
Devano mengusap kepala Nadhin dengan sayang ketika anak itu masih merengek tidak mau di tinggal padahal Devano hanya mau keluar sebentar, tapi anak itu menangis lagi hingga akhirnya Devano mengurungkan niatnya untuk pergi keluar. Sekarang dia ada di kamarnya dengan Nadhin yang duduk dipangkuannya kalau Nathan sedang bermain dengan Adara di taman belakang rumah.
Saat sedang dalam mode manja begini Nadhin memang benar-benar tidak bisa di tinggal Devano harus menemaninya agar anak itu tidak menangis. Masalahnya kalau menangis wajah Nadhin akan sangat memerah, jadi Devano takut sendiri makanya kalau Nadhin menangis dia akan menemani anak itu karena Nadhin dengan mudah tenang kalau bersamanya.
"Papa jangan pelgi cama Adhin aja di lumah." Rengek Nadhin
Devano tersenyum mendengarnya, dia mengusap pipi anak itu dengan sayang.
"Iya enggak Papa sini aja sama Nadhin." Kata Devano
Nadhin memeluknya dengan sayang membuat Devano tersenyum sambil mengusap rambut hitam anak itu.
"Nadhin kenapa? Manja banget sama Papa hari ini." Kata Devano
"Mau cama Papa." Kata Nadhin
"Iya Papa enggak kemana-mana." Kata Devano membuat Nadhin tersenyum senang
"Main sama Nathan juga mau enggak? Nathan lagi main sepeda." Kata Devano
Nadhin menatapnya dia tersenyum dan mengangguk dengan lucu membuat Devano gemas sekali melihatnya.
"Oke kita ke belakang." Kata Devano
Devano menggendong Nadhin dan membawa anak itu ke halaman belakang rumah, benar dugaannya di sana ada Nathan yang sedang bermain sepeda membuat Nadhin langsung minta untuk di turunkan.
Begitu Nadhin turun anak itu berlari kecil dia meminta Devano untuk mengeluarkan sepeda miliknya yang tentu saja langsung Devano turuti membuat anak itu tersenyum senang.
"Udahan juga nangisnya." Kata Adara ketika melihat Nadhin kini asik main sepeda
Devano tertawa pelan dia duduk di samping Adara.
"Kalau lagi manja ampun deh enggak bisa ditinggal." Kata Devano
"Tau tumben banget si Nadhin." Kata Adara
"Karena aku dari kemarin lembur terus mungkin ya?" Kata Devano
"Hm mungkin kadang aja dia makan malam di paksa dulu soalnya mau makan sama kamu." Kata Adara
"Mau gimana memang dari kemarin sibuk banget, capek juga ya Ra?" Kata Devano sambil tersenyum
"Banyak banget kerjaannya ya?" Tanya Adara
Adara menatap Devano dengan senyuman tipis di wajahnya lalu mengusap kepala pria itu dengan sayang.
"Ya banyak." Kekeh Devano
"Kamu harus banyak istirahat Van nanti kalau pas lagi enggak sibuk kamu istirahat." Kata Adara takut suaminya itu malah sakit
"Iya sayang." Kata Devano
"Aduhh Papaaaa"
Keduanya langsung mendongak begitu mendengar suara Nadhin dan ternyata anak itu jatuh membuat Devano langsung berlari menghampirinya.
"Aduh sakit enggak sayang?" Tanya Devano
Nadhin menggelengkan kepalanya pelan dia bangun dengan dibantu oleh Devano yang langsung melihat keadaannya.
Kalau jatuh Nadhin memang selalu refleks memanggil Papa nya.
"Enggak cakit Papa." Kata Nadhin
"Pelan-pelan mainnya sayang." Kata Adara
"Udah mainnya." Kata Nadhin
Tak lama Nathan berlari kecil menghampiri mereka lalu melihat kembarannya.
"Adhin cakit gak?" Tanya Nathan
"Gakk"
"Nonton kaltun aja yuk." Ajak Nathan
Keduanya pergi ke ruang tengah Nathan langsung menghidupkan televisi dan menekan remote hingga berkali-kali mencari film kartun.
Lihat mereka sedang akur, senang sekali rasanya.
"Ituu tuuu tingkel bell." Kata Nadhin heboh
Nathan akhirnya berhenti memindah dan keduanya duduk manis sambil menonton film tinkerbell.
"Ra mumpung Nadhin lagi anteng aku keluar bentar ya? Cuman ambil berkas aja." Kata Devano
Adara menatap Devano dan mengangguk singkat, dia tersenyum geli melihat Devano yang keluar dengan sangat hati-hati agar tidak terlihat anak perempuannya.
Sudah seperti pencuri yang mau kabur.
°°°°
"Aaaaa Papaaa Papaaaaa"
Nadhin menangis begitu sadar kalau dia di tinggal Devano dan sekarang anak itu melempari semua mainannya sambil memanggil Devano dengan air mata yang mengalir di pipinya. Sebenarnya Devano sudah di perjalanan pulang, tapi Nadhin terus saja menangis sambil memanggil Papa nya dan menolak setiap Adara ingin menenangkannya.
Suara tangis Nadhin begitu kuat hingga Fahisa langsung datang dan melihat cucunya itu menangis, dia bertanya pada Adara. Begitu mendengar jawaban Fahisa langsung mengerti, memang Nadhin kalau sedang manja pada Devano begini.
"Udah di jalan Ma sebenarnya, tapi Nadhin masih nangis aja." Kata Adara
"Adhinn"
Nathan memanggilnya dan Nadhin berhenti menangis sejenak.
"Jangan nangis nanti Papa malah." Kata Nathan
"Papaa mana Papaa?" Rengek Nadhin
"Iya Papa udah di jalan mau pulang." Kata Adara
"Jangan nangis dong cucu Oma cantik." Kata Fahisa
Nadhin cemberut hidungnya memerah karena menangis dan tak lama suara Devano terdengar membuat Nadhin langsung bangun.
Anak itu berlari ketika melihat Devano dan langsung melompat ke dalam pelukannya membuat Devano tertawa pelan.
"Papa nakal nakal." Kata Nadhin
"Iya maaf ini Papa belikan ice cream untuk Nathan sama Nadhin." Kata Devano
Devano menggendong Nadhin dan mendudukkannya di dekat Nathan lalu memberikan dua ice cream yang tadi dia belikan untuk mereka berdua.
"Yee esklim." Kata Nathan
Nadhin tidak senang dia malah menghampiri Devano dan memeluknya lagi.
"Eh ice creamnya enggak mau dimakan?" Tanya Devano
"Gak"
Devano tertawa dan membiarkan Nadhin kini duduk dipangkuannya sambil memeluknya lagi.
Ya ampun anak ini menggemaskan sekali kalau sedang manja.
"Mau cama Papa." Kata Nadhin lagi
Anak Papa sekali sepertinya Nadhin.
Apa-apa Devano kalau nangis yang dicari Devano.
Kesayangan Papa nya.
°°°°
Maaf banget baru update yaa☹️
Dan jangan lupa mampir ke ceritaku di aplikasi oren kalau kalian punya😁