My Possessive Twins

My Possessive Twins
Devano (12)



Sejak percakapan terakhir dengan Devano kemarin Adara berusaha untuk tidak berfikiran yang aneh-aneh lagi tentang hubungan mereka dan mencoba untuk sangat percaya pada kekasihnya. Selama ini Adara selalu kurang percaya diri setiap kali bertemu dengan wanita lain bahkan dia sering kali menolak ajakan Devano untuk bertemu keluarga besarnya karena merasa malu, tapi sekarang dia tidak bisa menolak lagi.


Malam ini dia akan pergi ke rumah Devano untuk makan malam bersama dengan keluarga pria itu bahkan bukan hanya orang tua Devano saja, tapi Om dan Tante dari Devano juga. Sekarang Adara sudah siap dan seperti biasa dia akan berpenampilan sederhana dengan hanya memakai bedak serta sedikit liptint miliknya.


Begitu Devano datang Adara langsung mengunci pintu dan masuk ke dalam mobil, awalnya dia ingin pergi naik ojek atau taxi saja, tapi Devano melarangnya.


"Padahal aku bisa naik ojek atau taxi Van." Kata Adara sambil memakai sabuk pengamannya


Devano hanya tersenyum mendengarnya.


"Mommy yang minta aku jemput kamu kalau aku biarin calon menantunya ke rumah naik ojek atau taxi bisa kena marah Ra." Kata Devano


"Makasih"


Devano hanya bergumam pelan sebagai tanggapan lalu fokus pada jalanan dihadapannya. Tidak banyak percakapan selama perjalanan bahkan hingga Devano sampai di rumahnya.


Malam ini memang keluarganya ingin makan malam, tapi sayangnya Devina dan Kakaknya tidak bisa datang, jadi hanya kedua orang tuanya serta Om dan Tante yang akan datang.


Tesenyum manis Adara menata sebentar rambutnya yang di gerai lalu turun dari mobil bersama dengan kekasihnya. Seperti biasa Devano akan selalu menggenggam tangannya dan mereka berdua masuk ke dalam bersama-sama.


Begitu masuk ke dalam Adara langsung disambut hangat dengan Fahisa yang memeluk serta mencium keningnya.


"Sini sayang kita langsung makan malam." Kata Fahisa


Mengangguk singkat Adara mengikuti Fahisa dan pergi ke ruang makan disana dia dapat melihat ada dua orang yang pernah dia temui ketika dia juga Devano bertunangan.


"Eh ini tunangannya Vano kan?" Kata Dara


"Iya Tante"


"Ya ampun tambah cantik aja." Kata Dara


"Makasih Tante"


Setelah percakapan singkat itu kini mereka sudah duduk di ruang makan dengan makanan yang tertata rapih di atas meja. Malam ini Fahisa memang sengaja mengajak yang lainnya makan malam bersama karena semenjak Devina menikah dia sering kesepian.


Suasana rumah tidak seperti biasanya.


"Gimana Van kalian berdua sudah tunangan, kapan ada rencana untuk menyusul Devina?" Tanya Dara dengan raut wajah menggoda


Adara hanya bisa tersenyum dengan pipi merona, tapi Devano justru tertawa dan menatap kekasihnya sebentar.


"Vano gak terlalu buru-buru kok Tan yang penting kalau Adara memang udah siap besok juga bisa." Kata Devano membuat yang lainnya tertawa


"Mirip Daffa sekali." Kata Farhan


"Sekarang Vano agak sedikit berbeda ya? Dulu dia tidak punya selera humor dan jarang menanggapi kalau diajak bicara cuman nurut sama Vina aja." Kata Dara


"Udah ketemu pawangnya sekarang Kak." Kata Fahisa


Adara benar-benat ingin menghilang saja, dia malu bukan main dan dapat dipastikan wajahnya sangat memerah.


"Sebenarnya kalau mereka memang sudah siap menikah bukan hal yang sulit Kak, tapi biarkan saja mereka berdua yang menentukan kalau sudah sama-sama siap baru mereka tinggal mengatakan padaku dan semua akan selesai dalam waktu singkat." Kata Daffa dengan senyuman


Astaga Adara benar-benar tidak tau harus menanggapi apa sehingga dia hanya bisa tersenyum canggung. Sebenarnya bukan tidak mau, tapi Adara hanya belum siap untuk menikah.


"Yaudah makan dulu aja, ayo sayang makan dulu ini Mama semua yang masak." Kata Fahisa


"Iya Ma"


"Kalau sudah terlalu malam suruh Adara menginap saja Devano dia bisa tidur di kamar Devina atau di kamar tamu." Kata Daffa


"Iya Dad"


Keluarga Devano sangat menyambut kehadirannya, berbanding terbalik dengan keluarga Ayahnya yang sama sekali tidak menginginkan kehadirannya.


Lebih dari itu mereka semua membencinya.


°°°


Pukul sembilan malam Adara telah selesai membantu Fahisa mencuci piring kotor meskipun tadi wanita paruh baya itu menolak, tapi Adara tetap memaksa untuk melakukannya. Malam ini seperti apa yang tadi Daffa katakan Adara akan menginap dan tidur di kamar tamu.


Tadinya ingin di kamar Devina, tapi Adara bilang tidak masalah di kamar tamu saja dan sekarang Adara sedang menaiki tangga untuk pergi ke kamar tamu yang letaknya tidak jauh dari kamar Devano. Secara kebetulan besok juga Adara tidak kuliah makanya dia bersedia untuk menginap kalau kuliah tentu saja dia akan memilih pulang saja.


Begitu masuk ke dalam kamar Adara tersenyum lalu duduk di tepian ranjang dan menatap ke sekeliling. Berbeda sekali dengan rumahnya kamar tamu ini bahkan dua kali lebih besar dari kamarnya di rumah.


Ah tentu saja Devano itu anak orang kaya bahkan rumahnya sangat luas rumah Adara saja tidak sampai separuhnya.


"Ra, aku masuk ya?"


Suara itu terdengar bersamaan dengan pintu yang terbuka dan Devano masuk ke dalam membuat Adara tersenyum lalu berjalan menghampirinya.


"Udah mau tidur ya?" Tanya Devano


"Hm belum kok Van baru aja selesai bantuin Mama kamu di bawah." Kata Adara


"Dibilang gak usah." Kata Devano membuat Adara tersenyum mendengarnya


"Gak papa, tapi Van makasih ya? Aku seneng banget bisa ketemu keluarga kamu yang lain mereka baik banget sama aku." Kata Adara


"Sama-sama, tapi ini belum semua Ra masih ada Om Davian yang sekarang tinggalnya di Australia sama istrinya." Kata Devano


"Sekali lagi makasih Van." Kata Adara


Devano berdecak pelan lalu mencubit gemas pipi Adara dan tersenyum.


"Aku kesini cuman mau bilang selamat malam terus mau tanya...."


"Tanya apa?" Tanya Adara penasaran karena Devano menggantung kalimatnya


"Tanya, apa kamu mau aku temenin tidurnya?" Kata Devano dengan raut wajah menyebalkan


"Vannn"


"Bercanda sayang aku mau ucapin selamat malam dan inii kiss mee." Kata Devano sambil menunjuk pipinya


"Van jangan aneh-aneh deh." Kata Adara malu


"Cepetan Ra mumpung gak ada orang." Kata Devano


Menghela nafasnya pelan Adara mendekat membuat Devano memejamkan matanya, tapi belum sempat melakukan itu Adara langsung memundurkan langkahnya begitu melihat ada Daffa yang melihat dari depan pintu yang terbuka lebar.


"Ehemm"


Mata Devano terbuka dia ikut berdeham lalu berbalik dan menatap Daddy nya dengan senyuman canggung membuat Daffa menatapnya dengan galak.


"Kembali ke kamar Devano biarkan Adara istirahat dan Adara kunci saja pintunya biar pria ini tidak bisa masuk, dasar anak nakal"


Adara tertawa ketika melihat Daffa menarik pelan lengan Devano dan mengajaknya keluar dari kamar.


Ya ampun Devano lucu sekali sekarang.


°°°


Marahin aja Dadd anakmu inii nakal banget udah ketularan Devina kayaknya🤣