Married Accident

Married Accident
Emak dan anak



"Bang, katanya mau ke kantor kan??? ".Febby langsung bertanya dengan Naufal ketika ia baru keluar kamar.


" Loh ini kan hari libur, memangnya nak Naufal masih kerja?. gak libur juga gitu??? ".Kini ibunya Febby yang bertanya.


" Yaelah bu, bang Naufal itu polisi, gak ada hari libur di pekerjaan mereka. Tanggal aja semuanya pada hitam semua kagak ada wujud tanggal merah sama sekali ".Jawab Febby sambil mendaratkan bokongnya pada sofa di samping Naufal.


Naufal rasanya ingin tertawa lepas saat ini juga mendengar semua kata kata Febby. Yang memang benar adanya. Jika pekerjaan nya tidak ada kata libur sama sekali. Jika ingin libur harus ajukan cuti dan itupun dengan alasan yang jelas. Makanya kebanyakan anggota jarang sekali kumpul keluarga nya apalagi waktu hari raya yang hanya satu tahun sekali. Sebab, di saat semua orang sedang kumpul keluarga mereka malah sibuk mengamankan pos pos nya. Demi kelancaran lalu lintas dan mengantisipasi adanya hal hal yang tidak di inginkan.


"Bener begitu nak???".Ibunya Febby pun sempat bengong dan sedikit tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Febby barusan, makanya ia bertanya kembali dengan Naufal untuk membuktikan kebenaran nya.


Naufal pun mengangguk kan kepalanya sambil tersenyum. " Iya bu, memang itu sudah tugas dan sudah kewajiban kami untuk tetap siaga".Jawab Naufal jujur membenarkan ucapan Febby.


"Tuh... Dengerin bu!!!. Kagak percayaan sih sama anak sendiri juga".Sindirnya sambil mencebikkan bibirnya.


" Habisnya kamu itu tukang bohong sih. Calon dokter suka bohong sama orang tua. Gimana nanti kalau udah beneran jadi dokter?. Apa iya obat perangsang kamu bilang vitamin? ".Seloroh Ibunya Febby tanpa malu bicara begitu di depan Naufal.


" Hahahha... itu memang vitamin bu. Vitamin kenikmatan".Sahut Febby mulai tak berfilter.


"Dasar anak kurangajar, yang ada pasien kamu malah kabur semua".Cerocos Ibunya sambil menatap Febby dengan tatapan tajamnya.


Naufal hanya geleng geleng kepala saja melihat aksi ibu dan anak yang setiap kali ia lihat selalu saja berantem. Tapi terlihat lucu juga, membuatnya ikut terhibur dengan semua ucapan ucapan yang keluar dari bibir ibu dan anak itu.


" Bang... abang mau tidak dikasih obat perangsang??? ".Goda Febby sambil mengulum senyumnya.


Pukkk...


Satu bantal sofa langsung melayang dan tepat mengenai kepalanya Febby. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Ibunya sendiri.


" Dasar ibu tiri".Cibir Febby memanyunkan bibirnya.


" Yaelah bu, Febby cuma beecanda doang kali. Serius amat nih emak emak. Herman deh gue".Ucap Febby sambil membenarkan ikat rambutnya.


"Untung calon mantu ibu orangnya kalem. Kagak gerantangan kayak elu".Ibunya bicara sambil memuji Naufal dan juga menyudutkan Febby. Membuat Naufal tersenyum sopan pada wanita paruh baya itu.


Naufal pun mengambil bantal sofa yang tadi di lempar ibunya Febby. Sedangkan Febby hanya mendengus kesal mencelos setelah melirik ibunya sendiri. "Aku gak butuh obat perangsang buat bikin kamu merem melek".Bisik Naufal dengan mengulum senyumnya.


Deg...


Febby langsung diam dan menatap Naufal dengan tatapan tajamnya. Sedangkan yang ditatap hanya bersikap santai saja. Tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. Lalu Febby mengepalkan tinjunya kearah Naufal.


"Eh... eeh... ehh... Mau ngapain kamu???. Mau nyakitin calon mantu ibu?. Hm? ".


Febby kembali mendengus kesal karena lagi lagi Naufal mendapatkan pembelaan dari Ibunya. Hal itu tentu saja membuat Naufal tersenyum mengejek pada Febby.


" Calon mantu, calon mantu. Memangnya ibu mau menikahkan siapa sama bang Naufal?. Kan anak ibu yang cewek cuma aku doang? ".Seru Febby sambil menaik turunkan alisnya.


" Ada anak ibu satunya. Orangnya lebih nurut dan juga lebih sopan dibandingkan kamu. Cewek tapi kelakuannya lebih mirip preman. Mana mau nak Naufal sama cewek urakan kayak kamu".Cibir Ibunya dengan kata kata pedasnya.


"Oh jadi selama ini ibu selingkuh di belakang Ayah ya?. Sampe punya anak cewek juga gitu".Balas Febby membuat Naufal tepuk jidad sendiri akan kegersekan Febby ini.


Sementara Ibunya sudah merah padam menahan amarahnya akan kelakuan putrinya itu. Anak dan Ibu memang benar benar seperti kucing dan anjing saja. Tidak ada yang mau mengalah sedikit pun. Dua duanya hampir tiap hari bertengkar hanya karena masalah sepele saja. Tapi ketahuilah dia duanya juga saling menyayangi. Kasih sayang seoarang ibu ke anaknya tak kan ternilai harganya. Meskipun mulut dan bibirnya sering bicara kasar dan judes tapi hatinya sangat lembut.


Mereka hanya tidak mau jika putri nya salah pergaulan. Karena seorang anak perempuan harus benar benar dijaga dan didik dengan ektra hati hati dan penuh kesabaran. Karena kita sebagai wanita harus bisa juga menjaga harga diri dan menjaga mahkota kita sampai benar benar menemukan pria yang halal untuk menyentuhnya.


Itulah hal yang selalu di tanamkan oleh Ibu dan Ayahnya Febby. Mereka selalu berpesan agar putri nya bisa menjaga diri dan kehormatan nya sendiri. Jangan sampai dirusak oleh pria tak bertanggung jawab yang mengatas namakan semuanya dengan Cinta.