My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (95)



Devina menatap nilai yang sudah keluar dengan wajah kecewa hasilnya tidak memuaskan tentu saja itu semua karena Devina yang jarang masuk, terlalu banyak kejadian di semester pertama perkuliahan. Cukup lama Devina memandangi layar laptopnya bahkan dia tidak sadar ketika pintu kamarnya terbuka dan Daffa melangkahkan kakinya ke dalam.


Pria paruh baya itu menatapnya dengan senyuman, tapi Devina memasang wajah sedihnya lalu memeluk Daffa dengan erat membuat Daffa langsung membalas pelukannya. Ikut melirik ke layar laptop yang menampilkan dengan jelas nilai-nilai perkuliahan yang baru saja keluar Daffa mengerti alasan anaknya itu sedih.


Belum mengatakan apapun Daffa mengusap kepala anaknya itu dengan sayang hingga Devina melepaskan pelukannya dan menatapnya lagi.


"Daddy nilai Vina enggak ada yang A." Kata Devina


"Belum Devina itu kan belum keluar semua sayang masih ada tiga nilai lagi." Kata Daffa


"Daddy nilai Vina jelek semua." Kata Devina lagi


"Tidak papa sayang itu tidak jelek sayang." Kata Daffa


"Jelek Daddy gak mauu pasti nilainya Vano bagus semua." Kata Devina


"Hey gak boleh gitu ah yang penting kan Vina udah berusaha." Kata Daffa sambil mengusap kepala anaknya dengan sayang


"Daddyyy"


"Udah ah jangan cemberut gitu gak boleh." Kata Daffa


"Daddy malu gak punya anak seperti Vina?" Tanya Devina membuat Daffa menatapnya tidak suka


"Gak boleh ngomong gitu Daddy selalu bangga sama anak-anak Daddy." Kata Daffa


"Vina manja gak bisa apa-apa gak pintar juga kalau Kak Ara masih pintar dia juga punya butik sendiri." Kata Devina


"Daddy gak suka kalau Vina ngomong gitu! Daddy selalu bangga sama kalian semua, sekarang senyum dulu." Kata Daffa


Devina masih saja cemberut membuat Daffa menghela nafasnya pelan lalu mengusap kedua pipinya dengan sayang.


"Udah nangisnya kita ke toko buku mau? Vina mau beli novel lagi?" Tanya Daffa berusaha membujuk anaknya


"Enggak"


"Devina udah ah jangan cemberut itu hanya sekedar nilai sayang selagi kamu mendapatkannya dengan usaha kamu sendiri Daddy akan bangga." Kata Daffa


Devina menatap Daddy nya dengan senyuman lalu mencium pipinya membuat Daffa tertawa kecil dan mengacak gemas rambut anaknya.


"Jangan sedih lagi hm?" Kata Daffa


Devina mengangguk dengan semangat lalu meminta sesuatu pada Daddy nya.


"Em Daddy boleh gak kalau Vina minta sesuatu?" Tanya Devina


"Boleh, Vina mau apa?" Tanya Daffa sambil menatap anaknya


"Vina mau liburan sama teman-teman dan sama Vano terus Ziko juga." Kata Devina


"Boleh sayang, mau kemana?" Tanya Daffa


"Em mau ke Lombok boleh?" Tanya Devina sambil menatap dengan penuh harap


Sudah dua hari Devina membicarakan hal ini dengan teman-temannya lalu mereka memilih satu tempat dan semua setuju termasuk Devano.


"Lombok? Apa tidak terlalu jauh?" Tanya Daffa


"Em jauh ya?" Kata Devina


"Jauh sayang dulu Kak Ara juga tidak Daddy kasih izin, cari tempat lain ya?" Kata Daffa


Devina tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Daddy bolehin asal jangan terlalu jauh gitu nanti Daddy kepikiran kamu sama Vano yang jauh." Kata Daffa


"Iya Daddy nanti Vina bilang sama yang lain ya?" Kata Devina dengan senyuman


"Yaudah sekarang kita turun makan siang dulu Mommy udah selesai masak." Kata Daffa


Mengangguk patuh Devina memeluk lengan Daddy nya dengan sayang lalu mengikuti hingga mereka berdua sampai di ruang makan. Ternyata sudah ada Devano disana membuat Devina langsung melepaskan tangannya dan berlari kecil menghampiri kembarannya.


"Vanoo"


"Hm kenapa Vin?" Tanya Devano


"Habis ini kita jalan-jalan yuk." Ajak Devina


"Aku ada janji, memang kamu mau kemana?" Tanya Devano dengan penuh kelembutan


"Mau ke kedai ice cream, tapi enggak papa nanti Vina ajak Ziko aja." Kata Devina


"Iya sama Ziko aja ya? Lain kali sama aku habis ini aku mau main basket sama Alex dan yang lainnya." Kata Devano


"Iyaa"


Daffa memperhatikan interaksi kedua anaknya itu dengan senyuman. Memang berbeda Devano itu sangat pintar dia menguasai hampir semua pelajaran dan Devina dia juga pintar hanya saja Devina terlalu malas belajar, dia lebih suka membaca novel dari pada buku pelajaran.


Sebenarnya Daffa tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk mendapatkan nilai sempurna atau peringkat teratas karena menurutnya hal itu tidak terlalu penting. Selagi anaknya bisa dan tidak mengandalkan orang lain untuk mendapat nilai besar Daffa tidak masalah, dia selalu mengatakan kalau dia bangga.


'Daffa dengar jangan terlalu memaksa anak kamu biarkan mereka melakukan apa yang mereka suka selagi hal itu bukan hal yang buruk, cukup dukung dan berikan mereka semangat'


Orang tuanya pernah mengatakan hal itu dan Daffa memakainya hingga sekarang, dia tidak masalah dan tidak akan marah.


Kebahagiaan anak-anaknya merupakan hal yang terpenting.


¤¤¤


Wajah Devina berseri ketika dia melihat motor kekasihnya yang sudah ada di depan rumahnya, tadi Ziko memang bilang kalau dia akan bawa motor karena mobilnya ada di bengkel, tapi Devina tidak peduli yang penting mereka akan pergi ke kedai ice cream. Berlari kecil menghampiri kekasihnya Devina langsung mendapat cubitan pelan di pipinya dan setelahnya Ziko memakaikan helm untuknya.


Begitu selesai Devina naik ke atas motor lalu tanpa diminta memeluk Ziko dari belakang membuat kekasihnya itu tersenyum. Kalau kalian ingat sebelum berpacaran ketika Ziko mengajak Devina pergi lalu meminta dia untuk berpegangan Devina malah memegang pundaknya, tapi tanpa diminta sekarang Devina memeluknya.


Jangan ditanya Ziko bahagia sekali sekarang hingga dia melajukan motornya dengan pelan, mungkin dia akan sering bawa motor saja agar bisa dipeluk. Selama perjalanan Devina benar-benar menikmatinya sudah lama dia dan Ziko tidak bepergian menggunakan motor terakhir di awal masuk kuliah.


"Lihat apa sih?" Kekeh Ziko ketika melihat kekasihnya yang sangat fokus menoleh ke belakang


"Gak ada hehe cuman lihat aja kalau hari ini ramai." Kata Devina


"Ini akhir pekan Devina." Kata Ziko


"Heem Vina tau." Kata Devina dengan senyuman


"Kamu beneran gak pakai merah-merah di bibir lagi ya?" Kata Ziko ketika memperhatikan bibir Devina


"Iya Vina gak mau nanti Ziko cium lagi sampai Vina susah nafasnya." Keluh Devina membuat Ziko tertawa mendengarnya


"Kamu sih salah sendiri." Kata Ziko


"Ziko yang aneh biasanya gak gitu." Kata Devina membela dirinya


"Iya maaf, tapi kamu suka kan?" Kata Ziko


"Tuh kan nyebelinn." Kata Devina galak


Tertawa kecil Ziko mencubit pipi Devina dengan gemas dan tak lama setelahnya seseorang datang untuk mengantarkan pesanan. Senyuman Devina mengembang dengan sempura dia langsung memakan ice creamnya sesaat setelah pelayan itu pergi.


"Habis ini mau kemana?" Tanya Ziko


"Em gak tau." Kata Devina


"Gio sama Mona dan yang lainnya mau ke bioskop, kamu mau ikut?" Tanya Ziko


Devina mendongak lalu mengangguk dengan semangat.


"Mauuu"


"Yaudah nanti aku bilang Gio." Kata Devina


"Iyaa"


Ziko memperhatikan lagi Devina yang memakan ice creamnya dengan penuh semangat.


Ya ampun kekasihnya itu benar-benar mengemaskan.


¤¤¤


"VINAAA"


Devina tersenyum senang lalu berlari dan memeluk ketiga temannya dengan erat membuat beberapa orang yang berada di mall menatap ke arah mereka. Cukup lama beperlukan Devina menjauhkan tubuhnya lalu menatap ketiga temannya dengan senyuman.


Sangat merindukan teman sebangkunya Mona mendekat dan merangkulnya dengan sayang lalu mencubit pipi Devina dengan gemas.


"Ya ampun kangenn Vinaaaa"


Devina mengerucutkan bibirnya sebal lalu menjauhkan tangan Mona yang mencubit pipinya cukup kuat.


"Sakitt tauu"


Mona tertawa kecil ketika mendengarnya.


"Ih kangen banget lo tambah gemesin tau Vin pipinya tembem banget sekarang." Kata Mona


"Iya Vina ih tambah cubby." Kata Cessa


"Pasti dicubit Ziko terus." Kata Nayla


"Dicubit semuanya sama Vano, Daddy, Ziko terus Mona jugaaa." Kata Devina


"Makanya jangan gemesin." Kata Mona sambil tertawa


"Aduh Vina nih gak mau nyapa gue." Sindir Gio membuat Devina menatapnya


"Hali Giooo"


"Udah lama gak lihat makin cantik aja Vin." Kata Gio


"Enggak ah sama aja." Kata Devina


"Kalau gue jadi lo Ko dah gue nikahin aja lah." Kata Gio


"Memang maunya gitu." Kata Ziko


"Ish Zikoo"


"Kenapa sayang?" Tanya Ziko sambil menatap Devina dengan senyuman


"Sini Vin sekarang waktunya lo buat kita bukan buat Ziko." Kata Cessa sambil menarik Devina mendekat


Ziko hanya tersenyum saja melihat kekasihnya yang kini bersama Mona dan yang lainnya.


"Ko"


"Hm"


"Gak takut apa Vina ada yang rebut?" Tanya Gio


Ziko menatap temannya lalu tertawa kecil dan memberikan jawaban.


"Langkahin gue dulu kalau mau rebut Devina, dia udah jadi hak milik gue"


Tentu saja Ziko tidak akan membiarkan Devina direbut seseorang.


¤¤¤


Aku updateee nihh😘