
Friendzone
Sebuah novel yang diberikan oleh Ziko menceritakan tentang sepasang sahabat, seperti mereka yang sangat dekat satu sama lain hingga banyak yang mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih. Dalam novel itu mereka juga satu sekolah, tapi berbeda kelas dan mereka selalu menghabiskan waktu berdua sampai akhirnya salah satu dari mereka jatuh cinta.
Seiring berjalanannya waktu ternyata sang pria menyimpan rasa dengan sahabat baiknya, tapi dia enggan untuk berkata jujur karena takut merusak persahabatan mereka dan membuat gadisnya pergi menjauh. Bersikap seolah mendukung sang pria menyimpan rasa sakit hati setiap melihat gadisnya dekat dan menghabiskan waktu bersama pria lain, tapi dia tidak mau jujur.
Singkat cerita dia berkata jujur dan membuat hubungannya dengan sang gadis sedikit merenggang, tapi seiring berjalanannya waktu mereka kembali bersama dengan rasa yang mulai sama. Perasaan pada teman satu kelas yang sebelumnya dirasakan perlahan berubah dan dia mulai jatuh cinta pada pria yang selalu ada disisinya.
Pada akhirnya mereka menyatakan cinta dan berakhir bersama sebagai sepasang kekasih, bahagia sekali.
Setelah membaca novel itu Devina sering melamun, dia mengingat perkataan Ziko yang mengatakan bahwa pria itu berharap kisah mereka akan berakhir sama seperti novel yang tadi dia selesaikan.
Apa itu artinya Ziko menyukai Devina?
Jujur saja Devina tidak suka dengan cara penyampaian Ziko yang terlalu berbelit, kenapa dia tidak langsung jujur saja?
Devina bukan wanita cepat tanggap yang bisa dengan mudah memahami kode yang diberikan, dia itu lemot kalau kata teman-temannya.
Terkadang Devina baru memahami pembicaraan teman-temannya kalau mereka sudah membahasnya hingga dua kali.
Entahlah Devina tidak mengerti kalau Ziko tidak langsung bicara padanya, tapi memikirkan kalau Ziko menyukainya dia sangat bahagia.
"Ngelamun aja"
Sebuah suara membuat Devina mendongak dan tersenyum ketika melihat Alex datang menghampirinya lalu duduk tepat disampingnya. Saat ini dia sedang duduk di depan kelas sendirian, teman-temannya belum pada datang termasuk Ziko mungkin karena masih terlalu pagi.
Semua karena Devano yang mengajaknya berangkat ke sekolah begitu cepat hingga ketika sampai di kelas masih sangat sepi.
"Tumben kamu udah datang?" Tanya Devina
"Tumben ya? Lagi semangat nih Vin makanya datang pagi." Kata Alex sambil tertawa kecil
"Vano kemana?" Tanya Devina
"Kantin sama Adyra sekarang dia kemana-mana sama Adyra, calon bucin." Kata Alex membuat Devina tertawa ketika mendengarnya
"Kamu gak ikut ke kantin?" Tanya Devina
"Dan jadi obat nyamuk? Malas banget Vin." Kata Alex
Tertawa kecil Devina menatap Alex sebentar lalu kembali mengalihkan pandangannya ke depan, dulu dia sangat berharap bisa menghabiskan waktu dengan Alex seperti sekarang.
"Teman kamu belum pada datang?" Tanya Alex
Devina menggelengkan kepalanya dengan wajah cemberut.
"Belum, semua gara-gara Vano ngajak berangkatnya buru-buru banget." Keluh Devina
"Dia kan gak sabar mau ketemu gebetannya." Kekeh Alex
Devina mengangguk setuju masih dengan wajah cemberutnya membuat Alex merasa gemas melihatnya.
"Jangan cemberut gitu Vin, lucu tau." Kata Alex
"Ihh kesel tau aku gak ada teman di kelas karena terlalu pagi berangkatnya." Kata Devina kesal
"Ada aku kan?" Kata Alex membuat Devina terdiam dan menatap Alex yang sedang tersenyum ke arahnya
"Iya juga ya." Kata Devina yang hanya menanggapinya dengan senyuman lebar
"Ke kantin juga mau Vin?" Tanya Alex
"Enggak mau." Kata Devina sambil menggelengkan kepalanya pelan
"Ke rooftop aja yuk mumpung masuknya masih lama." Kata Alex membuat Devina tersenyum dan mengangguk singkat
Terlalu cepat gerakan tangan Alex yang menggenggam tangannya hingga membuat Devina tidak bisa menghindar dan hanya diam sambil mengikuti langkah kaki Alex.
Saat sampai di rooftop senyum Devina mengembang lebar dan dia langsung mendudukkan dirinya disana bersamaan dengan Alex yang ikut duduk disampingnya. Pandangan mata Devina lurus ke depan dia menghela nafasnya panjang menikmati cuaca pagi hari yang masih sangat segar apalagi dengan terpaan angin yang mengenai wajahnya.
Di tempatnya Alex menatap Devina dengan sebuah senyuman, dia suka sekali menatap wajah manis Devina dari samping.
Kemarin ketika menjenguk Devina dia sangat tidak suka melihat ada Ziko juga disana dan Alex semakin tau kalah sekarang dia sudah sangat tertinggal jauh di belakang.
Semakin hari Ziko semakin melangkah maju.
Tapi, selagi pria itu belum menyatakan perasaannya Alex masih memiliki kesempatan kan?
Mungkin akan lebih baik kalau dia segera menyatakan perasaannya sebelum Ziko melakukannya lebih dulu.
"Vina"
"Iya?"
"Nanti malam mau jalan gak?" Tanya Alex sambil menatap gadis disampingnya
Devina menoleh dan menatap Alex dengan bingung.
"Memang mau kemana?" Tanya Devina
"Makan malam sekalian jalan-jalan." Kata Alex
"Emm"
Devina bergumam pelan dan belum menjawab ajakan Alex membuat pria itu tersenyum lalu kembali bicara.
"Nanti aku izin deh sama orang tua kamu dan Devano." Kata Alex
Melihat Alex yang menatapnya penuh harap Devina mengangguk singkat membuat pria itu tersenyum senang mendengarnya.
"Minggu ini aku tanding lagi, datang ya Vin?" Pinta Alex
Devina kembali menganggukkan kepalanya tanpa dia minta Devina pasti datang untuk melihat kembarannya.
"Alex"
"Kenapa Vin?" Tanya Alex sambil menatap Devina dengan penasaran
Terdiam sesaat Devina terlihat ragu untuk bicara, dia mau bertanya sesuatu, tapi ada rasa ragu untuk menanyakannya.
"Kenapa? Katakan saja Vin." Kata Alex dengan senyum manisnya
"Enggak jadi deh." Kata Devina
"Kenapa sih Vin? Kok gak jadi?" Tanya Alex semakin penasaran
Devina tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Kamu mau nanya apa sih? Aku jadi penasaran tau." Kata Alex
Sedikit salah tingkah karena selalu ditatap Devina akhirnya mengatakan apa yang mau dia tanyakan pada pria dihadapannya.
"Mau tanya, kenapa kamu tiba-tiba ngajakin aku jalan?" Tanya Devina
"Aku sering padahal ngajak kamu jalan, tapi kamu gak bisa terus." Kata Alex sambil tertawa kecil
Merasa bersalah karena sering menolak ajakan Alex senyum Devina memudar. Sebenarnya bukan menolak, tapi Alex mengajaknya setiap dia sudah ada janji dengan Ziko atau ketika dia sedang malas pergi keluar.
"Ihh jangan nanti berantakan." Keluh Devina dengan bibir mengerucut sebal
Tersenyum senang tangan Alex terulur untuk membantu Devina merapihkan rambutnya dan membuat dia tersentak hingga menjauhkan sedikit wajahnya.
"Cantik banget sih Vin." Kata Alex
Mengalihkan pandangannya Devina merasa jantungnya berdetak dengan sangat cepat hingga akhirnya suara bel masuk berbunyi dan membuat Devina langsung berdiri lalu berlari kecil keluar dari rooftop.
"Udah masuk"
Tersenyum penuh arti Alex segera menyusul Devina dan berjalan disampingnya.
Setidaknya ada satu hal yang Alex yakini Devina masih menyimpan rasa untuknya.
Meskipun tidak sebesar dulu.
¤¤¤
Melihat gadisnya bersama pria lain membuat mood Ziko mendadak hilang seketika apalagi ketika melihat mereka jalan berdampingan sambil tertawa, entah karena membicarakan apa, tapi yang jelas Ziko tidak suka melihatnya. Padahal baru kemarin dia merasa senang karena sudah berbaikan dengan Devina, tapi sekarang mood nya kembali hilang melihat kedekatan Devina dengan Alex.
Memang benar kata Mona dia harus cepat-cepat menyatakan perasaannya setidaknya dia harus mencoba kan?
Ya, katakan saja Ziko pengecut karena tidak mau memulai atau mencoba hanya saja dia memang setakut itu untuk kehilangan Devina. Baru dicuekin seminggu saja dia sudah tidak tahan apalagi kalau sampai berbulan-bulan.
Ziko sangat takut kalau Devina tidak punya perasaan padanya lalu ketika dia menyatakan perasaannya Devina menjadi tidak nyaman dan menjauh darinya.
Hanya perkiraan tak berarti yang tetap saja membuatnya terus berfikir untuk menyatakan cinta.
'Kalau dia gak suka sama lo ngapain dia marah ngeliat lo jalan sama cewek? Gue yakin sangat yakin kalau perlahan perasaan Devina untuk Alex pasti mulai hilang dan lo harusnya semakin bertindak untuk bener-bener hilangin nama itu dari hati Devina'
Benarkah?
Semua perkataan Mona membuat Ziko terus berfikir selama pelajaran berlangsung dan dia memutuskan untuk mengatakan semua perasaannya pada Devina secepat mungkin.
Devina
Ziko menarik kata-katanya yang mengatakan bahwa dia rela melihat Devina bahagia bersama Alex karena dia tidak bisa.
Ziko akan membuat Devina menjadi meiliknya.
Sebagai seorang lelaki harusnya dia memiliki keberanian itu kan?
Berjuang untuk wanita yang dia cintai dan bukan pasrah jika wanitanya jatuh kepelukan pria lain.
"Zikoo ayo ke kantinnn"
Suara yang sangat dia kenali membuat Ziko mendongak dan menatap Devina yang sedang tersenyum lebar ke arahnya.
Ikut tersenyum Ziko segera berdiri lalu merangkul Devina dan mengajaknya untuk pergi ke kantin bersama.
Di belakang mereka Mona, Cessa, dan Nayla terus menggerutu melihat kedua orang dihadapannya. Mereka semua, terutama Mona sangat gemas dengan tingkah Ziko yang sama sekali tidak mau berjuang untuk mendapatkan Devina padahal mereka sangat-sangat mendukung jika Ziko dan Devina menjadi sepasang kekasih.
"Vin mauaan aja lo di rangkul sama buaya darat." Kata Mona membuat Devina menoleh lalu tertawa mendengarnya
"Heh siapa yang lo bilang buaya darat?" Tanya Ziko
"Lo lah." Kata Nayla
"Gak usah dengerin Vin." Kata Ziko
"Udah denger tau." Kekeh Devina
"Jauhin aja lah itu si Ziko kayak kemarin Vin." Kata Cessa membuat Ziko menoleh dan menatapnya dengan tajam
"Rusuh ya kalian! Makanya cari cowok dong biar gak gangguin orang." Kata Ziko
Devina tertawa kecil ketika mendengarnya, tapi tawanya menghilang ketika telinganya mendengar sebuah celetukan yang membuat teman-temannya jugua ikut berhenti melangkah.
"Murahan banget sih sana sini mau"
Nafas Devina tercekat ketika mendengarnya dan saat Ziko dengan rahang mengerasnya ingin menghampiri orang itu Devina langsung menahannya.
Dia tidak mau membuat keributan, tapi sayangnya Devina tidak terlalu cepat untuk menghalangi Mona yang langsung menghampiri orang itu dan mendorong bahunya kuat.
Merasa kesal dengan perkataannya yang menghina Devina.
"Sampah banget tau gak mulut lo? Jangan asal ngomong deh mending perbaikin dulu diri sendiri sebelum komentarin orang." Kata Mona marah
"Kenapa? Gue juga gak ada ngomong yang salah, memang bener kan? Tadi pagi dia sama Alex sekarang sama Ziko ada yang salah sama ucapan gue?" Tanya siswi dengan name tag bertuliskan Angel
"Salah! Karena lo sok tau!" Kata Nayla yang ikut mendekat
"Mona Nayla udah gak enak nanti diliatin orang." Kata Devina sambil menarik lengan kedua teman baiknya itu agar menjauh karena sudah ada banyak orang yang melihat ke arah mereka dengan penasaran
"Kenapa gak enak? Biarin aja orang-orang tau kalau lo memang murahan." Kata Angel lagi
Mona benar-benar marah mendengarnya, tapi Devina kembali menahan lengannya lalu menggelengkan kepalanya pelan.
Dia tersenyum dan maju ke depan menghampiri orang yang tadi menghinanya.
"Aku gak mau nanggepin apapun karena yang kamu bilang itu gak bener sama sekali, buat apa aku buang-buang tenaga untuk perkataan gak masuk akal kamu?" Kata Devina sambil tersenyum
Setelah mengatakan hal itu Angel terdiam dan Devina langsung mengajak yang lainnya untuk kembali pergi ke kantin.
Perkataan itu memang melukainya, tapi untuk apa dia marah kan?
"Vin"
"Gak papa, kenapa sih? Aku gak ngerasa kok." Kata Devina ketika Cessa memanggilnya dan menatap dia dengan cemas
"Jangan dengerin ya Vin?" Kata Ziko sambil tersenyum menenangkan
Devina tertawa kecil lalu menganggukkan kepalanya.
"Siapa juga yang mau dengerin perkataan gak masuk akal kayak gitu?"
Mereka tidak tau saja kalau Devina sering mendapatkan pesan yang bahkan kata-katanya lebih buruk dari yang tadi, tapi dia tidak pernah mengatakannya pada siapapun.
Sampai saat ini yang Devina lakukan hanya membacanya lalu memblokir nomornya.
Selesai
Devano pernah bilang 'Mereka gak tau kita Vin makanya mereka bisa dengan mudah berkomentar, sok tau dan kita gak perlu nanggepin orang-orang sok tau kayak mereka kan?'
Senyum manis Devina kembali mengembang dan dia merangkul tangan Ziko lalu mengajaknya pergi untuk memesan mie ayam kesukaannya.
Seolah tidak terjadi apapun.
"Ziko ayo beli mie ayamm"
Seperti itulah Devina selalu ingin tersenyum di depan orang lain.
¤¤¤