
Calista terus saja berpikir keras di dalam kamar milik Celine. Gadis kecil itu sejak tadi sore tidak mau jauh darinya. Bahkan sampai ia tertidur pulas pun masih tetap memeluk erat pinggang nya.
"Oh ya Ampun,apa yang harus aku lakukan sekarang? ". Batin Calista menepuk jidadnya sendiri. Tiba tiba otaknya ngebleng dan tidak bisa berpikir dengan jernih.
Apalagi saat ini ia malah terkurung dalam. mension mewah milik pria yang telah merenggut kesuciannya. Bahkan sekarang ia juga terjebak dengan gadis kecil yang merupakan anak kandung sang pria tersebut.
"Oh my god... Oh My God.... Calista come on ini bukan akhir dari hidupmu bukan? ".
Gadis itu terus berguman sendiri. Memikirkan cara agar ia bisa lari dari masalah ini. Karena ia tidak mau terjebak terlalu dalam oleh kehidupan ayah dan anak itu. Meskipun tubuhhya sudah ternodai dan ia bahkan kehilangan kegadisannya.Calista masih waras untuk masuk dalam rumah tangga orang lain.
Apalagi tadi Calista dengar sendiri jika Barra dan istrinya belum resmi bercerai sampai saat ini. Entah itu kebenaran ataupun hanya gosip belaka. Tapi yang jelas Calista tidak mau menjadi boomerang rumah tangga orang lain yang sedang bermasalah.
Calista melepaskan belitan tangan mungil milik Celine dengan sangat hati hati. Agar gerakan nya tidak mengusik tidur gadis kecil itu. Lalu ia pun mulai melangkah pelan menuju arah pintu kamar untuk keluar.
Tapi saat dirinya sudah berhasil keluar kamar. Dan menghela nafasnya lega. Ketika ia menoleh habis menutup pintu kamar Celine. Ia malah di kagetkan oleh sosok pria tampan yang saat ini berdiri tepat di belakang tubuhnya.
"Astaga... Kau itu seperti hantu saja". Calista memegangi jantungnya karena saking terkejutnya.
" Minggir aku ingin pulang!!! ". Seru Calista ingin mendorong tubuh sang pria. Sebab, jam di dinding pun sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Beruntung tadi ia ikut makan malam sambil menyuapi Celine. Jadi, Calista juga sudah punya tenaga untuk menghadapi kenyataan hidupnya.
" Siapa yang menyuruh mu pulang??? ". Barra malah bertanya dengan nada tidak suka nya.
" Hei, aku tidak perlu izin padamu yang bukan siapa siapa saya tuan Barra yang terhormat ". Jawab Calista dengan menekankan kata katanya.
Barra hanya menarik sudut bibirnya tersenyum mengejek. " Tapi sayangnya mulai saat ini kau harus minta izin padaku!. Dan ingat satu hal aku tidak menerima penolakan". Barra menyeringai licik dan langsung membopong tubuh Calista dengan tanpa aba aba.
" Hei... Lepas kan aku!!. Berengsek ". Calista berontak dan berteriak sambil memukul muluk dada sang pria yang tak merespon apapun juga.
Ia malah terus melangkah dan mendorong sebuah pintu kamar ruangan. Yang Calista yakini itu adalah kamar milik sang pria tersebut. Ia menurunkan Calista setelah sampai di dalam kamar. Dan langsung mengunci pintu kamar tersebut tanpa sempat Calista mencegahnya.
"Mau apa kau??? ". Tanya Calista gugup saat pria itu malah membuka piyama tidurnya begitu saja. Lalu berjalan mendekati Calista.
"Jangan macam macam padaku!! ". Ucap Calista semakin gugup saat satu tangan Barra kembali menyentuh aset kembarnya. Dan mulai meremasnya pelan.
Calista lagi lagi memejamkan matanya saat sentuhan itu malah membuat tubuhnya meremang. Seringai licik Barra kembali terbit saat ia tahu tubuh Calista menginginkan lebih.
"Akh... ".
Satu lenguhan kembali keluar dari mulut Calista. Sebelum bibirnya dibungkam oleh ciuman panas Barra. Dada bidang pria itu membuat tubuh Calista menegang. Apalagi satu tangan Barra telah menyusup masuk dibawah sana.
" Anggap saja ini hukuman untukmu, karena kau sudah berani menolakku sayang". Lirih Barra dengan suara beratnya.
Mata Calista terbuka lebar saat Barra mengatakan hal itu. "Apa maksudnya??? .Akh...". Tanya Calista sambil merasakan tusukan jari Barra dibawah sana.
Tapi bukannya menjawab. Barra malah langsung menarik paksa bawahan Calista. Hingga ia bisa melihat segitiga merah merona menutupi lembah kenikmatan itu.
" Jangan...!! ". Calista menggeleng kan Kepala memohon.
Tapi Barra lagi lagi tak menggubris penolakan Calista. Ia sudah di penuhi kabur gairah hingga ia lupa batasanya. Berada di dekat Calista membuat lobaknya selalu berdiri dan bangkit tanpa diminta.
" Kau bisa menganggapnya ini adalah sebuah pemanasan sayang!!. Sebelum nanti kau terbiasa tiap hari meminta nya sendiri"..
Senyum Barra terbit penuh arti. Membuat Calista berpikir jika semua kata kata Barra mempunyai banyak makna.
"Akh... ". Asyik melamun dan banyak berpikir membuat Calista lupa jika Barra sudah memasukkan kembali Lobaknya kedalam lembah nya itu.
" Sudah mulai enak bukan??? ". Tanya Barra dengan suara beratnya.
" Tidak... " . Jawab Calista tapi Kepala nya mengangguk. Tentu saja ucapan dan tubuhnya tidak sinkron membuat Barra lagi lagi menyeringai.
"Kau telah salah menolak pria Calista Sherly Widyatama". Batin Barra yang masih sudah di sepelekan oleh Calista.