My Possessive Twins

My Possessive Twins
100 : Panik!



Ciuman pertama


Hari ini Devina mendapatkan ciuman pertamanya dan sampai sekarang dia jadi merasa malu bahkan wajahnya masih terasa panas, pasti memerah. Sejak tadi Ziko juga terus menatapnya dengan senyuman, tapi Devina tidak berani menatap tatapan mata itu dia ingin kabur saja rasanya.


Seandaiya Devano sampai tau sudah pasti Ziko akan dimarah habis-habisan oleh kembarannya, tapi tentu saja Devina tidak akan mengatakannya dia juga masih waras. Mungkin karena dia terlalu banyak diam hingga Ziko gemas sendiri dan memegang pipinya.


Hal itu membuat jantung Devina seperti akan keluar dan dia langsung memundurkan tubuhnya ke belakang membuat Ziko tertawa melihatnya. Jujur dia melakukan itu karena refleks dan gemas sendiri melihat Devina serta bibir mungilnya.


Bahkan Ziko juga terkejut dengan perbuatannya sendiri kalau orang tuanya tau sudah pasti dia akan dimarah.


"Kenapa sih Vin?" Kekeh Ziko


Devina mendongak sebentar lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Mukanya merah gemes banget jadi mau cium lagi." Kata Ziko membuat Devina melotot dan menutup bibirnya dengan telapak tangan


Ziko tertawa dan mendekat lalu menarik turun tangan Devina sambil mengusapnya dengan lembut.


"Ziko"


"Hmm"


"Kenapa cium bibir aku? Enggak boleh tau." Kata Devina polos


Ziko benar-benar ingin menculiknya.


"Refleks habisnya kamu gemesin." Kata Ziko


"Aku malu muka aku merah ya?" Tanya Devina


"Iya sampe kupingnya juga merah." Kata Ziko


Devina menangkup pipinya sendiri dan hal itu membuat Ziko semakin gemas dengan tingkahnya.


"Maaf ya? Kamu kaget pasti." Kata Ziko


"Iyalahh kamunya tiba-tiba gituu." Kata Devina


"Jadi kalau ngomong dulu boleh?" Tanya Ziko membuat mata Devina melotot dan refleks memukulnya


"Kamu nih nyebelinnn!" Kata Devina


Ziko tertawa dan memeluk kekasihnya itu dengan sayang.


"Makasih ya Vinn." Kata Ziko tulus


"Untuk kadonya?" Tanya Devina


Menggelengkan kepalanya pelan Ziko mencium puncak kepala Devina dan mengatakan hal yang membuat kekasihnya itu tersenyum senang.


"Untuk semuanya, makasih karena udah hadir dihidup aku dan buat aku sebahagia ini." Kata Ziko


"Ziko bahagia? Ziko senang sama aku?" Tanya Devina


"Bangettt"


Senyum Devina semakin mengembang dengan lebar apalagi ketika Ziko mengajaknya berdiri lalu berjalan ke arah jendela dan membukanya. Tangan kekasihnya itu terulur dengan ragu Devina menyambutnya dan mereka berjalan keluar dari jendela melewati atap rumah yang sedikit miring.


Devina sedikit takut hingga dia menggenggam erat tangan kekasihnya, tapi setelah mereka duduk dia tersenyum senang.


"Aku belum pernah ajak kamu kesini kan?" Tanya Ziko


"Belummm"


"Suka gak?" Tanya Ziko


"Suka, tapi dingin harusnya aku bawa jaket." Kata Devina yang memang hanya memakai kemeja panjang saja


"Sebentar aku ambilin." Kata Ziko


Pria itu berdiri dan berjalan menuju jendela lagi meninggalkan Devina yang menatap ke sekelilingnya dengan senyuman. Beberapa saat setelahnya Ziko kembali dengan membawa jaket tebal miliknya lalu duduk disamping Devina dan membantunya untuk memakai.


"Makasihh Ziko gak dingin?" Tanya Devina


"Kalau dingin peluk kamu aja kayak gini." Kata Ziko sambil memeluk kekasihnya dari samping


Devina tersenyum dan mengacak rambut kekasihnya dengan gemas.


"Kalau aku bilang Vano kamu pasti dipukul sama dia." Kata Devina membuat Ziko tertawa mendengarnya


"Makanya jangan bilangin." Kata Ziko


"Iyalah masa aku bilang yang ada aku kena marah juga sama dia." Kata Devina


Ziko tertawa lalu keduanya terdiam dan Devina menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih. Mendadak dia ingat perkataan Nazwa tadi yang mengatakan kalau Ziko menolak untuk kuliah di luar negeri.


"Ziko"


"Iya Vina?"


"Kata Tante Nazwa kamu menolak waktu disuruh kuliah di luar negeri, kenapa?" Tanya Devina


Dari tempatnya Devina dapat melihat Ziko yang tersenyum lalu menghela nafasnya pelan.


"Sama dengan alasan kamu, aku gak bisa jauh-jauh dari orang tua aku dan kamu juga, selain itu aku kan gak pinter." Kata Ziko


"Emm gitu bagus deh Ziko jangan pergi ya? Sini aja sama aku." Kata Devina


"Iya Vin"


"Aku takut banget Ziko." Kata Devina sambil mengangkat wajahnya dan menatap sang kekasih


"Takut apa hmm?" Tanya Ziko


Dia mengusap pipi Devina dengan lembut membuat gadia itu tersenyum dan meraih tangannya lalu digenggam.


"Ziko tau kan aku gimana? Cari teman yang bisa ngertiin aku itu susah dulu waktu SMP aku hampir gak punya teman, mereka malas sama aku soalnya aku manja banget." Kata Devina


"Kamu takut gak bisa dapat teman?" Tanya Ziko yang dijawab dengan anggukan oleh kekasihnya


"Dulu waktu mau masuk SMA juga gitu aku takut gak dapat teman ehh ternyata malah ketemu kamu sama yang lainnya juga, tapi sekarang aku takut lagi." Kata Devina


"Jangan takut Devina." Kata Ziko


"Heem enggak aku kan cuman kasih tau kamu aja." Kata Devina


Disandarkan lagi kepalanya di bahu Ziko dan Devina mulai memejamkan matanya. Angin malam tidak terlalu kencang dan bulan serta bintang terlihat begitu terang membuat suasana malam ini terasa begitu indah.


Tidak seorang pun.


¤¤¤


Sebelum mengantar Devina pulang ke rumahnya Ziko mengajak kekasihnya itu untuk pergi ke cafe lebih dulu, dia ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama kekasihnya. Kemarin adalah hari yang sangat spesial untuknya kehadiran Devina di ulang tahunnya membuat semua lebih bermakna.


Senyuman tulus Devina yang menatapnya sambil membawa kue, binar mata yang menatapnya ketika memberikan kado semua masih teringat jelas diingatannya. Rasanya Ziko ingin mengulangnya sekali lagi, dia ingin menikmati setiap detiknya bersama Devina.


"Ziko panas yaaa?" Keluh Devina


Pipinya sedikit memerah karena cuaca yang panas, memang begitu kalau matahari terlalu terik wajah Devina akan mulai memerah.


"Mau pindah ke dalam?" Tanya Ziko


Mereka memang sedang di cafe dan duduk di bangku yang ada di luar karena Devina yang memintanya agar mereka bisa terkena angin.


"Ini juga ketutupan kan? Aku cuman bilang aja hari ini cuacanya panas banget." Kata Devina


"Hmm pipi kamu sampe merah." Kata Ziko


"Aneh ya? Pipi aku pasti gini kalau habis kena panas." Kata Devina sambil menunjukkan cengirannya


"Bukan aneh, tapi lucu." Kata Ziko


Devina tertawa kecil dan menyodorkan minumannya pada sang kekasih.


"Ziko mau coba?" Tanya Devina


Tentu saja dia tidak menolak dan meminumnya dari tangan Devina membuat kekasihnya itu tersenyum.



"Enak kan?" Kata Devina


"Manis banget." Kata Ziko


"Enggak kok." Kata Devina sambil menyeruput minumannya lagi


"Manis banget soalnya minumnya sambil lihat kamu." Kata Ziko


Devina tertawa dan memukul pelan lengan kekasihnya, dia salah tingkah jadinya.


"Gemes banget." Kata Ziko sambil mencubit pipinya pelan


Devina mengerucutkan bibirnya sebal dan mencubit lengan kekasihnya, tapi Ziko justru tertawa.


Entah cubitan atau pukulan tidak ada yang berasa.


¤¤¤


Beberapa saat setelah sampai di rumah Devina langsung pergi ke kamar kembarannya dan dia melihat Devano tengah sibuk dengan gitarnya. Tersenyum senang Devina berlari menghampirinya lalu memeluk Devano dari samping membuat pria itu tersentak kaget.


Hanya saja ketik melihat kalau itu kembarannya dia tersenyum lalu meletakkan gitarnya dan balas memeluk Devina. Cukup lama mereka berpelukan hingga Devina menjauhkan tubuhnya dan menatap Devano dengan senyuman.


"Kapan sampainya?" Tanya Devano


"Emm belum lama ini aku pulang." Kata Devina


"Seneng gak tadi malam?" Tanya Devano


Devina tersenyum dengan mata berbinar dan menganggukkan kepalanya.


"Senengg bangetttt"


"Gak kemana-mana kan sama Ziko?" Tanya Devano memastikan


"Enggak kok cuman di rumahnya aja ngobrol sama orang tuanya juga." Kata Devina


Devano mengangguk faham dan mengusap puncak kepalanya dengan lembut lalu menanyakan hal yang membuat Devina diam.


"Kemarin ngapain aja sama Ziko?" Tanya Devano


Mendadak ingatan Devina pergi pada kejadian di atas loteng ketika Ziko menciumnya dan wajahnya mulai memanas. Melihat hal itu Devano memicingkan matanya dan menatap dengan penuh curiga apalagi ketika Devina menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Gak ngapa-ngapain kok." Kata Devina dengan wajah memerah


"Bohong ya?" Tanya Devano curiga


"Enggak!" Seru Devina yang malah semakin membuat Devano curiga apalagi wajahnya semakin merah


"Ngapain gak?" Tanya Devano


"Ihh gak ngapa-ngapain!" Kata Devina


Devina beranjak dari sofa dan pergi keluar membuat Devano ikut berdiri lalu mengejarnya.


"Kalian ngapain?" Tanya Devano lagi


Devina tidak menjawab dan mempercepat langkah kakinya.


"Devina"


Devina berlari ketika dia menoleh dan melihat Devano yang semakin dekat apalagi ketika kembarannya itu juga ikut berlari. Sampai di depan pintu kamar orang tuanya Devina berpapasan dengan Fahisa yang terkejut karena melihat anak-anaknya yang berlari.


"Kenapa lari? Nanti jatuh." Kata Fahisa sambil menggelengkan kepalanya pelan


Devina ingin bicara, tapi Devano sudah lebih dulu mengeluarkan suara.


"Vano tanya dia kemarin ngapain sama Ziko, tapi mukanya langsung merah Mom terus dia kabur pasti ada apa-apa." Kata Devano


"Enggakk!" Kata Devina dengan wajah memerah


"Lihat Mommy wajahnya merah." Kata Devano


"Ihh Vanooo!" Kata Devina sambil memukul lengan kembarannya itu dengan kesal


Fahisa diam sambil menatap keduanya bergantian dan menanyakan hal yang membuat Devina diam.


"Memang Vina ngapain kemarin?"


Dan wajahnya semakin memerah.


¤¤¤


Ziko tanggung jawabb kamuu😂