
Febby baru saja selesai membersihkan dirinya. Setelah beberapa menit Naufal pulang dari rumahnya. Kini Febby langsung berbaring di ranjang sederhananya itu sambil memeluk gulingnya.
Bahkan tadi Febby sengaja langsung masuk ke kamar dan mengunci pintunya demi menghindari pertanyaan Ibunya itu.
Namun, ketika ia baru saja mau memejamkan matanya. Nada notifikasi pesan di ponselnya terdengar, Tapi Febby hanya acuh ia enggan untuk melihat nya.
"Hais.... pasti cuma group kampus kalau gak Alumni ".Batin Febby menebak.
Karena tidak mungkin ada pesan semalam ini jika bukan group . Karena group mereka itu selalu ramai. Entah apa saja yang dibahas oleh penghuni nya. Hingga larut malam dan hampir pajar pun kadang masih ramai.
Drt... Drtt....
Ponsel Febby kembali berdering. Tapi kali ini bukan pesan ataupun chat. Melainkan panggilan. Membuat Febby mengupat kesal. Karena matanya saja sudah lima watt. Tapi ada saja gangguan nya ketika ia akan terlelap ke alam mimpi.
Tanpa ingin membuka matanya lebar Febby langsung menyentuh tombol hijau di layar ponselnya. Jangankan untuk membaca nama si penelpon. Melihat layar ponselnya saja hanya sekilas.
"Hm... ".Sapa Febby dengan suara malasnya.
" Udah tidur ya???".
"Udah".Jawab Febby asal. Karena jujur kini kesadaran nya tinggal setengah karena yang setengahnya mungkin masih tertinggal menuju alam mimpinya tadi.
Terdengar suara kekehan kecil dari seberang telpon. Membuat Febby mengerjapkan matanya. " Setahu gue orang tidur itu tidak bisa angkat telpon loh".Ucap Si penelpon sambil terus terkekeh geli.
"Naufal... " Teriak Febby yang baru sadar akan suara si penelpon. Bahkan Febby langsung bangun dan duduk di ranjangnya. Dia melihat layar ponselnya. Dan ternyata benar di layar ponselnya terlihat dan terpampang nyata nama "Ganteng".
" Hais.... "Febby menepuk jidadnya, karena merutuki kebodohannya. Kenapa ia bisa tidak tahu jika tadi Naufal benar benar sudah menyimpan nomor ponselnya di kontaknya.
" Kenapa baru sadar ya???. Atau baru bangkit dari alam mimpi??? ".Ledek Naufal sambil terkekeh kembali.
" Ngapain sih nelpon malam malam gini??. Udah sampe rumah belum??? ".Tanya Febby sedikit ketus.
" Perhatian banget sih??? ".Goda Naufal sambil mengulum senyumnya. Membuat Febby mencebikkan bibirnya sambil memggerutu.
" Besok kuliahnya jam berapa???. Biar gue yang anterin!!!!. Tadi kata yuni motor loe masih di bengkel kan??? ".Ucap Naufal. Membuat Febby mengerutkan keningnya.
"Loe harus tahu kalau gue gak suka penolakan. Besok biar gue yang anterin!!. Biar bokap loe bisa langsung narik penumpang dan gak bolak balik anterin loe dulu".Ucap Naufal tegas.
" Tapi...
"Ingat gue gak mau terima penolakan".Ancam Naufal tegas. " Besok jam tujuh gue jemput dan jangan berani menghindar ataupun mencoba untuk kabur dari gue!!! ".Sambung Naufal.
Tut.... tut...
Belum juga sempat Febby menjawab telpon nya langsung mati begitu saja. Itu semua karena Naufal yang memutus nya secara sepihak. Membuat Febby kesal dan ngomel sendiri.
" Dia pikir siapa???. Berani ngatur gue. Untung aja ganteng kalau enggak udah gue kebirin tuh orang".Ucap Febby sambil melempar ponselnya ke atas kasur nya.
Lalu Febby kembali berbaring sambil menatap langit langit kamarnya. "Aaahhh.... Resek banget sih tuh orang. Baru juga ketemu dua kali, udah berani aja ngatur ngatur gue".Febby berucap sambil membanting kakinya ke kasur empuknya itu.
" Oh Tuhan... Gue bakal baper nih lama lama kalau terus terusan deket sama tuh cowok. Mana ganteng banget lagi".Guman Febby kesal pada dirinya sendiri.
Tak dapat di pungkiri setiap manusia normal pasti paham lah. Bagaimana susahnya menjaga sikap di depan pria tampan dan sebaik Naufal saat ini. Apalagi dia adalah idaman wanita banget.
Febby hanya tidak mau dirinya sampai baper sendiri. Akan lebih baik jika ia menjaga jarak sebisa mungkin agar tidak pernah merasakan yang namanya patah hati.
Febby memang menanamkan keyakinan pada dirinya sendiri. Dia belum mau mengenal cinta sebelum cita cita dan harapan nya tercapai. Yaitu menjadi seorang dokter sesuai dengan impiannya. Dan menjadi anak yang bisa di banggakan di keluarganya. Karena Febby tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya dan juga kakak nya yang kini membanting tulang di negeri orang demi membantu kebutuhan keluarganya.
"Apa yang harus gue lakukan ya???. Gue belum sanggup patah hati".Lirih Febby sambil memukul mukul kasur empuknya dengan kedua tangannya. Bahkan kaki Febby pun ikut bergerak di bawah sana.
" Lagian tuh orang ngapain sih pake acara inisiatif nganterin gue ke kampus segala. Gak ada kerjaan lain apa ya???. Ntar kalau gue di labrak ceweknya gimana dong??? ".Febby terus saja berandai andi sampai notifikasi pesan kembali masuk ke ponselnya.
Febby meraih ponselnya kembali untuk melihat pesan yang masuk. Dan mulut Febby langsung dibuat mengaga saat membaca pesan yang dikirim oleh Naufal.
📩 : Berani loe ngatain gue ataupun mengupat. Tahu sendiri loe akibatnya".
TBC