
"Kak... ".Pekik Yuni terkejut saat tubuhnya melayang ke udara ketika Naures langsung membopong tubuhnya menuju ranjang mereka.
" Kenapa, hm??? ".Naures malah terlihat tersenyum licik. Membuat Yuni jadi ketar ketir sendirian.
Yuni sudah bisa menebak jika acara selanjutnya adalah area pertempuran panas. Yang membawa mereka ke puncak nirwana bersama. Dimana Naures suaminya itu selalu bisa membuatnya tak berdaya.
Dan benar apa tebakan Yuni. Kini Naures sudah mulai menciumi leher jenjangnya. Dan sambil meremas pelan bukit sintal yang menantang itu. Tubuh Yuni sudah meremang tak karu karuan ketika Naures mulai menyusupkan tangannya di dalam sana. Menyentuh area sensitif nya dengan manjah.
Tapi saat Naures dan Yuni sedang asyik bertukar saliva. Tiba tiba ponsel milik Naures berdering.
Drt.... Drttttt...
"Sayang ada telpon".Ucap Yuni disela ciuman nya.
" Biarkan saja sayang!!!. Ada yang lebih penting dari mengangkat telpon ".Jawab Naures acuh.
Dan ia malah kembali memagut bibir ranum istrinya. Menyesapnya semakin dalam. Tapi lagi lagi dering ponselnya kembali menjeda aksi nakalnya. Dengan kesal Naures meraih benda pipih yang tadi sempat ia letakkan di atas nakas.
Wajah Naures berubah terkejut saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. " Iya Hallo Pa, ada apa??? ".Tanya Naures ketika ia sudah mengangkat telpon yang ternyata dari papanya.
" Apa kalian besok jadi pulang ke Jakarta??? ".
" Iya pa jadi, nih sudah prepare ".Sahut Naures bohong. Membuat Yuni menggeleng kan kepalanya.
"Oh yasudah, kalau bisa sebelum jam makan siang kalian sudah sampai. Karena besok ada rapat pemegang saham di perusahaan pukul dua siang. Papa harap kau bisa ikut hadir!!! ".
" Baik pa, akan Naures usahakan".
"Hm, Hanya kau dan kak jery andalan papa saat ini. Karena kak Al masih fokus pada pendidikan nya. Sedangkan kak jeny dan Naura kau tahu sendiri sekarang. Mereka tidak bisa di andalkan lagi, Karena para suami mereka juga memiliki perusahaan sendiri".Rayen berucap penuh harap pada putra ketiganya itu.
" Iya pa, Naures paham. Sudah dulu ya pa, besok Naures pagi pagi udah take out kok".Naures terdengar terburu buru untuk menutup telpon nya. Membuat Rayen mengernyitkan dahinya.
"Res, jangan kau siksa terus menantu papa itu!!! ".Ucap Rayen dari seberang telpon.
" Pa ini bukan siksaan tapi kebutuhan".Sahut Naures dengan santainya. Membuat Yuni langsung melotot tak percaya akan jawaban suaminya itu.
"Res, papa tidak mau besok kalian telat bangun dan ketingalan pesawat. Lagian kasian calon cucu Papa disiram terus menerus oleh kamu".Seloroh Rayen tak sadar diri jika dulu ia juga begitu sama istrinya.
" Sudahlah pa, jangan ganggu aktivitas ku!!!. Gangguin saja istri papa itu!!! ".Ucap Naures sambil terkekeh.
Tut... tut... tut...
Sambungan telpon pun langsung berakhir setelah Naures mengucapkan hal itu. Membuat Rayen hanya bisa menggeleng kan kepalanya saja. Akan sikap putra putranya itu.
" Kak, gak sopan ih berkata begitu sama papa".Yuni berkata sambil menatap tajam kearah suaminya.
"Habisnya papa sok menggurui sayang. Padahal kan aku bibitnya dia juga. Ya jelas nurunin sifatnya bukan??? ".Jawab Naures sambil tersenyum.
" Tapi kan...
"Nggak ada tapi tapian lagi sayang. Sekarang ayo kita mulai lagi dari awal!!! ".Selorohnya sambil tersenyum mesum.
Drt.. drt...
Yuni langsung tertawa terbahak bahak saat melihat raut wajah suaminya yang kesal. Karena baru saja akan memulai berciuman. Ponsel Naures kembali berdering.
" Sial.... Siapa lagi sih??.Ganggu kesenangan orang saja".Kesal Naures yang langsung mengambil kembali ponselnya yang tadi ia lempar di samping tempat tidur istrinya.
Lagi lagi Naures mengupat kesal saat melihat nama Naufal tertera di layar ponselnya. "Iya apaan Fal, gue sibuk nih".Ketus Naures tak sabaran.
" Sibuk apaan loe malam malam gini bro???. Menggarap sawah atau mencangkul??? ".Ledek Leon dari seberang telpon sambil di sambut galak tawa dari teman temannya semuanya.
" Haiss... "Naures semakin menggeram kesal. Saat sadar sekarang pasti telpon ny sedang di loudspeaker. Makanya mereka semua bisa mendengar suaranya.
Naures bangkit dari atas tubuh istrinya. Dan langsung memberi kode pada Yuni jika ia izin menerima telpon dulu dari sepupu dan teman temannya itu. Dengan senang hati Yuni memberi izin. Karena bagi Yuni ini kesempatan nya untuk segera tidur. Agar ketika suaminya kembali nanti ia sudah terlelap.
"Uh, kita aman sayang. Ayah udah pergi".Lirih Yuni sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit.
" Sayang, jangan tidur duluan karena setelah ini kita lanjutkan lagi!!! ".Teriak Naures dari arah balkon.
" Iya suamiku".Jawab Yuni sambil mengulum senyumnya.