
Senyuman manis Adara mengembang dengan sempurna kala melihat Devano yang sudah muncul di halaman depan rumahnya, dia akan berangkat ke kampus dan seperti biasa Devano akan selalu mengantarnya. Hari ini Adara merasa sangat senang sekali karena tadi malam Ayah nya datang berkunjung untuk melihat keadaannya bahkan membawakan makanan serta meminta dia untuk mengatakan segala hal yang dibutuhkan.
Sebenarnya Juan sudah pernah meminta Adara untuk ikut ke rumah juga tinggal bersamanya, tapi Adara selalu menolak dia tidak mau jadi bahan perbincangan keluarga Ayahnya yang jelas-jelas sangat membenci kehadirannya. Tidak masalah meskipun Adara hanya tinggal sendirian asalkan Juan selalu datang untuk melihat keadaannya atau paling tidak mengirim pesan dan memberikan kabar, sudah lebih dari cukup.
Bukan hanya itu Adara juga sudah tidak bekerja lagi Juan melarang nya meskipun pada awalnya Adara menolak, tapi pria itu memohon dengan mengatakan bahwa dia hanya ingin menjadi seorang ayah yang baik untuknya.
"Vanooo"
Devano sedikit terkejut, tapi setelahnya dia tertawa dan membalas pelukan yang kekasihnya itu berikan seraya mengusap kepalanya.
"Pagi Ra"
"Pagi juga Van." Kata Adara dengan penuh semangat
Melihat kekasihnya yang terlihat begitu bersemangat membuat Devano merasa senang.
"Yuk berangkat nanti kamu terlambat." Kata Devano
"Kamu kuliah jam berapa?" Tanya Adara begitu keduanya masuk ke dalam mobil
"Jam sepuluh masih lama dan masih cukup untuk antar kamu ke kampus." Kata Devano
Adara mengangguk faham lalu memakai sabuk pengamannya dan menatap Devano kala pria itu mulai melajukan mobilnya.
"Vann"
"Hm ada yang mau kamu ceritaiin?" Tanya Devano
"Adaa"
"Cerita apa, bilang aja." Kata Devano dengan senyuman manisnya
"Tadi malam Ayah ke rumah." Kata Adara
"Pasti kamu senang." Kata Devano
"Iyaa senang banget Van apalagi tadi malam Ayah perhatian banget sama aku." Kata Adara dengan antusias
Devano menanggapinya dengan senyuman, dia senang melihat Adara bahagia.
"Aku udah pernah cerita belum Van kalau Ayah pernah ajak aku tinggal bareng sama dia dan keluarganya?" Tanya Adara
"Belum, kamu jarang cerita masalah Ayah kamu." Kata Devano
"Kalau gitu aku cerita ya? Waktu itu Ayah pernah ajakin aku tinggal sama-sama, tapi aku gak mau karena aku tau banget gimana bencinya keluarga Ayah ke aku sama Bunda, kecuali Kakek karena cuman Kakek aja yang menerima aku sama Bunda." Kata Adara
"Jadi kamu menolak? Terus apa kata Ayah kamu?" Tanya Devano
"Ayah ngerti, tapi sebagai gantinya dia minta aku berenti kerja dan bayari semua uang kuliah aku meskipun awalnya aku nolak pada akhirnya aku cuman bisa nerima karena Ayah bilang dia mau melakukan hal itu sebagai seorang Ayah yang baru bisa dia lakukan sekarang." Kata Adara dengan senyuman
"Jadi hubungan kamu sama Om Juan semakin baik kan?" Tanya Devano
"Baik bangett." Kata Adara senang
"Aku udah pernah bilang bagaimana pun juga dia itu Ayah kamu Ra." Kata Devano
"Iya Van meskipun kalau boleh jujur aku masih sakit hati untuk semuanya, tapi aku mau buat Bunda senang karena dia bilang harapan terbesarnya adalah melihat aku dan Ayah bisa berhubungan layaknya orang tua dan anak." Kata Adara
Devano tersenyum lalu tangannya terulur untuk mengusap kepala Adara dengan sayang tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.
"Pulang jam berapa nanti?" Tanya Devano
"Jam tiga"
"Nanti aku jemput hari ini aku cuman ada dua mata kuliah jam dua siang udah selesai." Kata Devano
"Hm oke nanti kita pulangnya nonton yuk Van." Ajak Adara
"Nonton?"
"Iya nonton ada film bagus tau." Kata Adara
"Boleh"
Adara jarang mengajaknya pergi dan Devano tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang jarang terjadi itu.
Cukup lama perjalanan mereka mungkin sekitar tiga puluh menit hingga akhirnya mereka sampai juga di kampus Adara. Memarkirkan mobilnya di area fakultas sang kekasih Devano ikut turun dan membuat Adara kebingungan sendiri.
"Eh Van kok kamu ikut turun?" Tanya Adara
"Mau anterin kamu ke kelas." Kata Devano santai
Adara ingin menolak, tapi tidak jadi dia malah mendekat dan merangkul lengan kekasihnya itu dengan sayang.
Hari ini kelas Adara berada di lantai bawah dan tak butuh waktu lama keduanya sampai juga sebelum pergi Devano melihat ke dalam, sudah cukup ramai.
"Makasih Van udah anterin aku sampai sini." Kata Adara dengan senyuman manisnya
Devano mengangguk sambil ikut tersenyum lalu dia mengusap pelan kepala Adara sebelum beranjak pergi.
"Yaudah aku ke kampus dulu ya? Kalau udha pulang jangan lupa kabarin." Kata Devano
"Siappp"
Mencubit pelan pipi kekasihnya Devano melangkahkan kakinya pergi, tapi baru beberapa langkah dia kembali menoleh ketika mendengar suara seorang pria. Raut wajahnya berubah kesal ketika melihat pria itu mendekati kekasihnya bahkan merangkulnya meskipun Adara langsung menepis tangannya.
Mau cari mati rupanya.
"Eh Vano"
Adara terkejut, dia kira kekasihnya itu sudah pergi.
"Jauhin tangan lo dari Adara." Kata Devano dengan mata tajamnya
Adara tersenyum mendengarnya, dia memang suka kesal dengan Raffa yang sering menggodanya.
"Siapa Ra?" Tanya Raffa pada Adara
Devano berdecak kesal dia meraih tangan Adara dan menunjukkannya pada Raffa dengan raut wajah tak bersahabat.
"Tunangannya, jauh-jauh dari Adara! Dia punya gue!" Kata Devano penuh penekanan
Baru ingin bicara Raffa sudah di dorong masuk oleh Adara.
"Sana Raf masuk ke kelas"
Begitu pria itu masuk Adara menatap kekasihnya yang terlihat sangat kesal dan baru saja ingin bicara Devano sudah lebih dulu bersuara.
"Jauh-jauh sama dia jangan berani kamu dekat-dekat sama dia, gak boleh!" Kata Devano
Adara tertawa lalu menganggukkan kepalanya.
"Iya Vano"
"Awas ya? Aku gak bakal segan buat pukul dia kalau lancang kayak gitu sama kamu." Kata Devano serius
"Iya Devano aku ngerti ehh tuh dosen aku udah datang aku masuk dulu ya? Kamu hati-hati di jalan, aku sayang kamu Van." Kata Adara sambil berlari masuk ke dalam
Tersenyum tipis Devano kembali melangkahkan kakinya dan pergi ke parkiran karena dia juga harus segera ke kampus.
Awas saja kalau pria itu berani mendekati gadisnya, dia tidak akan tinggal diam.
°°°
Alex sejak tadi memperhatikan teman baiknya yang terlihat murung bahkan sangat sensitif sudah seperti wanita yang sedang pms padahal sekarang mereka sedang makan di kantin. Pesanan belum datang Devano masih sibuk menatap layar ponselnya dengan raut wajah datar, dia menunggu pesan dari kekasihnya.
Sebelumnya Adara bilang dia ada jeda di jam dua belas sama seperti Devano, tapi sampai sekarang gadis itu belum mengirim pesan juga padahal Devano sudah melakukan nya berkali-kali, menyebalkan. Tak hanya itu Alex juga ke kantin dengan mengajak Cessa yang membuat Devano harus jadi penonton pasangan kekasih itu di kantin.
Berdecak kesal Devano meletakkan ponselnya begitu saja di meja membuat kedua orang di hadapannya menatapnya dengan bingung.
"Lo kenapa sih Van?" Tanya Alex penasaran
"Diem ah Lex gak mood gue mau ngomong." Kata Devano kesal
Baru akan bicara pesanan mereka pada akhirnya datang juga, berbeda dengan Alex dan Cessa yang terlihat senang Devano tetap sama dia bahkan hanya menatap makanannya tanpa berniat menyentuhnya.
Sampai deringan di ponselnya terdengar membuat Devano langsung melihatnya dan senyuman tipis menghiasa wajahnya kala Adara yang mengirim pesan untuknya.
Maaf Vano baru balas aku habis dari ruang dosen sekarang lagi di kantin sama Kayla, kamu jangan lupa makan
Iya Ra aku juga udah di kantin sama Alex dan Cessa jadi nyamuk aku
Ihh kasiannnya pacar akuu
Yaudah kamu makan aja dulu Van aku juga mau pesan makan dulu
Oke makan yang banyak Ra
Kamu juga
Selesai berbalas pesan Devano meletakkan lagi ponselnya di meja dan mengambil sendok lalu mulai memakan bakso yang tadi dia pesan. Baru beberapa suap Devano merasa di perhatikan dan begitu mendongak dia melihat Alex juga Cessa yang sedang menatapnya.
Kalau boleh jujur mereka berdua cocok.
"Apa?"
"Dih cuman lihat doang." Kata Cessa
"Lihat Alex aja tuh." Kata Devano membuat Cessa memasang wajah kesalnya
"Nyebelin banget sih Van." Kata Cessa
"Memang"
Alex hanya bisa tertawa saja terkadang Devano memang susah di tebak, tapi dia sudha terbiasa.
"Dah Sa makan aja nih aa"
Alex menyuapi Cessa makanan miliknya, tapi sesaat setelahnya gadis itu terbatuk dan langsung mengambil minum yang ada meja.
"Pedes bangetttt"
Cessa memukul kuat lengan kekasihnya yang malah membuat pria itu tertawa dan Devano menggelengkan kepalanya pelan.
Semoga aja mereka berdua jodoh.
°°°
Update dulu nih si Vanooo😘