
Kedatangan Ziko ke rumah sakit membuat keadaan Devina semakin membaik lagi, gadis itu tersenyum senang dan dia menggenggam tangan kekasihnya itu sejak kedatangannya tanpa mau melepaskan meski hanya sebentar. Melihat hal itu tentu saja Fahisa merasa senang karena keadaan anaknya mulai membaik meskipun setiap kali habis makan atau minum obat dia masih sering mengeluh sakit, tapi Devina sudah lebih baik.
Akhirnya karena ingin memberikan waktu untuk Devina dan kekasihnya Fahisa mengajak Devano keluar untuk pergi makan siang di kantin. Meskipun menolak tetap saja Devano mengalah lalu mengikuti langkah kaki Fahisa keluar dari ruangan.
Saat hanya mereka berdua di ruangan Ziko mengusap pipi Devina dengan lembut, dia cemas sekali ketika Devano bilang kalau kekasihnya masuk rumah sakit. Bahkan Ziko sempat ingin membolos kuliah kalau saja tidak ada ujian, dia sedang melewatkan satu mata kuliah sekarang.
"Ziko"
"Emm"
"Enggak papa mau manggil aja." Kata Devina membuat Ziko tersenyum ketika mendengarnya
"Kamu kenapa sampai sakit begini Vin? Aku cemas banget." Kata Ziko pelan
"Aku telat makan siang dan cuman sarapan sedikit, tapi Ziko aku senang karena sudah baikan sama Vano." Kata Devina dengan senyuman
"Aku takut banget kalau sesuatu sampai terjadi pada kamu Vin." Kata Ziko
"Kemarin perut aku sakit banget Ziko sampai pingsan." Kata Devina
"Hmm jangan sakit lagi." Kata Ziko sedih
Devina mengangguk dengan tangan yang mengusap tangan Ziko menggunakan ibu jarinya.
"Ziko sayang aku?" Tanya Devina
"Masih nanya Devina? Aku sayang banget sama kamu Vin." Kata Ziko dengan senyuman
Devina ikut tersenyum dan membawa tangan Ziko ke pipinya membuat pria itu mengusap pipinya dengan sayang.
"Vina juga sayang banget sama Ziko." Kata Devina
"Kakak tingkat itu udah gak gangguin kamu lagi kan?" Tanya Ziko
"Enggak"
"Kalau dia gangguin kamu lagi, bilang ya?" Kata Ziko yang dijawab dengan anggukan oleh kekasihnya
"Waktu itu Kak Yuna bilang dia mau rebut Ziko dari aku dan aku marah terus dorong dia sampai jatuh." Kata Devina
"Gak ada yang bisa ngerebut aku dari kamu Devina." Kata Ziko
"Dia lihat foto Ziko terus dia bilang kalau dia bakal kasih Kak Lucas, tapi aku harus kasih Ziko ke dia padahal aku gak suka Kak Lucas." Kata Devina
"Aku milik kamu Devina." Kata Ziko dengan tangan yang masih setia berada di pipi kekasihnya
"Dia mau ambil nomor Ziko dan aku marah soalnya gak boleh ada yang ngerebut Ziko dari aku." Kata Devina membuat Ziko tersenyum ketika mendengarnya
Sungguh Ziko sangat bahagia sekarang karena tau bahwa Devina sangat mencintai dia hingga tidak mau kehilangannya dan tidak membiarkan seorangpun merebuat dirinya.
"Ziko cuman punya aku"
Mata mereka saling bertatapan membuat Ziko tidak bisa menahan senyumnya lalu perlahan dia mendekatkan wajahnya dan mencium kening Devina lama.
"I'm yours Devina"
Senyuman manis Ziko begitu memabukkan dan Devina hanya bisa diam ketika Ziko membawa tangannya ke dada pria itu.
"Hati aku udah penuh sama Devina sampai gak ada sedikit pun celah untuk seseorang bisa masuk kesana." Kata Ziko
"Gak boleh ada orang lain yang masuk kesana cuman Vina aja yang boleh." Kata Devina manja
"Pacar aku mulai posesif hmm?" Kekeh Ziko sambil mencubit pelan pipi Devina
"Iya, jadi Ziko jangan buat aku cemburu." Kata Devina
Ziko tersenyum dan mengangguk singkat.
"Aku mau duduk." Kata Devina
Dengan hati-hati Ziko membantu Devina untuk duduk, tapi ketika akan menjauhkan diri Devina memeluknya dengan sebalah tangan yang tidak terinfus membuat Ziko tidak bisa menahan senyumnya.
"Kenapa hmm?" Tanya Ziko
"Mau peluk, kata Mommy aku kalau lagi sakit manja." Kata Devina
"Yaudah sini peluk." Kata Ziko sambil memeluk kekasihnya itu dengan penuh kelembutan
Devina memejamkan matanya dan tersenyum hingga sesaat setelahnya dia melepaskan pelukan membuat Ziko menjauhkan tubuhnya lalu duduk. Dipandangnya wajah Devina yang tetap terlihat cantik meski wajahnya terlihat pucat juga rambut yang sedikit berantakan.
Entah kenapa Ziko selalu berhasil dibuat tergila-gila oleh Devina hingga dia tidak pernah sekalipun memikirkan gadis lain selain kekasihnya.
"Vin"
"Hmm"
"Cepet sembuh ya?" Kata Ziko
Devina menganggukkan kepalanya dengan semangat.
"Tadi aku minta pulang, tapi malah kena marah." Kata Devina membuat Ziko tertawa kecil ketika mendengarnya
"Kan kamu masih sakit Vina." Kata Ziko
"Aku enggak betah dan enggak bisa tidur nyenyak." Keluh Devina
"Tapi, kalau pulang keadaan kamu bisa makin buruk nantinya dan malah bisa dirawat lebih lama lagi." Kata Ziko
"Iya tadi Daddy bilang gitu makanya aku nurut terus aku juga takut kalau Daddy malah marah sama Vano." Kata Devina
"Makanya nurut biar kamu cepet sembuh dan bisa pulang ke rumah." Kata Ziko
"Iyaa Zikoo"
"Nanti ada yang lihat Ziko ihh malu." Kata Devina
"Biarin nanti aku tinggal bilang kalau ini pacar aku." Kata Ziko yang kembali mencium tangan Devina
"Aku belum mandi tau." Kata Devina
"Gak ada masalah." Kata Ziko
Devina tersenyum manis, dia tidak bisa membayangkan kalau mereka berpisah nanti.
Devina tidak mau dia sudah sangat menyayangi Ziko dengan sepenuh hatinya.
"Zikoo"
"Iya Vina?"
Ziko menatap wajah kekasihnya yang kini tengah tersenyum padanya, senyuman yang selalu dia suka.
"Karena Ziko udah buat Vina jatuh cinta, jadi Ziko gak boleh pergi ninggalin Vina dan harus sama Vina terus." Kata Devina
Senyum Ziko mengembang ketika mendengarnya, siapa juga yang mau pergi meninggalkan kekasihnya. Melirik ke arah pintu sebentar Ziko berdiri dan mencium sekilas bibir pucat Devina lalu mengatakan hal yang membuat senyum kekasihnya mengembang dengan sempurna, jangan lupakan wajah memerahnya juga.
"Aku gak akan pernah pergi sayang"
Siapa yang mau meninggalkan Devina?
Bahkan bagi Ziko tidak akan ada yang bisa menggantikan Devina di hatinya.
¤¤¤
"Siapa sih Vin yang berani ngancem lo kayak gitu?"
Sekitar pukul empat sore Adara datang bersama dengan Devano dan dia langsung bertanya tentang orang yang sudah membuat Devina sampai bertengkar dengan Devano. Kemarin dia memang di telpon oleh Devano yang menceritakan masalahnya dengan Devina dan tentu saja Adara merasa kesal, dasar tidak tau diri.
Adara tidak bisa melihat Devano yang merasa sedih bahkan kemarin malam dia bercerita dengan suara pelan sambul mengatakan bahwa dia menyesal sudah membentak kembarannya.
"Udah kok dia udah minta maaf." Kata Devina dengan senyuman
"Nyebelin banget itu cewek! Harusnya lo bilang gue Vin karena lo tau gue kayak mana kan? Gue ini ahli dalam membuat orang menyesal nih tangan ini udah banyak mukul orang." Kata Adara sambil menunjukkan kepalan tangannya
Devina tertawa sedangkan Devano justru berdecak kesal dan menurunkan kepalan tangan kekasihnya.
"Diem sih Van ih orang lagi ngomong sama Vina juga!" Kata Adara kesal
"Yaudah tangannya gak usah gitu." Kata Devano
Adara hanya mengabaikannya dan kembali mengajak Devina bicara.
"Kalau dia macem-macem lagi lo kasih tau gue ya Vin? Harus biar gue kasih pelajaran dia kalau perlu sama cowoknya juga! Siapa namanya? Iya itu yang ganjen banget padahal udah punya pacar biar gue pukul sekalian." Kata Adara
Devina tersenyum mendengarnya, dia tidak menyangka kalau Adara juga akan perhatian padanya.
"Iya Daraa nanti aku bilang ke kamu kalau mereka gangguin lagi." Kata Devina dengan senyuman
"Iya harus Vin." Kata Adara
Devano menggelengkan kepalanya pelan, dia rasa itu tidak perlu karena Adara masih tidak bisa mengendalikan emosinya.
Berbeda dengan Devano yang tidak suka main tangan dan lebih suka mengancam, kekasihnya itu lebih suka main tangan.
Adara bilang, kelamaan pukul aja langsung biar kapok.
Beruntung Adara sudah jarang berkelahi lagi karena Devano akan memarahinya nanti dan lagi Adara selalu bersama Devano sekarang.
Devina diam sambil memperhatikan keduanya bergantian kalau dilihat-lihat mereka berdua sangat cocok dan mendadak Devina teringat satu hal.
"Dara Dara aku mau nanya boleh?" Tanya Devina
"Tanya aja Vin." Kata Adara dengan senyuman
Devina menggigit bibir bawahnya pelan lalu menanyakan hal yang membuat kedua orang itu diam dengan mata membulat sempurna, Devina jadi ingin tertawa.
"Dara sama Vano perah ciuman kan? Disini?" Kata Devina sambil menunjuk bibirnya
"Vinaa, gak usah dijawab Dar." Kata Devano sambil menatap kembarannya dengan sebal
"Ihh kan nanya! Pernah ya Dara? Jangan-jangan sering ya?" Tanya Devina lagi
Wajah Adara mulai memerah dia berdeham pelan sambil berusaha memasang wajah biasa saja, tapi malah semakin terlihat kalau dia sedang salah tingkah.
"Pernah kann?! Tuh kan merah mukanya." Kata Devina sambil tertawa
"Vina apaan sih?" Tanya Devano sebal
"Ihh pernah haha aku bener kan? Iya kannn?" Kata Devina dengan penuh semangat
Devina tertawa sambil menatap keduanya yang terlihat salah tingkah.
"Ishh Vano bilangin Daddy ya?" Kata Devina masih dengan tawanya
Untuk sesaat Devano fokus pada tawa kembarannya yang terlihat bahagia, tapi sesaat setelahnya dia berdecak kesal dan mencubit pipi Devina dengan gemas.
"Jahil banget sihh"
Devina mengerucutkan bibirnya sebal dan memukul lengan Devano pelan.
"Kan aku lagi sakit kok Vano jahat?"
¤¤¤
Jail banget sihh Vina kamu nihh😂