
"Kau sudah bangun sejak tadi??? ". Calista menatap tak percaya jika pria tampan dengan rayang tegas dan mata hazel itu yang saat ini telah sah menjadi suaminya ternyata sudah bangun sejak tadi. Dan itu artinya Barra pun mendengar semua gumanannya.
Calista membelalakkan matanya menahan gengsi karena malu. Jika sampai apa yang ada di dalam pikiran nya saat ini memang benar adanya.
Namun, Barra tak menjawab pertanyaan istrinya. Pria itu malah mulai menyibak selimut dan ingin beranjak dari ranjang. Mata Calista kembali terbuka lebar saat ia melihat Lobak milik suaminya tergelantung begitu saja.
" Hei, kau mau kemana??? ". Calista bertanya dengan konyolnya. Tapi tatapan matanya sedikitpun tak teralihkan dari si Lobak panjang itu.
Wanita itu terus menerbangkan pikiran pikiran kotor dalam otaknya. Ia mungkin baru sadar dan baru melihat dengan intens nya . Jika Lobak itulah yang sudah membuatnya terkulai tapi tak layu selama beberapa hari ini.
" Tunggu disini sebentar!!. Dan jangan dulu turun dari ranjang! ". Perintah Barra dengan ekspresi datarnya.
Calista pun dengan bodohnya malah menganggukkan kepalanya. Entah wanita itu dengar atau tidak yang dikatakan suaminya barusan. Karena mata dan pikiran nya sudah berpusat pada lobak yang menggantung dsn seolah menari nari ingin meminta untuk disentuh oleh nya kembali.
"Oh Tuhan.... Calista sadar lah!!. Kenapa kau jadi mesum begini hanya karena Lobak barat itu". Calista memukul mukul kepalanya sendiri. Berusaha untuk menyadarkan dirinya, Namun, sia sia saja pikirannya yang sudah omes selalu saja mengingat adegan panas yang mereka lakukan semalam.
Ceklek...
Pintu kamar mandi kembali terbuka, membuat Calista langsung menatap kearah pintu tersebut. Wanita itu bahkan kini sudah duduk dengan bersender di kepala ranjang. Calista tak berniat sedikitpun untuk beranjak dari tempat tidur.
"Mau mandi sekarang atau sarapan dulu??? ". Tanya Barra masih dengan ekspresi datarnya.
Calista memanyunkan bibirnya karena Lobak yang selalu mencuri perhatian nya. Kini malah sudah tertutup handuk bewarna putih.
" Sarapan saja ". Jawab Calista tersenyum penuh arti.
Barra pun hanya menganggukkan kepalanya. Pria itu tidak curiga sedikitpun jika sarapan yang di maksud oleh Calista bukanlah sarapan pada umumnya. Tapi, wanita itu meminta sarapan yang istimewa.
Calista bangkit dari ranjangnya. Saat Barra mendekat kearah nakas untuk mengambil ponselnya. Meminta petugas hotel menyiapkan sarapan dan membawakannya ke kamar mereka.
Tapi Calista langsung mencegahnya. Wanita itu meraih tangan Barra dengan senyum menggodanya. Bahkan Calista sudah berdiri di samping tubuh kejar suaminya. Kening Barra dibuat mengkerut ketika Calista malah membalik kan tubuh nya.
" Aku ingin sarapan kamu sayang". Bisik Calista dengan suara sensualnya.
Terang saja ucapan Calista membuat tubuh Barra meremang. Pria yang memang memiliki iman cetek dan selalu membutuhkan ************. Seperti Barra tentu tidak akan menolaknya. Apalagi yang menggodanya saat ini adalah istrinya sendiri.
Yang tadinya Barra berniat kembali menggempur Calista setelah mereka sarapan. Tapi, niat itu langsung di urungkan oleh Barra saat satu tangannya sudah Calista daratkan pada salah satu bukit kembarnya.
" Aku rela tidak bisa berjalan asalkan aku bisa diberi kenikmatan ". Jawab Calista tanpa rasa takut sedikitpun.
Barra menyeringai licik. Calista sepertinya belum begitu memahami bagaimana tenaga Barra sebenarnya. Jika semalam saja sudah membuat Calista ingin menyerah. Maka hari ini dapat Barra pastikan jika istrinya itu. Benar benar tidak akan bisa berjalan.
Keduanya langsung berciuman panas dengan sesapan sesapan menuntut. Bahkan baik tangan Calista maupun tangan Barra sudah tidak bisa di kondisikan lagi. Calista sibuk menyentuh Lobak yang selalu membuatnya travelling. Sedangkan Barra kembali meremas kuat dan menyusuri bagian bagian sensitif istrinya.
"Aaakhhh... "
Satu rintihan halus kembali terdengar saat Barra menyesap salah satu bukit kembar miliknya. Membuat Calista semakin panas dibuatnya.
Kalo ini keduanya tidak membutuhkan pemanasan yang lama. Karena keduanya pun sudah tidak sabar lagi untuk saling memasuki. Hingga Barra mendorong tubuh Calista. Membuat tubuh itu kini kembali terlentang di atas ranjang.
Senyum menggoda Calista pun berhasil membuat Barra semakin bersemangat. Wanita itu memang sangat liar. Maka Barra tidak akan segan untuk menghukumnya.
" Akhhhh... ".
" Ohh... Shiitttt".
Umpatan dan juga lenguhan nikmat kembali terdengar. Ketika si Lobak kembali terbenam di dalam sana. Bahkan Barra tak segan segan untuk terus menekan nya sampai masuk sepenuhnya.
"Bagaimana?. Hem??? ". Goda Barra sembari tersenyum licik.
" Kurang goyangan!! ". Jawab Calista dengan suara seraknya.
" Apa begini??? ".
" Lebih cepat lagi!!! ".
" Akhhh... ".
Barra tersenyum puas ketika melihat ekspresi wajah Calista yang semakin membuatnya kalab tingkat akhirat itu. Kenikmatan tubuh yang tak pernah Barra dapatkan dari wanita manapun juga. Dan hanya Calista yang mampu membuatnya ketagihan sampai tidak mau berhenti begini. Bahkan mantan istrinya pun tidak senikmat tubuh nya Calista.
Barra tidak akan pernah melepaskan begitu saja istrinya. Apapun itu tentang Cinta Barra tidak perduli. Entah ia sudah jatuh Cinta atau belum. Yang terpenting adalah Calista tidak akan pernah lari darinya lagi.