
Jery mengusap wajahnya kasar. Ia pun menjambak rambutnya sendiri. Ia tahu ini bukan istrinya, tapi ia juga bingung dengan perubahan sikap Manda.
Jery melepaskan jam tangan nya, lalu ia letakkan di atas nakas. Setelah itu Jery meraih ponselnya yang ada di samping tempat tidur. Jery nampak sedang menelpon seseorang dan berbicara serius. Ia juga menelpon dengan berdiri di balkon kamarnya.
"Cari tahu semua informasi tentang Dokter yang bernama Ridwan itu!. Jangan sampai ada yang terlewatkan satu pun!!! ".
" Baik Tuan".
Setelah mendengarkan jawaban dari sang asisten kepercayaan nya. Jery kembali menutup ponselnya. Dan menatap indahnya langit malam yang bertaburan bintang bintang.
Mengingatkan Jery pada kenangan indahnya ketika mereka baru menikah dulu. Dimana di tempat inilah dulu Jery membawa Manda. Untuk honeymoon pertama kalinya. Karena acara pernikahannya yang sangat dadakan. Dan karena sebuah insiden yang mempertemukan takdir di antara mereka.
"Aku merindukan kamu yang dulu sayang".Lirih Jery . Tak terasa air matanya ikut menetes. Bukan karena ia cengeng. Tapi trauma akan hubungan kedua orang tuanya dulu kini malah kembali dalam ingatannya.
Jery tidak mau jika sampai Mayra ikut menjadi korban keegoisan kedua orang tuanya. Sama seperti nasibnya dulu.
Jery bingung apa yang sebenarnya kesalahan yang ia lakukan. Hingga istrinya berubah drastis begitu. Bahkan Manda tidak selembut dulu lagi. Sikapnya berubah 180 derajat dari sebelumnya.
Cukup lama Jery sibuk dengan pikirannya sendiri. Hingga tak terasa jam kini sudah menunjukkan pukul 12 dini hari. Tapi sayangnya mata Jery belum mengantuk sedikitpun.
Jery memutuskan untuk masuk dan menutup pintu balkon. Ia membaringkan tubuhnya yang lelah. Di atas kasur empuk nya. Lalu berusaha untuk terpejam. Meskipun sulit, Namun, besok sore mereka harus pulang lagi ke Jakarta. Dan Jery juga tidak membawa sopir. Jadi, ia juga butuh istirahat agar tidak mengantuk di jalan pulang.
🌿🌿🌿🌿🌿
"Papa, bangun!!! ".Mayra mengguncang pelan bahu Jery. Membuat Jery pun langsung mengerjapkan matanya.
Wajah imut dan cantik Mayra membuat Jery menarik sudut bibirnya. Gadis kecil itu selalu nampak menggemaskan. Tapi kenapa Mama nya malah bersikap berbanding terbalik pada putrinya.
" Papa sudah bangun sayang".Jawab Jery dengan suara serak khas bangun tidurnya.
"Udah di tungguin Mama tuh di meja makan untuk sarapan!!!. Ayo pa bangun!!! ".Mayra nampaknya belum puas karena Papanya masih tetap memejamkan matanya meskipun ia menjawab sudah bangun.
" Iya sayang, Papa bangun nih".Jery pun langsung membuka selimutnya. Tapi ia sedikit terkejut karena seingatnya semalam ia sama sekali tidak memakai selimut. Tapi begitu bangun selimut tebal yang membungkus tubuh lelah nya. Bahkan saking lelahnya Jery tidak mendengar adzan sholat subuh.
"Buruan Pa!!!. Kata Mama habis sarapan kita harus pulang !".Rengek Mayra sambil mengerucut kan bibirnya.
" Pulang??? ".Ulang Jery sambil menangkup kedua pipi putrinya. Anggukan kepala Mayra membuat Jery menautkan kedua alisnya. Karena mereka masih mempunyai rencana jalan jalan di sini sebelum pulang. Tapi kenapa istrinya malah memajukan jadwalnya lebih awal untuk kembali ke Jakarta.
" Yasudah, Papa mandi dulu ya. Mayra gabung sama Mama saja!!!. Nanti biar Papa yang bicara dan membujuk Mama untuk meneruskan kegiatan kita sebelum pulang ke Jakarta! ".
Mendengar ucapan Jery Mayra pun tersenyum. Ia memang tak salah memiliki Papa yang sangat perhatian dan pengertian. Oleh sebab itulah Mayra lebih dekat dengan Jery dibandingkan dengan Mamanya sendiri.
"Mayra... Bukannya Mama sudah bilang. Kalau kita harus kembali ke Jakarta setelah sarapan".Seru Manda yang baru saja masuk kedalam kamar.
" Kenapa harus buru buru begini??? ".Jery berusaha untuk tetap tenang karena istrinya lagi lagi membuat sedih Putri nya.
" Mayra sayang. Boleh tinggal kan Papa dan Mama sekarang!. Soalnya Papa ingin bicara dengan Mama dulu ya. Mayra tunggu di luar saja! ".Pinta Jery pelan yang dijawab anggukan kepala oleh Mayra.
" Aku ada rapat dadakan mas. Dan ini mengenai study ku. Jadi, aku harap mas bisa memberi pengertian pada Mayra!!! ".Ucap Manda setelah melihat putrinya keluar dari kamar itu.
Jery pun menarik nafasnya pelan. Sebelum ia memulai percakapan nya. " Aku sudah mengambil keputusan. Dan aku harap kamu bisa menerima keputusan ku ini !!! ".Ucap Jery penuh penekanan.
Manda langsung menoleh dan menatap serius wajah suaminya. " Keputusan??? ".Ulang Manda dengan nada yang mulai tak suka.
" Iya, mulai hari ini kau berhenti saja bekerja!!!. Bukan karena aku tidak mendukung mu untuk mencapai karir. Tapi semua ini demi Mayra. Dia lebih membutuhkan kamu. Aku juga masih sanggup untuk mencukupi kebutuhan kalian ".Ucap Jery tegas.
" Mas... Jangan buat aku untuk memilih. Ini semua impian ku. Aku juga berhak menentukan".Jawab Manda yang tak terima jika ia disuruh untuk pensiun dini sebagai seorang dokter.
"Kau bisa membuka praktek sendiri Manda!!!. Dan waktunya juga lebih fleksibel. Jangan egois!. Sejak dulu aku tidak setuju kau bekerja dirumah sakit orang lain. Sedangkan aku juga memiliki rumah sakit sendiri. Akhir akhir ini kau selalu sibuk dengan pekerjaan mu dan duniamu sendiri. Dan mulai menelantarkan Mayra anak kamu sendiri".Jery kembali menarik nafasnya pelan. Mencoba untuk tetap sabar dan tidak emosi.
"Maaf mas, aku tidak bisa".Jawab Manda tegas.
"Kau lihat Yuni!. Dia juga seorang dokter. Sama seperti mu. Tapi, Yuni masih bisa meluangkan waktunya untuk anak-anak dan suaminya. Bahkan sekarang apa yang kau lakukan sama sekali tidak menunjukkan sebagai seorang istri".Sambung Jery yang mulai terbawa emosi.
"Oh, jadi mas sekarang sudah mulai membanding bandingkan aku dengan wanita lain. Oke... Jika Mas sudah mulai tidak nyaman dengan pernikahan ini. Mas boleh menikah lagi!. Dan jika mas mau mas juga boleh menceraikan aku!!! ".
Plak....
Satu tamparan mendarat sempurna di pipi mulus Manda. Jery sudah tidak mampu untuk menahan emosinya. Ketika Manda dengan mudahnya bilang cerai padanya. Dan mengatakan hal konyol seperti itu.
" Aku kecewa padamu".Lirih Jery sambil menatap telapak tangannya. Sedangkan Manda masih diam karena terkejut Jery menamparnya tiba tiba. Padahal selama ini Jery tidak pernah kasar padanya.
"Pikirkan baik baik kata kataku tadi mas!!! ".Lirih Manda sebelum ia beranjak keluar kamar sambil memegangi pipinya yang memerah bekas tamparan suaminya.
" AMANDA.... ".
TBC