My Possessive Twins

My Possessive Twins
68 : Masih Marah



Tau bagaimana rasanya diabaikan?


Rasanya benar-benar menyebalkan juga menyakitkan hingga membuat kalian enggan untuk melakukan apapun. Seperti Devina yang sama sekali belum keluar dari kamarnya bahkan gadis itu masih memakai pakaian sekolahnya hanya saja sepatu sekolahnya sudah dia lepaskan.


Sekarang sudah pukul lima sore yang berarti sudah berjam-jam saudara kembarnya belum juga pulang dan hal itu semakin membuat Devina kesal juga merasa terabaikan. Tidak biasanya Devano seperti ini dan Devina berjanji dia akan mengabaikan kembarannya ketika nanti pulang.


Pintu kamarnya di kunci, tapi Devina yakin kalau Devano masih bisa masuk karena dia memiliki kunci cadangan. Sekarang Devin benar-benar kesal juga marah apalagi beberapa saat yang lalu dia melihat di story instagram milik Adara kalau gadis itu dan saudara kembarnya sedang ada di taman.


Mereka berjalan-jalan!


Devano sudah benar-benar melupakan Devina dan dia sangat kesal.


"Devina"


Saat suara itu terdengar bersamaan dengan ketukan di pintu kamarnya Devina langsung mengambil earphone dan menggunakannya, supaya tidak mendengar suara kembarannya. Entah berapa lama suara ketukan itu terdengar sampai akhirnya hening untuk sesaat dan suara kunci yang diputar terdengar.


Pura-pura tidak tau Devina hanya memainkan ponselnya dan memutar vidio yang ada di youtube, mengabaikan Devano yang sekarang duduk di tepi ranjangnya.


"Vina"


Tidak mendapat jawaban Devano menarik sebelah earphone Devina hingga terlepas dan membuat gadis itu menatapnya dengan sebal. Bangun dari tidurnya Devina menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang lalu menatap lurus ke depan, enggan menatap kembarannya.


"Enggak mau peluk aku?" Tanya Devano


Devina menggelengkan kepalanya lalu kembali fokus pada ponselnya, membuka instagram dan terus menggerakkan jarinya ke bawah.


"Kamu kenapa Vin?" Tanya Devano lagi


Tidak ada jawaban Devina hanya mengangkat bahunya acuh dan membuat Devano menghela nafasnya pelan.


"Kamu marah?" Tanya Devano dengan lembut


Devina menggelengkan kepalanya, masih fokus pada ponselnya.


Merasa kesal karena diabaikan Devano mengambil ponsel kembarannya dan meletakkan di atas nakas membuat gadis itu kini menatapnya dengan sebal.


"Kenapa sih?!" Tanya Devina kesal


"Kamu kenapa? Marah sama aku?" Tanya Devano dengan begitu lembut


Tatapannya juga sangat teduh membuat Devina hampir luluh, tapi tidak dia masih sangat-sangat kesal.


"Enggak"


"Terus kamu kenapa? Lagi bad mood?" Tanya Devano


"Enggak papa aku capek kamu keluar aja." Kata Devina


"Enggak kangen sama aku?" Tanya Devano


"Ngapain?" Kata Devina membuat Devano mengerutkan dahinya bingung


Tapi, setelah Devina bicara dia jadi mengerti alasannya.


"Ngapain aku kangen sama kamu! Kamu aja gak kangen sama aku pulang-pulang malah pergi dan selama disana juga gak pernah kasih kabar aku balas chatnya lama." Kata Devina kesal


Menghela nafasnya pelan Devano berniat mengusap pipi Devina, tapi gadis itu langsung menepis tangannya dan menatap tidak suka.


"Aku capek kamu keluar aja." Kata Devina lagi


Memasang wajah sedihnya Devano enggan untuk beranjak meski hanya sedikit saja.


"Kenapa masih pakai baju sekolah? Udah sore kamu mandi dulu terus ganti baju jangan mandi malam-malam." Kata Devano yang sama sekali tidak dihiraukan oleh kembarannya


Catat ya Devina sangat-sangat kesal!


"Maaf"


Saat kata itu keluar dari bibir kembarannya Devina menoleh dan menatapnya dengan sedih membuat Devano jadi merasa bersalah. Tadi dia pergi karena Devina tidak ada di rumah dan di fikir kembarannya itu sedang pergi jalan-jalan dengan kekasihnya.


Biasanya kalau pergi dengan Ziko pasti pulangnya sore, tapi ternyata dia salah Fahisa bilang ketika dia memberi kabar Devina langsung pulang.


"Aku capek"


"Maaf Vina." Kata Devano


Devina tidak menjawab dia kembali berbaring dan menarik selimut hingga sebatas lehernya lalu memunggungi Devano yang terlihat bingung harus melakukan apa.


"Vin, aku minta maaf." Kata Devano


"Aku capek kamu keluar aja dari kamar aku." Kata Devina entah untuk yang keberapa kalinya


"Maaf Vin"


Devano menyentuh pundak Devina yang membuat gadis itu berdecak kesal dan kembali bangun.


"Vano keluarrr"


"Vinaa"


"Aku bilang keluar! Aku gak mau ketemu kamu!" Kata Devina kesal


"Maaf Vin"


"Aku kesel! Pokoknya kesel! Kamu bisa telpon dan kabarin Adara, tapi susah banget buat balas pesan aku! Waktu pulang kamu gak kasih kabar apa-apa dan malah pergi sama Adara! Vano lupaiin aku!" Kata Devina marah


Mata gadis itu mulai berkaca-kaca sekarang membuat Devano jadi merasa sangat bersalah.


Baiklah dia mengaku kalau kali ini dia memang salah.


"Maaf"


"Kamu keluar dari kamar aku! Aku gak mau ketemu Vanoo!" Kata Devina


Melihat Devano yang tak kunjung pergi akhirnya Devina turun dari ranjangnya dan menarik lengan kembarannya itu dengan paksa. Dengan tidak rela Devano hanya diam dan menatap Devina dengan penuh rasa bersalah.


Apalagi ketika kembarannya itu mendorongnya keluar dari kamar lalu menarik kunci cadangan yang tergantung di depan pintu kamarnya dan menutup pintu dengan kuat. Tidak lupa Devina menguncinya lagi dan kembali menjatuhkan tubuhnya di ranjang.


Sekarang Devano tidak akan bisa masuk kamarnya lagi kunci cadangannya sudah dia pegang.


"Devinaa"


Panggilan itu sama sekali tidak Devina hiraukan dan sekarang dia mulai menangis.


Iya, dia memang cengeng.


'Gak selamanya Vano bakal selalu prioritasin lo Vin ini baru pacar loh gimana kalau nanti dia punya istri?'


'Masa Vano harus selalu perhatiin lo terus sih Vin, dia juga pasti mau ngelakuin sesuatu untuk dirinya sendiri'


Tapi, Devina belum rela kalau Devano mengabaikannya.


Dia tidak suka.


Dia mau diperhatikan oleh Devano karena pria itu sudah membuat dia terlalu bergantung padanya.


Devina tidak mau kalau Devano melupakannya demi orang lain.


¤¤¤


Sudah cukup lama Devano berdiri di depan pintu kamar kembarannya mencoba untuk membuju Devina agar keluar dan memakan makan malamnya. Iya, Devina sama sekali tidak keluar untuk makan malam meskipun Fahisa dan Daffa membujuknya dia masih setia di dalam kamar.


Sekarang Devano jadi merasa bersalah dia tidak menyangka kalau Devina akan semarah ini padanya. Memang dalam hal ini Devano yang salah tidak seharusnya dia mengabaikan Devina padahal dia juga sering marah kalau gadis itu mengabaikannya dan sibuk dengan Ziko.


"Devina"


Saat makan malam tadi Devano juga sama sekali tidak mau menyentuh makanannya, andai saja kunci cadangannya tidak Devina ambil dia pasti bisa masuk ke dalam. Sayangnya hanya ada satu kunci cadangan saja dan Devano jadi ingin mendobrak pintu ini sekarang.


"Vina makan dulu"


Masih tak ada sahutan Devano menoleh ketika bahunya di sentuh dan dia tersenyum tipis saat melihat Fahisa yang berdiri di dekatnya.


"Udah nanti Vina bakal keluar kalau dia lapar." Kata Fahisa


"Nanti dia sakit kalau gak makan." Kata Devano pelan


"Dia akan makan kalau sudah lapar, kamu tau kan kalau Vina tidak bisa tidur jika sedang lapar?" Kata Fahisa


Kali ini Fahisa mencoba untuk mengetuk pintu kamar anaknya dan memanggil Devina dengan lembut.


"Vina ini Mommy sayang, buka pintunya ya?" Kata Fahisa


"Vina ngantukkkk"


Pintunya tidak dibuka, tapi suara Devina terdengar dari dalam sana.


"Kamu belum makan sayang." Kata Fahisa


"Vina enggak lapar"


Menghela nafasnya pelan kalau sudah begini dia tidak bisa memaksa.


"Nanti kalau sudah lapar makan ya?" Kata Fahisa


"Iya"


Baru ingin berbalik Fahisa dikejutkan dengan Daffa yang berdiri di belakangnya.


"Belum mau keluar?" Tanya Daffa


Fahisa menggelengkan kepalanya pelan.


"Belum, sudah biarkan saja nanti kalau lapar Vina akan keluar." Kata Fahisa


"Vina kalau lapar kamu keluar ya? Jangan sampai tidak makan atau Daddy akan marah." Kata Daffa


"Iya Dad"


Setelah mendapatkan balasan itu keduanya berlalu pergi dan di dalam kamarnya Devina yang sudah berganti baju dengan piyama tidurnya masih enggan untuk bangun. Sejak tadi dia memainkan ponselnya dan berbalas pesan dengan Ziko, dia memblokir nomor Devano.


Salah satu alasan dia tidak mau keluar adalah mata dan hidungnya memerah karena dia menangis. Selain itu Devina akan keluar kalau semua sudah tidur saja, dia tidak ingin bertemu Devano.


Coba ngomong dulu Vin sama Vano


Jangan nangisss


Kalau kamu nangis aku ikut sedihh :(


Tertawa kecil Devina mengirimkan foto matanya yang masih berkaca-kaca pada Ziko.


^^^Sedihhh akunya mau nangissss^^^


Tak butuh waktu lama pesan itu di balas dengan begitu banyak oleh Ziko yang membuat Devina tersenyum senang.


Jangan nangis Vinaaa


Aku telpon aja yaa? Jangan nangiss senyum aja yang maniss


Mau aku telpon ga?


Nanti aku nyanyiin yaaa, tapi jangan nangiss


Membalas pesan itu dengan singkat Devina kemudian menaruh ponselnya di bawah bantal dan pergi ke kamar mandi.


^^^Gak usah Ziko^^^


^^^Aku mau makan dulu ya?^^^


Pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya Devina kemudian menuju pintu kamarnya dan terlihat kebingungan, apa dia harus keluar sekarang?


Perutnya lapar sekali, tapi dia takut kalau Devano belum tidur apalagi kembarannya itu selalu tidur larut malam. Namun, ketika perutnya kembaki berbunyi Devina membuka pintu kamarnya dan memasang wajah datarnya sambil berjalan menuruni tangga.


Benar dugaannya.


Ternyata Devano sedang ada di ruang tengah dan ketika mara mereka bertemu dia langsung menghampiri Devina. Masih merasa kesal Devina tidak menyapa bahkan di malah mengalihkan pandangannya.


Dia jadi malas untuk makan.


"Kamu mau makan kan? Ayo biar aku temani." Kat Devano yang kini sudah ada disampingnya


"Enggak perlu aku bisa makan sendiri." Ketus Devina


Seolah tidak peduli Devano tetap mengikuti Devina dan duduk disampingnya. Saat kembarannya itu ingin mengambil makan dengan sigap Devano yang melakukannya.


"Aku bilang aku bisa sendiri." Kata Devina kesal


"Ini udah kamu makan dulu." Kata Devano sambil menaruh piring di hadapan Devina


Bukannya makan Devina malah diam dan membuat Devano menghela nafasnya pelan, semarah itu Devina padanya?


"Vina di makan dulu jangan ngelamun." Kata Devano pelan


"Kamunya pergi aku gak mau makan kalau ada kamu." Kata Devina


Devano terdiam ketika mendengarnya, dia merasa sakit hati.


"Vina"


"Yaudah aku gak usah makan." Kata Devina yang ingin berdiri


Dengan sigap Devano menahannya lalu mengatakan kalau dia akan pergi. Pergi ke dapur untuk mengambilkan minum Devano tersenyum ketika kembaranmya itu mulai makan.


Setelah mengisi penuh gelas berisi air hangat Devano meletakkan di dekat piring Devina lalu pergi ke ruang tengah dan memperhatikannya dari sana. Baru beberapa menit dan Devina juga hanya makan sedikit, tapi gadis itu terlihat lesu lalu menghentikan makan malamnya.


Sebelum Devina beranjak pergi Devano kembali menghampirinya dan duduk tepat disampingnya.


"Kenapa cuman sedikit?" Tanya Devano


"Aku malas mau makan." Kata Devina lesu


"Mau aku suapin?" Tanya Devano


Biasanya Devina akan mengangguk dengan penuh semangat, tapi sekarang berbeda.


"Aku bukan anak kecil yang harus disuapin." Kata Devina


Gadis itu ingin pergi, tapi Devano langsung menahannya dia menarik kursinya mendekat dan membawa Devina ke dalam pelukannya dengan sedikit paksaan. Di dalam pelukannya Devina sedikit memberontak, tapi hanya sesaat karena setelahnya gadis itu berhenti dan malah terdengar isakan.


"Maaf aku janji gak bakal kayak gitu lagi"


Devina memukul-mukul lengan pria itu dengan pelan karena kesal.


"Jahat... padahal aku seneng banget waktu Mommy telpon... aku langsung pulang... tapi.. kata Mommy kamu pergi." Isak Devina


Merasa bersalah Devano mengeratkan pelukannya dan mengusap puncak kepalan Devina dengan sayang.


"Iya aku minta maaf"


"Aku kangen banget.. sama Vano... tapi kamu jarang telpon aku... tapi sering telpon Adara." Keluh Devina


"Iya enggak lagi Vin." Kata Devano


Melepaskan pelukannya Devina menghapus air matanya dengan kasar dan menatap Devano sambil tersenyum tipis.


"Aku lebay yaa?"


Devano menggelengkan kepalanya pelan sambil membantu menghapus air mata Devina dengan lembut.


"Maaf Vina"


Menghela nafasnya pelan Devina beranjak dari tempat duduknya dan mengatakan kalau dia ingin ke kamar.


"Kenapa ya orang-orang selalu minta maaf sama aku? Kamu jangan minta maaf Vano yang salah itu aku bukan kamu"


Setelah mengatakan hal itu Devina berlalu pergi ke kamarnya dan Devano juga tidak mengejarnya.


Biarkan saja Devina tenang dulu besok baru dia akan mengajaknya bicara.


¤¤¤


Hmm sudahh yaa aku double up hari inii😂


Apa perlu aku tambah satu lagii😶