
Sudah berhari hari sejak Manda dibawa kerumah sakit hari itu. Kini wanita cantik dengan setelan syar'i nya hanya bisa berbaring lemah di atas brankar pasien. Karena kondisinya yang semakin memburuk. Ia juga dibantu dengan alat alat medis. Untuk mencerna asupan makanan.
Lea dan tante Manda juga tak keberatan untuk ikut menjaga Manda. Jika Jery harus ke perusahaan. Mayra juga setiap pulang sekolah selalu ikut kerumah sakit bersama Oma nya. Dokter Ridwan pun sering berkunjung untuk ikut memberikan semangat nya pada Manda sepupunya itu.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Jery baru saja selesai meeting dengan klien nya. Jery memutuskan untuk tidak kembali ke perusahaan. Karena ia akan langsung kerumah sakit, dimana sekarang rumah sakit adalah rumah keduanya. Sebab, Jery tak pernah absen untuk selalu menemani istrinya.
Meskipun Jery sangat rapuh jika ia melihat keadaan Manda akhir akhir ini. Tak ada yang bisa mereka lakukan lebih. Semua dokter sudah menyerah, bahkan dokter yang ia datangkan dari Amerika dan dokter terkenal lainnya. Sudah angkat tangan. Kini sel kanker istrinya sudah menyebar ke seluruh jaringan sel di dalam tubuhnya.
Manda juga sudah tidak mau lagi untuk kemoterapi karena bagi Manda yang juga seorang dokter. Cara itu hanya untuk mencegah dan meredakan sel kanker agar lebih lambat menyebar. Namun, berbeda kasus nya dengan dirinya. Yang saat ini sudah stadium akhir.
Manda hanya mampu untuk selalu kuat. Dan memperdalam ibadahnya kepada sang Pencipta. Ia tahu kondisi tubuhnya sudah semakin melemah. Bahkan untuk makan dan minum saja. Ia dibantu dengan alat alat medis.
Manda bagaikan seorang manusia yang melebihi orang lumpuh. Ia bergerak pun harus dibantu oleh orang lain.
Ceklek...
Pintu ruangan vvip terbuka dari arah luar. Membuat Manda langsung mengangkat sudut bibirnya untuk membentuk senyum. Senyuman yang sangat tulus dan manis. Namun, selalu membuat Jery miris dan selalu membuatnya teriris.
"Sayang, kamu sudah pulang??? ".Tanyanya sambil terus mengembangkan senyuman nya
" Apa Mami sedang pulang???. Kenapa kamu sendirian sayang???. Seharusnya kamu telpon aku!! ".Cecocos Jery saat melihat ruangan rawat istrinya terlihat sepi.
" Mami sedang nemenin Sherly periksa kandungan mas. Tadi Mami juga kesini dulu kok, Tadi aku gak sendirian mas ada temen aku juga".Jawab Manda sambil terus tersenyum. Berusaha menenangkan suaminya yang dapat Manda lihat dengan jelas jika suaminya itu sangat lelah.
Jery melirik ke arah nakas dan kembali melihat bouquet bunga mawar putih. Seperti biasanya, bunga itu selalu ada di atas nakas. Setiap ia pulang dari perusahaan. Sudah tiga hari di rumah sakit. Dan selama itu juga Jery melihat bunga yang sama setiap harinya.
"Teman kamu laki laki atau perempuan sayang??? ".Tanya Jery tiba tiba. Karena selama ini ia tidak pernah bertanya.
"Jangan ada niatan untuk menjodohkan nya padaku sayang!!!. Karena sampai kapan pun tidak ada yang bisa menggantikan posisi mu di hatiku".Tegas Jery yang sudah bisa menebak alur bahasan istrinya.
Manda hanya tersenyum. Padahal ia baru ada niatan untuk itu. Melihat bagaimana baiknya dan lembutnya teman barunya itu. Padahal mereka baru bertemu beberapa kali. Tapi Manda yakin, jika dia adalah gadis yang benar benar tulus. Apalagi Mayra juga sudah sangat dekat dengannya.
Padahal pertemuan Mayra dengannya juga baru tiga kali. Namun, karena ketulusan gadis itu. Membuat Mayra jadi mudah dekat dengannya. Belum lagi karena gadis itu sering datang berkunjung. Membuat Manda sering terhibur dan selalu diberikan semangat olehnya.
"Mas, bisa kita bicara?".Tanya Manda sambil menyentuh punggung tangan suaminya pelan.
" Aku tidak akan mau jika itu tentang bahasan yang tidak akan pernah aku lakukan".Jawab Jery tegas.
"Tapi itu semua demi kalian mas. Mas masih membutuhkan pendamping hidup yang sehat , yang bisa mengurus semua kebutuhan mas, baik itu lahir maupun batin. Dan Mayra juga membutuhkan peran ibu. Aku harap mas bisa menikah lagi sebelum aku pergi!!!".
" Manda... Stop!!!. Kau tidak akan pergi kemanapun juga. Kamu harus sembuh sayang!. Aku yakin semuanya akan baik baik saja!. Berhenti bicara yang tidak tidak!!!".Sahut Jery tegas.
Jery melonggarkan tangan istrinya dari punggung tangannya. Lalu ia beranjak berniat keluar ruangan saja. Karena ia sangat tidak terima akan usul yang tidak masuk di akal bagi Jery.
"Anggap saja ini permintaan terkakhir ku mas!!! ".Membuat Jery berhenti melangkah.
Jery menghela nafasnya kasar sambil memejamkan matanya. Lalu ia pun kembali melangkah keluar ruangan. Sungguh tidak ada yang mau menjalani semua ini. Tapi Jery juga tidak rela jika istrinya benar benar pergi. Meninggalkan nya untuk selamanya.
Tapi Jery lebih tidak rela lagi jika ia harus menikah kembali di dengan di saksikan oleh wanita yang sangat ia cintai. Jery tahu jika semua ini pasti sedikit banyaknya akan membuat Manda terluka. Tapi, juga bahagia karena bisa melihat suaminya bersanding dengan wanita yang nantinya bisa menggantikan posisinya.
Tak ada wanita yang mau di madu. Apalagi melihat suami kita menikah lagi di depan matanya sendiri. Setiap wanita pasti menolak untuk di poligami. Tak banyak dari mereka memilih jalan perpisahan dengan cara bercerai. Daripada harus berbagi suami dengan wanita lain.