
"Apa Ziko bilang?!"
Mata Devina membulat dengan sempurna ketika mendengar ajakan menikah dari kekasihnya belum lagi Ziko yang mengatakan bahwa dia sudah memegang restu dari orang tuanya dan mengatakan bahwa mereka hanya tinggal menunggu jawabannya. Kalau ditanya tentu saja Devina mau bahkan sangat mau, tapi terlalu mendadak hingga dia sangat terkejut dan sekarang Devina masih diam sambil menatap Ziko yang tersenyum padanya.
Masalahnya dengan menikah itu artinya Devina harus ikut Ziko dan menjauh dari keluarganya, tapi cepat atau lambat hal itu akan tetap terjadi juga. Masih menatap Ziko dalam diam Devina merasakan kalau pria itu meraih tangannya lalu menggenggam dengan sayang.
Tatapan matanya penuh ketulusan dan raut wajah serta senyuman disana seolah mengatakan pada Devina bahwa dia tidak akan pernah menyakitinya.
"Ziko mau nikahin Vina beneran? Yakin gak akan menyesal?" Tanya Devina
"Untuk apa aku menyesal?" Tanya Ziko
"Hm gak tau, tapi Ziko kan tau Vina manja dan gak bisa apa-apa." Kata Devina
"Aku gak pernah mempermasalahkan hal itu Devina, jadi gimana sayang?" Tanya Ziko sambil menatapnya dengan penuh harap
"Orang tua Ziko?"
"Aku sudah bilang pada mereka juga dan mereka bilang aku harus bicara sama kamu dulu kalau kamu sudah bilang iya kami akan ke rumah untuk melamar." Kata Ziko
Devina masih diam sambil menatap Ziko lalu perlahan senyuman manisnya terbentuk dengan sempurna.
"Apa pilihan untuk Vina?" Tanya Devina
"Hanya iya kalau kamu jawab tidak aku akan paksa." Kata Ziko membuat Devina tertawa mendengarnya
"Vina mau, tapi apa boleh Vina minta satu hal?" Tanya Devina
"Apa itu?" Tanya Ziko sambil menatap kekasihnya dengan sempurna
"Vina belum bias jauh dari Mommy dan Daddy sama Vano juga, jadi kalau Vina sering ke rumah Daddy jangan dimarah ya?" Kata Devina
Ziko tertawa mendengarnya dia mencubit gemas pipi kembarannya itu lagian siapa yang akan melarang?
Selain itu jarak rumahnya dengan rumah Devina tidak terlalu jauh.
"Aku gak akan pernah marah atau melarang kamu Devina sayang." Kata Ziko membuat Devina tersenyum senang
"Em kalau gitu Vina mau." Kata Devina
Tersenyum lebar Ziko membawa tubuh Devina ke dalam pelukannya tidak peduli jika mereka sedang ada di cafe sekarang karena Ziko sangat bahagia mendengarnya.
"Kalau gitu kamu tunggu kedatangan aku untuk melamar ya?" Kata Ziko sambil mengusap sayang kepala kekasihnya
Devina menganggukkan kepalanya dengan semangat lalu menatap kekasihnya dengan senyuman manis.
"Aku gak sabar mau menikah sama kamu nanti aku bisa cium tanpa harus dimarahin Daddy kamu." Kata Ziko
Berdecak kesal Devina mencubit lengan kekasihnya yang membuat pria itu tertawa dan bukan meringis sakit karena Devina mencubit dengan sangat pelan.
"Ish udah nakal." Kata Devina galak
"Vin kamu mau tau gak alasan aku mau cepet nikah sama kamu?" Tanya Ziko yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Devina
"Mauu"
"Aku selalu takut kehilangan kamu Devina meskipun aku percaya sama kamu, tapi aku tetap merasa takut dan lagi aku mau selalu sama kamu ada di dekat kamu, menjadi orang yang bisa kamu andalkan dan yang pasti menjadi pendamping hidup kamu." Kata Ziko
"Vina takut kalau nanti gak bisa jadi istri yang baik." Kata Devina pelan
"Jangan memikirkan hal yang belum terjadi Devina." Kata Ziko
"Em enggak." Kata Devina sambil tersenyum manis
Ziko ikut tersenyum sambil terus menatap wajah kekasihnya yang terlihat begitu cantik dengan senyuman manisnya. Entah kenapa dia bisa begitu cinta dengan Devina hingga segila ini sampai sangat memaksa untuk segera menikah.
Sungguh Ziko tidak mau kehilangan Devina dari sisinya dia mau menghabiskan waktunya bersama dengan Devina bahkan dengan membayangkan mereka akan tidur sambil berpelukan lalu ketika bangun Ziko akan melihat wajah Devina saja sudah membuatnya berbunga-bunga.
"Vin"
"Emm"
"Vano gimana? Kamu gimana kalau harus ninggalin dia?" Tanya Ziko membuat senyum manis Devina perlahan memudar
Dia terdiam untuk sesaat lalu menghela nafasnya pelan.
"Enggak tau, tapi Ziko cepat atau lambat pasti bakal gitu kok aku sama Vano udah dewasa dan lagian aku sama Vano kan gak akan tinggal beda kota kita masih bisa sering ketemu." Kata Devina
"Kamu sedih harus jauhan sama dia nanti?" Tanya Ziko lagi
"Mungkin awalnya, tapi nanti kalau sudah terbiasa pasti enggak dan Vina udah janji kalau bakal sering nemuin Vano." Kata Devina senang
"Iya aku gak akan pernah melarang kamu meskipun mau ketemu Vano atau menginap di rumah orang tua kamu nantinya." Kata Ziko
Devina tersenyum manis ketika mendengarnya, dia harus melakukannya karena entah dia atau Devano yang menikah duluan tetap saja suatu saat hal itu akan terjadi juga.
Hanya sekedar pilihan waktu saja.
¤¤¤
Perkataan Devano bahwa kembarannya akan menikah membuat Adara terdiam sambil menatapnya dalam diam, dia dapat melihat wajah Devano yang terlihat murung setelah mengatakannya. Tentu saja Adara tau apa alasannya Devano pasti sedih karena nanti akan tinggal terpisah dengan kembarannya.
Menatap mata Devano yang sendu Adara tersenyum lalu mengusap pipinya membuat sudut bibir pria itu tertarik membentuk sebuah senyuman tipis. Devano memeluk Adara dengan sayang dan menghirup wangi tubuh gadis itu yang menenangkan.
"Aku bukan cuman sedih karena harus berpisah dari Vina, tapi ada hal yang lain juga Ra." Kata Devano
"Hal lain apa?" Tanya Adara sambil melepaskan pelukan dan menatap mata Devano
"Aku takut dia gak bahagia." Kata Devano
"Maksud kamu Ziko bakal nyakitin dia?" Tanya Adara
"Enggak bukan gitu, kamu tau kan Devina gimana? Dia manja banget kadang makan aja disuapin biasanya Mommy juga selalu ambilin dia makan dan aku takut kalau orang tua atau keluarga Ziko membuat Devina sedih, Devina tidak suka kalau ada orang lain yang menyebut dirinya manja." Kata Devano
"Em aku paham sekarang." Kata Adara
"Aku percaya sama Ziko karena aku lihat sendiri gimana dia peduli sama Vina, tapi Adara setaut aku dalam pernikahan bukan hanya ada masalah dengan pasangan saja melainkan juga bisa dengan keluarga atau orang tuanya." Kata Devano
"Iya Van kamu benar aku juga baru kepikiran sampai sana." Kata Adara
"Devina juga jarang banget bangun pagi-pagi kadang harus dibangunin, gimana kalau itu jadi masalah?" Kata Devano takut
"Vano kamu jangan berpikir sampai kesana kalau Om Daffa sudah mengizinkan hal itu bukankah artinya dia sudah memikirkan semuanya? Kamu tau kalau Daddy kamu itu bukan orang yang akan menyerahkan anaknya begitu saja kan?" Kata Adara membuat Devano diam dan menatapnya
Benar, tidak mungkin Daddy nya hanya menngatakan iya saja tanpa memikirkan masalah Devina nantinya.
Jika Daddy nya sudah setuju berarti semua akan baik-baik saja.
"Om Daffa gak mungkin biarin Devina sampai sedih, dia tidak akan membuat dirinya menyesal dengan mengambil keputusan untuk menikahi Devina dan Ziko." Kata Adara
Tersenyum lebih lebar Devano mengangguk lalu memeluk Adara lagi dengan cukup erat membuat gadis itu tersenyum sambil mengusap kepala Devano.
"Jadi, kalau kita kapan?"
¤¤¤
Aku sudah updatee pagi-pagi yeeee😘
Cerita istri manja Ziko tetep aku publish di awal bulan yaa, jadi harap ditunggu semuanya😻
Nanti di part ini kita bantu mereka mempersiapkan pernikahan haha😂 Terus kita nikmatin kebersamaan Devano dan Devina sebelum Devina di bawa kabur sama ayang Zikoo😶