My Possessive Twins

My Possessive Twins
91 : Anak Kesayangan



"Ihh balikinnn"


Devina berjinjit dan sesekali melompat untuk mengambil ponselnya yang ada di tangan sang kekasih, pria itu mengangkat ponselnya tinggi-tinggi hingga Devina tidak bisa menjangkaunya. Berkali-kali Devina berdecak kesal karena tak kunjung berhasil mendapatkan ponselnya lalu dia memukul lengan Ziko dengan kuat sangking kesalnya.


Tawa Ziko terdengar kala melihat kekasihnya menghentakkan kakinya dan menatap dengan sangat tajam, tapi wajahnya malah terlihat mengemaskan. Jangan salahkan Ziko karena ini salah Devina yang mengabaikannya dengan permainan yang gadis itu mainkan.


Selalu begitu kalau Devina bermain game dia pasti diabaikan dan rasanya menyebalkan. Padahal istirahat cuman sebentar dan harusnya mereka habiskan waktu untuk berdua, tapi Devina malah mengabaikannya.


"Ziko nyebelinn!" Seru Devina kesal


"Makanya yang cuekin aku." Kata Ziko tidak mau kalah


"Ihh balikinn." Rengek Devina


Mereka jadi bahan tontonan orang-orang di sekitar, tapi Devina tidak peduli karena dia sangat kesal.


"Aku hapus aja game nya." Kata Ziko


"Jangannn ishh sini balikinn." Kata Devina sambil berusaha mengambil ponselnya


"Hapus aja." Kata Ziko


Devina masih berusaha mengambil ponselnya, tapi tidak berhasil juga dan ketika melihat kembarannya yang baru saja keluar kelas dia memanggil Devano dengan nada suara manja.


"Vanooo"


Menoleh Devano menatap kembarannya dengan alis bertaut dan berjalan mendekat.


"Hp aku di ambilll." Kata Devina sambil menunjuk Ziko yang sama sekali tidak merasa bersalah


"Ya ambil lagi." Kata Devano membuat Devina berdecak kesal dan Ziko yang tertawa


"Gak bisa susah." Kata Devina


Menghela nafasnya pelan Devano meminta ponsel kembarannya pada Ziko dan pria itu malah semakin memprovokasi.


"Mau hapus game Van nih dia dari tadi main game gak mau belajar." Kata Ziko


"Enggak bohong." Kata Devina


"Yaudah hapus dulu terus balikin." Kata Devano


Devina berdecak kesal ketika melihat kekasihnya yang tersenyum penuh kemenangan.


Menghentakkan kakinya kesal Devina pergi memasuki kelas dan meninggalkan mereka berdua juga tidak peduli lagi dengan ponselnya. Padahal dia kan hanya bermain game masalah belajar sudah semalaman dia belajar, masa di sekolah juga harus belajar.


"Ehh kenapa nih Vina manyun?" Tanya Gio sambil mendudukkan dirinya disamping gadis itu


"Temen kamu tuh!" Kata Devina kesal


"Temen gue? Siapa?" Tanya Gio bingung


"Ziko lah siapa lagi!" Kata Devina sebal


Gio tertawa dan melihat keluar dimana temannya sedang mengobrol bersama Devano di luar kelas, apa salahnya?


"Kenapa Ziko?" Tanya Gio


"Dia tuh jahil banget! Game aku masa di hapus." Kata Devina


"Hah?"


Awalnya Gio terlihat bingung, tapi setelahnya tertawa ketika baru sadar apa yang dimaksud Devina. Memang gadis itu suka bermain game candy crush bahkan kalau sudah main sampai lupa waktu.


Meskipun hanya sesekali, tapi Devina sering kali bermain game ketika sedang bersama Ziko dan membuat pria itu menggerutu karena diabaikan.


"Tuh kan kamu juga sama aja!" Ketus Devina sambil memukul lengan Gio kuat


"Awhh sakit Vin." Ringis Gio


Tadinya Devina biasa saja, tapi melihat Gio yang terlihat kesakitan dia jadi merasa bersalah.


Apa pukulannya terlalu kuat?


"Ihh Gio maaf." Kata Devina


Refleks tangannya menyentuh lengan Gio yang dia pukul dan bersamaan dengan itu Ziko masuk ke dalam kelas sambil menatap keduanya dengan tidak suka, tapi Gio malah menyeringai.


"Sakit tau lo mah gebuknya pakai tenaga." Kata Gio


Belum sempat menjawab Devina dibuat terkejut ketika Ziko datang dan menarik tangannya yang menyentuh Gio.


"Ishh ngapain kamu kesini?!" Tanya Devina galak


"Sukurin Devina males sama lo." Kata Gio


"Ya ampun ngambek nih aku balikin hp nya." Kata Ziko sambil menyerahkan ponselnya


Devina mengambilnya tanpa banyak bicara lalu memeriksa apa pria itu benar-benar menghapus game di ponselnya atau tidak. Ternyata tidak game kesayangannya masih ada disana, Devina selalu memainkannya kalau sedang suntuk dan levelya sudah sangat jauh.


"Gak jadi aku hapus takut kamu marah." Kata Ziko


"Sekarang juga marah." Kata Devina membuat Ziko tersenyum mendengarnya


Mudah kok baikan dengan Devina.


"Awas Yo gue mau duduk." Kata Ziko sambil mengusir Gio yang duduk disamping kekasihnya


Gio baru akan berdiri, tapi Devina menahannya dan meminta pria itu untuk duduk disana, dia masih kesal dengan kekasihnya.


Seolah mendapat kesempatan untuk membuat Ziko kesal Gio tersenyum penuh kemenangan dan bersandar pada kursi.


"Vin"


"Apa? Sana kamu balik ke kelas." Kata Devina sebal


"Ihh ngambek." Kata Ziko sambil mencubit pipi kekasihnya


"Apa sih?! Aku lagi marah ya?!" Kata Devina dengan mata melotot


Melihat hal itu Ziko tertawa dan menarik kursi lalu menopang dagunya sambil menatap Devina dengan senyuman.


Kalau sudah begini tanpa diminta Gio pergi dengan sendirinya, tentu saja memang siapa yang mau jadi penonton kemesraan orang?


Gio sih ogah!


"Sini lihat aku coba." Kata Ziko


"Malas"


"Gemes banget sh Vin kalau lagi ngambek." Kata Ziko


Devina tidak menanggapinya, dia kesal dan sangat kesal.


"Nanti kita jalan-jalan mau gak?" Tanya Ziko


Perlahan wajah kesal Devina hilang, tapi dia belum memberikan tanggapan membuat Ziko tertawa melihatnya.


"Kamu boleh minta apapun deh." Kata Ziko


"Bener ya?" Kata Devina dengan wajah berbinar


Kesalnya hilang begitu saja.


"Hmm kamu mau apa memang?" Tanya Ziko


"Mau makan bakso di tempat yang biasanya itu, mau kan?" Kata Devina


"Oke nanti pulang sekolah." Kata Ziko membuat Devina tersenyum senang


"Kamu gak balik ke kelas?" Tanya Devina


"Belum bel." Kata Ziko santai


Dia meletakkan kembali kursi yang tadi ditarik lalu berputar dan duduk disamping Devina.


Teman-temannya pergi ke kantin karena mereka tidak sarapan tadi pagi kalau Devina malas soalnya istirahatnya cuman sebentar.


"Kamu tadi bisa gak ulangannya?" Tanya Devina


"Hmm lumayan"


"Bukan, tapi lumayan banyak yang ngasal." Kata Ziko


Devina berdecak kesal dan memukul lengan kekasihnya pelan.


"Makanya belajar"


"Udah"


"Belajar apaa?" Tanya Devina


"Belajar mencintai kamu." Kata Ziko


Devina mengerutkan dahinya bingung lalu tertawa ketika mendengar perkataan gombal kekasihnya.


"Apasih kamu ini." Kata Devina


"Malah diketawaiin." Kata Ziko


"Habisnya lucu masa bilang gitu." Kata Devina


"Vin mau nanya." Kata Ziko


Devina mendongak dan menatapnya dengan alis bertaut.


"Kata Mona kamu sempet daftar beasiswa di luar negeri ya? Katanya kamu juga udah lolos sampai tahap tiga, tapi kenapa gak jadi Vin?" Tanya Ziko


"Memang kamu mau jauh dari aku?" Tanya Devina yang dijawab dengan gelengan oleh Ziko


"Enggak, tapi aku juga gak bisa nahan kamu kalau kamu memang mau." Kata Ziko


"Hmm aku gak lanjutin karena kecelakaan waktu itu dan aku fikir kalau aku gak bakal bisa jauh dari kalian semua, selain itu waktu tesnya dilakukan aku masih sakit." Kata Devina


Ziko tersenyum hatinya merasa begitu lega karena sungguh Ziko tidak akan sanggup kalau harus berhubungan jarak jauh.


Mana bisa dia sehari tanpa melihat wajah kekasihnya?


Vidio call tentu saja tidak akan cukup untuk mengobati rindu.


¤¤¤


Warung bakso yang letaknya di persimpangan jalan dekat gang masuk sekolah merupakan tempat favorit Devina, dia pertama kali kesini bersama Ziko lalu setelahnya dia sering mengajak Devano atau teman-temannya juga. Harganya cukup terjangkau di kantung anak sekolahan dan lagi rasanya sangat memuaskan, pokoknya enak deh.


Seperti janji yang sudah Ziko buat sekarang mereka berdua sudah berada di warung bakso dan sedang menunggu pesanan. Bahkan sang penjual sampai hafal dengan Devina sangking seringnya gadis itu membeli, entah makan disana atau memesan untuk dibawa pulang.


"Besok ulangan Matematika aku takutt." Kata Devina


"Kenapa takut? Kan cuman soal doang isi aja sebisanya." Kata Ziko


"Kalau gak ada yang bisa?" Tanya Devina membuat Ziko tertawa mendengarnya


"Ya asal aja dan berdoa supaya beruntung." Kata Ziko


"Dari dulu aku jawab asal, tapi gak pernah beruntung dapat sial terus nilainya merah." Kata Devina


"Yang penting udah berusaha Vin jangan difikirin nanti malah pusing sendiri." Kata Ziko


Devina bergumam pelan dan menganggukkan kepalanya.


Ada cukup banyak pembeli dan beruntung tempatnya luas hingga tidak terasa panas. Memainkan kakinya yang ada di bawah meja Devina tersenyum jahil lalu menginjak kaki Ziko yang ada di dekatnya.


Menatap kekasihnya dengan alis bertaut Devina hanya menggelengkan kepalanya, tapi melakukan hal yang sama hingga berkali-kali.


"Ngapain sih Vin?" Kekeh Ziko


"Hehe bosann"


Tertawa kecil Ziko mencubit pipi gadis itu dengan gemas lalu mengambil ponsel Devina yang ada di meja.


"Sejak kapan Vin layarnya pecah?" Tanya Ziko


"Hmm udah tiga hari kayaknya mau benerin, tapi malas." Kata Devina


"Tapi, masih bisa kan?" Tanys Ziko


"Masih kok"


Mengembalikan ponsel itu di meja tak lama setelahnya pesanan mereka datang membuat wajah Devina berbinar senang.


Baru akan mengambil sambal Ziko langsung menahan tangan Devina dan menggelengkan kepalanya dengan wajah galak.


"Noo Devinaa"


Menghela nafasnya pelan Devina meletakkan lagi, dia tidak mau dimarah jadi menurut saja.


Ziko menggelengkan kepalanya pelan pantas saja Devano suka marah, lihat saja Devina itu suka ngeyel dan semaunya.


Kadang gadis itu tidak memikirka akibat kedepannya.


Devina sama seperti Sahara tidak bisa menyentuh makanan pedas sama sekali.


Devina sama seperti Sahara juga suka ngeyel dan melakukan apa yang dilarang.


Beruntung mereka berdua anak kesayangan.


¤¤¤


Ada salah satu ruangan di rumah besar Daffa yang berisikan seluruh mainan anak-anaknya ketika masih kecil dulu, tidak ada satupun yang dibuang atau hilang Daffa benar-benar menyimpannya. Selepas makan malam dia masuk ke dalam ruangan itu dan melihat barbie serta boneka yang tertata rapi di lemari kaca lalu mobil serta robot-robotan milik Devano yang masih terlihat baru serta tumpukan buku milik anaknya.


Setiap kali rindu dengan Sahara yang kini sudah menikah Daffa akan pergi kesini dan ketika dia merasa kalau rumah begitu sepi ketika anak-anaknya sekolah dia juga akan pergi kesini. Hatinya menghangat ketika mengingat semua momen kebersamaan mereka dan terkadang Daffa ingin kembali ke momen tersebut.


"Daddyy"


Suara itu membuat Daffa menoleh dan melihat Devina yang tersenyum lalu berlari kecil ke arahnya. Tawa kecil Daffa terdengar kala anaknya itu memeluknya dengan cukup erat.


"Daddy kenapa disini? Mommy mana?" Tanya Devina


"Hmm hanya mau melihat saja kalau Mommy kamu masih di dapur." Kata Daffa


Devina mengangguk faham, dia suka ruangin ini sama seperti Daddy nya karena semua kenangan mereka ada disini.


"Daddy kenapa simpan semuanya?" Tanya Devina penasaran


"Hm tidak papa sayang hanya ingin saja." Kata Daffa


"Daddy sayang sekali ya sama kamii?" Tanya Devina


Daffa tersenyum dan merangkul anaknya dengan sayang.


"Tidak perlu ditanyakan Devina." Kata Daffa


"Emm Daddy boleh Vina minta sesuatu?" Tanya Devina


"Apapun sayang." Kata Daffa


"Temenin Vinaa sampai tidur yaa?" Kata Devina


Daffa tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu mereka berdua pergi ke kamar Devina. Sambil berbaring Devina memiringkan tubuhnya membuat Daffa tersenyum sambil mengusap pipi anaknya.


Devina ini mirip sekali dengan Sahara manjanya dan Daffa suka anak yang manja.


Apalagi kalau kedua anaknya sudah merajuk, dia suka karena mereka terlihat menggemaskan.


"Vina mau tidur besok ujian Matematika." Kata Devina


"Kan sudah belajar sama Vano." Kata Daffa


"Emm tapi, masih susah." Kata Devina membuat Daffa tersenyum mendengarnya


"Tidak masalah Devina yang penting kamu sudah berusaha." Kata Daffa


Devina mengangguk dan mulai memejamkan matanya membuat Daffa tersenyum sambil terus mengusap pipinya.


Tak butuh waktu lama anaknya itu mulai terlelap dan setelah memastikan Devina tertidur Daffa mencium keningnya dengan lembut.


"Mimpi indah Devina"


¤¤¤


Hari ini satu part aja yaaa😉 Baru beres kuliah nihhh😂