
"Vina mau naik bianglala!"
Perkataan Devina itu membuat Ziko tersenyum ternyata pilihannya untuk mengajak Devina ke pasar malam merupakan pilihan yang tepat karena sekarang dia dapat melihat kekasihnya itu merasa begitu bahagia. Sejak sampai Devina bahkan tidak mau melepaskan genggaman tangannya dia terus mengajak Ziko masuk ke pasar malam dengan tangan yang saling menggenggam.
Sekarang Devina menarik pelan tangannya dan mengajak Ziko untuk pergi ke tempat bianglala karena sudah lama sekali Devina tidak naik bianglala. Setelah membeli tiket keduanya menunggu hingga bianglala berhenti lalu masuk ke dalam bianglala dan hal itu semakin membuat Devina senang.
Sesaat setelah masuk Devina langsung melihat keluar lalu tersenyum lebar, dia sudah lama tidak naik bianglala lagi. Semenjak kuliah dia juga jarang ke pasar malam biasanya sesekali dia akan mengajak Devano atau Ziko.
"Kamu suka?" Tanya Ziko membuat Devina menatapnya
"Em suka udah lama Vina gak naik bianglala dan gak ke pasar malam lagi." Kata Devina
"Nanti aku ajakin kesini lagi." Kata Ziko
Devina tersenyum menanggapinya lalu matanya menatap ke sekeliling kala bianglala mulai bergerak. Melihat suasana pasar malam dari atas benar-benar hal yang sangat Devina sukai.
Melihat kekasihnya yang bahagia Ziko ikut tersenyum lalu mengusap kepalanya dengan sayang.
"Vina kayak anak kecil ya? Masa udah kuliah masih suka bianglala dan masih suka ke pasar malam." Kata Devina
"Jangan bilang gitu." Kata Ziko
"Ziko mau tau gak? Vina lebih suka hal-hal yang sederhana dan berkesan seperti ini duduk berdua sama Ziko naik bianglala sambil pegangan tangan." Kata Devina sambil meraih tangan Ziko dan menautkan jari-jarinya disana
Ziko tersenyum lalu menyelipkan rambut Devina ke belakang telinga dan mengusap pipinya.
"Aku selalu suka apa yang kamu suka." Kata Ziko
"Dulu Vina selalu mau seperti orang-orang, tapi sekarang enggak Vina mau jadi diri Vina sendiri aja karena hal itu lebih baik." Kata Devina
"Hm itu hal yang baik." Kata Ziko
"Makasih Ziko selalu nemenin Vina dan selalu ada setiap kali Vina lagi sedih." Kata Devina
"Aku akan selalu seperti itu Vin." Kata Ziko
Devina tersenyum lalu mendekat pada Ziko dan menyandarkan kepalanya di bahu Ziko sambil menatap lurus ke depan.
"Setiap orang itu berbeda Devina, jadi jangan pernah bandingin diri kamu dengan orang lain." Kata Ziko
Devina hanya bergumam pelan sebagai jawaban.
"Vina bahagia banget bisa dikelilingin sama orang-orang yang sayang dan peduli sama Vina." Kata Devina
Tidak memberikan tanggapan apapun Ziko hanya diam sambil mengusap kepala Devina dengan sayang.
"Ziko habis ini kita makan mie ayam." Kata Devina
"Mie ayam? Okay sayangnya Ziko habis ini kita makan mie ayam." Kata Ziko
Setelah percakapan singkat itu mereka diam sambil menatap lurus ke depan hingga akhirnya bianglala berhenti dan dengan penuh perhatian Ziko membantu kekasihnya itu untuk turun. Berjalan beriringan dengan tangan yang saling menggenggam keduanya pergi untuk makan mie ayam sesuai keinginan Devina.
Devina memang lebih menyukai hal-hal yang sederhana bahkan hanya jalan berdua sambil menggenggam tangan saja sudah membuatnya senang. Senyuman Devina mengembang dengan sempurna ketika melihat penjual mie ayam tak jauh dari tempat mereka berdua berdiri.
"Ziko ituu ada yang jual mie ayam." Kata Devina senang
Mengikuti arah pandang kekasihnya Ziko tersenyum lalu mengajak Devina kesana dan setelah memesan dua mangkuk mie ayam dengan es teh sebagai minumannya mereka duduk di tempat yang sudah tersedia.
Devina sedang melihat ke arah lain ketika dia merasakan pipinya disentuh dan ternyata Ziko yang melakukannya.
"Rambut kamu terbang terus pasti ganggu." Kata Ziko
"Em sedikit." Kata Devina sambil menunjukkan cengirannya
"Tunggu disini aku kesana dulu ya?" Kata Ziko
Devina belum sempat menjawab, tapi Ziko sudah lebih dulu pergi dengan terburu-buru. Memilih untuk diam dan menunggu Devina mengambil ponsel milik Ziko yang ada di dalam tas miliknya.
Membuka aplikasi chat Devina melihat beberapa chat yang masuk dan menemukan ada chat dari Mama nya Ziko disana. Tidak, Devina tidak membukanya dia hanya melihat karena itu ada di chat kedua tepat dibawah namanya karena Ziko memang mengepin kontaknya.
"Ziko beli ikat rambut?" Tanya Devina
"Hm tenang aja aku gak kuncit tinggi-tinggi kok." Kata Ziko
Devina hanya bergumam pelan lalu dia merakan Ziko benar-benar mengikat rambutnya dengan tidak terlalu tinggi dan setelah selesai Ziko kembali ke tempat duduknya.
"Udah"
"Makasih Ziko." Kata Devina
Bergumam pelan Ziko mencubit pipi Devina dan bersamaan dengan itu pesanan mereka datang membuat Ziko langsung melepaskan tangannya.
"Sekarang kita makan." Kata Devina
"Makan yang banyak." Kata Ziko sambil mengusap kepala Devina dengan sayang
Devina hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
¤¤¤
Selama perjalanan pulang Devina tidak bisa menahan senyumnya karena malam ini dia merasa sangat senang bisa menghabiskan banyak waktu dengan Ziko. Sekarang sudah pukul sembilan malam Devina masih dalam perjalanan pulang dengan kekasihnya, tapi orang tuanya ataupun Daffa tidak ada yang menelpon.
Sejak pertunangan Daffa dan Devano tidak lagi terlalu cemas kalau Devina pergi bersama Ziko ditambah lagi mereka melihat sendiri bagaimana pria itu sangat menjaga dan mencemaskan Devina. Bukan hanya itu mereka juga melihat betapa Devina sangat mencintai Ziko bahkan suasana hatinya yang buruk bisa dengan mudah berubah ketika bersama Ziko.
"Zikoo"
"Iya Vin"
"Em mau gak kalau besok kita ke pantai?" Tanya Devina
"Pantai? Hm mau nanti kita bilang sama orang tua kamu dan Devano dulu." Kata Ziko
"Vina mau ke pantai terus mau lihat sunset." Kata Devina
"Iya nanti kita kesana." Kata Ziko
"Kenapa Ziko gak pernah nolak permintaan Vina?" Tanya Devina sambil menoleh dan menatap kekasihnya
Ziko melirik sebentar Devina lalu tersenyum ketika mendengar pertanyaan itu.
"Aku bakal berusaha nurutin semua keinginan kamu selagi aku bisa karena bagi aku kamu lebih penting." Kata Ziko
"Setiap sama Ziko rasanya Vina itu wanita yang sangat spesial." Kata Devina
"Memang seperti itu kenyataannya Devina." Kata Ziko
Devina menghela nafasnya pelan lalu menatap ke depan dengan senyuman yang menghiasi wajah cantiknya.
Lima belas menit perjalanan mobil Ziko kini berhenti di area rumah keluarga Wijaya dan sebelum Devina keluar dari mobil dia lebih dulu meraih tangan kekasihnya. Sambil menatap Devina tangan Ziko mengusap sayang tangan lembut itu lalu menciumnya membuat Devina tersenyum lebar.
"Vina mau peluk"
Devina melepaskan sabuk pengamannya setelah mengatakan hal itu lalu memeluk Ziko dengan sayang. Tersenyum senang Ziko membalas pelukan itu dengan cukup erat dia juga mencium puncak kepala kekasihnya.
Cukup lama berpelukan Devina menjauhkan tubuhnya sambil menatap mata Ziko lalu dia mendekatkan wajahnya dan mencium singkat bibir kekasihnya.
"Vina pulang ya? Ziko hati-hati dijalan dan jangan lupa kasih kabar kalau udah sampai rumah"
Devina tersenyum manis dia melambaikan tangannya dan mengatakan kalimat yang selalu berhasil membuat Ziko berdebar tidak karuan.
"I love you babyy"
¤¤¤
Masih tentang Ziko-Vina nihh💞