini bisa dipastikan Daffa akan mengomelinya.
"Aku gak tega mau larang Vina apalagi ada teman-temannya juga." Kata Fahisa lagi
Belum sempat keduanya membalas pintu utama terbuka dan Devina bersama teman-temannya masuk ke dalam rumah. Saat melihat tatapan tajam Daffa dan kembarannya Devina langsung menunjukkan cengirannya lalu berlari ke kamarnya.
"Vina ngantukk"
Teman-temannya yang lain tersenyum canggung dan mengikuti Devina yang sedang pergi ke kamarnya meninggalkan Devano juga Daffa yang menghela nafasnya pelan.
"Jangan dimarahin Mas kamu juga Vano." Kata Fahisa
"Gak bisa Mom dia keluar dengan pakaian seperti itu bagaimana aku bisa diam saja." Kata Devano kesal
"Benar Hisa harusnya jangan biarkan Vina keluar dengan pakaian seperti itu." Kata Daffa membela anak laki-lakinya
"Hanya sekali ini biarkan saja dia." Kata Fahisa sambil menghela nafasnya pelan
"Sekali dibiarkan nanti dia akan melakukan hal yang sama lagi, bagaimana bisa aku diam?" Kata Daffa
Merasa kalah Fahisa memilih untuk berlalu pergi meninggalkan suami dan anaknya yang masih terlihat sangat kesal ketika melihat Devina. Di lain sisi teman-teman Devina langsung mengungkapkan betapa seramnya tatapan mata Daffa dan Devano yang seperti ingin membunuh.
Dalam kamarnya Devina berkali-kali menghela nafasnya pelan dia selamat karena ada teman-temannya, tapi tidak tau kalau besok dia pasti akan dimarahi habis-habisan. Saat mengangkat telpon dari Daffa tadi hanya satu kata yang pria paruh baya itu ucapkan sebelum langsung mematikan sambungan telpon.
'Pulang!'
Entah kenapa sekarang Devina merasa kesal dia memiliki banyak sekali pakaian, tapi setiap pergi dia hanya memakai yang itu itu saja. Rata-rata pakaiannya memang rok atau celana pendek juga dress diatas lutut, tapi setiap pergi Devano selalu memilihkan celana jeans atau rok panjang serta kemeja atau sweater.
"Sumpah Vin gue takut, lo gak bakal dimarahin kan?" Tanya Mona was-was
Devina tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya, dia yang tidak enak dengan mereka karena sudah mengacaukan malam mereka.
"Ada Mommy gak bakal dimarahin." Kata Devina membuat mereka semua tersenyum lega
"Lain kali ikutin kata Vano sama Daddy lo aja deh Van gue takut nanti lo malah kena marah." Kata Cessa yang disetujui oleh yang lainnya
"Mereka pasti ada alasan kenapa ngelakuin ini Vin malah kita yang gak enak sama lo kalau nanti lo kena marah." Kata Nayla dengan penuh pengertian
"Kita gak mau kalau nanti lo malah kena marah." Kata Mona lagi
Devina hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya dan merentangkan tangannya meminta untuk dipeluk.
"Peluk duluuu"
Tertawa kecil mereka semua memeluk Devina dengan sayang membuat gadis itu sekali lagi merasa bersyukur karena memiliki teman-teman seperti mereka yang selalu ada untuknya.
"Makasih yaaa." Kata Devina tulus
"Ehh tadi Ziko gimana jadinya?" Tanya Mona setelah pelukan mereka saling terlepas
"Dia ngomelin aku, tapi sekarang udah enggak lagian insta storynya udah aku hapus." Kata Devina sambil tersenyum
"Sekarang lo punya tiga orang posesif." Kata Cessa membuat Devina tertawa kecil dan mengangguk setuju
"Padahal aku banyak pakaian kayak gini rok, celana, sama dress cuman hampir gak pernah dipakai paling cuman di rumah aja." Kata Devina sambil mengerucutkan bibirnya sebal
Rasanya mustahil untuk memakai pakaian itu keluar rumah.
Mungkin lebih baik semua bajunya dibuang saja lagipula tidak bisa dia pakai.
Terkadang Devina senang dengan perlakuan Devano dan Daffa, tapi terkadang dia merasa sangat terkekang hingga sulit untuk bergerak bebas.
¤¤¤
Semua teman Devina baru pulang ketika siang hari lalu setelah mengantar mereka sampai depan Devina pergi ke ruang keluarga dan hanya berdiam diri tanpa ada keinginan untuk keluar dari sana. Satu hal yang dia yakini Devano akan langsung memarahinya kalau mereka bertemu dan begitu juga dengan Daffa, jadi sebisa mungkin Devina menghindari mereka.
Sejak tadi yang Devina lakukan adalah berkirim pesan bersama sang kekasih yang setidaknya membuat mood nya lebih baik. Segala gurauan Ziko membuat Devina tertawa dan tersenyum senang, salah satu keuntungan memiliki pacar humoris selalu bisa menghiburnya.
Kata Mama waktu kecil aku nakal banget sampai Mama sering dimarahin orang karena aku
Dulu aku pernah dorong temen aku sampai dia jatuh dari sepeda dan Mama langsung ngurung aku seharian
Tawa kecil Devina terdengar ketika dia membaca pesan yang kekasihnya kirimkan.
^^^Ihh nakal bangettt^^^
^^^Pasti Mama kamu kesel banget sama kamu Ziko karena nakall^^^
Tak butuh waktu lama Devina sudah menerima kembali balasan dari sang kekasih.
Enggak dong sayang mana bisa dia kesel sama anaknya yang ganteng😎
Berdecak kesal Devin kembali tersenyum ketika membacanya.
^^^Narsiss bangettt^^^
Kembali mendapat balasan senyum manis Devina mengembang dengan sempurna ketika Ziko mengirim foto untuknya.
Emang ganteng kan sayang?
Dalam hati Devina menjawab IYA GANTENG BANGET hanya saja di dalam pesan dia menjawab biasa saja.
Selesai mengirim pesan pintu kamarnya terbuka membuat Devina langsung mematikan layar ponselnya dan menoleh, ada Devano yang menatapnya dengan datar. Tersenyum tipis Devina mendudukkan dirinya dan tetap diam ketika Devano ikut duduk di sampingnya.
"Udah makan siang belum?" Tanya Devano masih dengan wajah datarnya
"Udah"
Mengangguk faham Devano terdiam sebentar sebelum menanyakan hal yang sangat ingin dia tanyakan sejak tadi malam.
"Kenapa kemarin pakai baju kayak gitu keluar rumah? Aku kan udah bilang pakai celana dan baju panjang terus kamu juga kenapa pakai merah-merah di bibir?" Tanya Devano tanpa jeda
"Aku sama Daddy gak kasih izin! Celana kamu terlalu pendek Vin." Kata Devano kesal
"Ya terus kenapa? Aku kan mau pakai kayak gitu sekali-sekali...."
"Pakai kalau di rumah." Potong Devano membuat Devina berdecak kesal mendengarnya
"Aku maunya pakai keluar! Lagian gak papa banyak yang pakai lebih pendek dari aku." Kata Devina
"Tetap enggak Vin! Mereka yang minta kamu pakai pakaian itu ya?" Tebak Devano membuat Devina menatapnya dengan kesal
"Bukan! Aku yang mau sendiri!" Kata Devina kesal
"Vin itu terlalu terbuka! Jangan keluar dengan pakaian seperti itu lagi." Kata Devano dengan tegas
"Terus untuk apa aku punya baju banyak?! Baju aku dilemari banyak yang kayak gitu." Kata Devina marah
"Pakai di rumah." Kata Devano lagi
Matanya mulai menajam membuat perasaan Devina semakin tidak karuan dan secara refleks berteriak.
"Aku maunya pakai keluar!"
"Lalu kamu mau orang-orang memperhatikan tubuh kamu gitu?!" Kata Devano marah
"Kalau gitu buang aja baju aku dilemari!" Balas Devina
Bukannya diam Devano malah membentaknya dan membuat mata Devina berkaca-kaca.
"VINA!"
Merasa kesal Devina langsung berdiri dan berlari keluar membuat Devano langsung mengejar sambil memanggil namanya dengan kuat.
"Vina"
Dengan cepat Devina membuka pintu kamarnya dan menutup dengan sangat kencang hingga Fahisa berseru dari bawah sana.
"Hey kenapa berisik sekali?"
Menghela nafasnya pelan Devano berjalan ke arah kamar Devina dan mengetuk pintunya hingga berkali-kali karena gadis itu menguncinya dari dalam.
"Vina buka dulu pintunya"
Tidak ada jawaban meskipun Devano mengetuknya hingga berkali-kali dan akhirnya dia memutuskan untuk pergi, memberikan sedikit waktu untuk Devina juga dirinya. Bukan hal yang baik kalau dia kembali bicara dengan keadaan marah.
Hal yang sangat tidak dia suka ketika teman-temannya mengirim pesan ke grup dan membahas tentang Devina.
Vina nambah cantik kalau kayak gitu
Biarin lah Van dia pakai baju kayak gitu nambah keliatan cantik
Jangan dikira Devano tidak tau maksud ucapannya, tapi dia semakin marah membayangkan berapa banyak pasang mata yang menatap adiknya tadi malam.
"Kenapa berisik tadi Vano?" Tanya Fahisa ketika melihat anak laki-lakinya membuka kulkas
Devano hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan membuat Fahisa menghela nafasnya pelan lalu mengajak anaknya untuk duduk.
"Dengar Vano jangan terlalu dimarahi semakin kamu marah sama Vina semakin dia merasa terkekang dan dia bisa melakukan hal yang lebih buruk lagi." Kata Fahisa
"Vina bukan orang yang kayak gitu Mom." Kata Devano membuat Fahisa tersenyum
"Iya Mommy tau, tapi kita gak pernah tau apa yang selama ini Devina pendam kan? Jangan terlalu memaksa atau marah sama Devina pelan-pelan saja." Kata Fahisa dengan lembut
"Vano gak suka kalau banyak laki-laki yang merhatiin Vina apalagi tadi malam celananya pendek banget kakinya kelihatan." Kata Devano
"Iya Mommy faham sayang, tapi jangan terlalu dimarahi apalagi kalau sampai kamu bentak nanti dia malah balik marah sama kamu." Kata Fahisa membuat Devano terdiam lalu menganggukkan kepalanya
"Iya maaf"
Tersenyum penuh arti Fahisa mengusap sayang puncak kepala anaknya.
"Sekarang biarkan Vina sendiri dulu nanti sore atau malam coba bicara lagi sama dia." Kata Fahisa
Devano hanya mengangguk faham dan berlalu pergi ke kamarnya untuk menenangkan dirinya.
Kembali pada Devina yang sekarang tengah menelungkupkan wajahnya di bantal sambil menahan isak tangisnya merasa sakit hati karena dibentak kembarannya. Kesalahannya memang terlalu besar hingga Devano membentaknya padahal pria itu tidak pernah melakukannya.
Devina tidak mau bicara pada Devano lagi!
¤¤¤
Saat makan malam Devina tidak juga keluar dari kamarnya dia mengabaikan panggilan orang-orang yang menyuruhnya untuk makan, dia tidak mau bertemu Devano. Selain itu Devina juga tidak mau bertemu dengan Daffa yang mungkin akan memarahinya juga atau membentaknya seperti Devano.
Sekitar pukul delapan Devina mendengar suara kunci diputar dan membuat dia langsung bangun dari tidurnya. Sesaat setelahnya knop pintu ditarik bersamaan dengan pintu kamarnya yang terbuka, bagaimana bisa?
Ah dia melupakan satu hal mana mungkin tidak ada kunci cadangan di rumah ini.
Melihat Devano yang berdiri sambil membawa nampan berisi makanan hati Devina menghangat, tapi dia masih marah hingga akhirnya Devina kembali berbaring dan menarik selimut sampai menutup seluruh tubuhnya. Terdengar suara helaan nafas bersamaan dengan langkah kaki yang mendekat ke arahnya.
"Meskipun kamu marah sama aku tetap aja jangan lupa makan Vin." Kata Devano dengan begitu lembut
Pria itu menaruh nampan yang ia bawa di nakas dan duduk ditepian ranjang sambil tersenyum tipis.
"Kamu gak nyaman ya aku atur-atur terus? Maaf, tapi jangan marah sama aku." Kata Devano
Masih tidak ada tanggapan Devano berniat untuk pergi dan mengatakan sesuatu lagi sebelum dia kembali ke kamarnya.
"Nanti dimakan ya Vin? Aku minta maaf, tapi aku gak niat untuk ngatur-ngatur kamu aku cuman mau jagaiin kamu"
Kembali menghela nafasnya pelan Devano rasa sekarang kembarannya benar-benar marah.
"Mungkin cara aku memang salah, maaf jangan marah lagi ya?"
Tidak ada jawaban Devano berbalik pergi dan meninggalkan Devina yang masih enggan untuk memberikan tanggapan apapun.
Setelah suara pintu ditutup terdengar Devina langsung membuka selimutnya dan duduk sambil memperhatikan makanan yang kembarannya bawa juga secarik kertas disana.
Kertas kecil berwarna merah muda yang entah didapat dari mana.
Kata-kata sederhana disana membuat Devina tersentuh.
Gak papa kalau kamu marah sama aku, tapi jangan lupa makan :)
Nanti dihabisin ya makanannya aku gak mau kamu sakit Vin.
^^^Your beloved twins,^^^
^^^Devano♡^^^
¤¤¤
Mau update kemarin, tapi belum selesai nulisnya😂
Bentar lagi aku kuliah :)