Married Accident

Married Accident
Semakin Memburuk



Dua minggu berlalu setelah Jery dan keluarganya mengetahui penyakit yang di derita Manda. Bahkan sampai saat ini Jery masih tetap Setia menjaga dan merawat istrinya. Dirumah sakit Singapura, Ia juga rela bolak balik Jakarta Singapura. Saat ia memang harus datang ke perusahaan.


Sedangkan Mayra hanya bisa tiap minggu di setiap hari weekend saja bisa datang mengunjungi Mamanya. Gadis kecil itu bahkan terlihat sangat tenang dan tidak pernah memperlihatkan wajah sedihnya didepan sang mama. Hal itu juga membuat Lea teriris dan tercubit hatinya. Akan sikap yang Mayra tunjukkan pada Mama nya.


Entah apa yang membuat Mayra bisa sekuat itu. Padahal jika tidak sedang di depan Manda. Mayra selalu menangis, apalagi ketika ia sedang sholat.Gadis kecil itu selalu berdoa dan memohon untuk kesembuhan sang Mama.


Tapi mungkin belum ada keajaiban yang datang. Atau memang belum saatnya, Atau juga mungkin Allah punya rencana lain untuk kehidupan anak, menantu dan juga cucunya nanti. Karena semuanya adalah rahasia Allah SWT. Yang maha menentukan hidup manusia.


Kondisi Manda juga semakin memprihatinkan. Manda sudah sering mengeluarkan darah dari hidung nya. Meskipun Manda selalu menutupi nya dari suami dan keluarga nya. Tapi Jery sering melihat nya. Tapi pria itu berusaha untuk tetap berpikir positif untuk kesembuhan istrinya.


Kalau masalah rambut jangan di tanya lagi. Bahkan Jery yang selama ini dapat melihat rambut panjang istrinya yang tergerai indah saat ia selesai mandi dan berada di dalam kamar mereka. Sekarang keindahan rambutnya sudah tak nampak lagi dimata Jery. Tapi itu semua tak membuat rasa sayang dan cinta Jery berkurang. Sebab, bagi Jery mau dalam bentuk dan penampilan bagaimana pun juga. Manda tetap cantik di matanya.


Apalagi hijab Syar'i nya yang sampai detik ini masih terus melekat di kepalanya. Dokter dan pihak rumah sakit sudah menyerah. Karena mereka bilang tak ada harapan lebih untuk Manda. Kemungkinan ia sembuh sangat minim. Bahkan dokter sudah memvonis jika Manda akan bertahan tidak lebih dari satu sampai dua bulan lagi.


Tentu saja itu membuat Jery sangat tidak terima akan penjelasan sang dokter. Jery sempat mengamuk tapi berhasil Rayen tenangkan. Mau tidak mau, siap ataupun tidak. Jika Allah telah menghendaki dan menginginkan hambanya untuk kembali. Maka kita yang masih diberi umur panjang harus menerima dengan ikhlas. Dan harus tetap bersabar. Sesungguhnya tidak ada yang kekal di dunia yang pana ini.


Ceklek...


Jery membuka handle pintu ruangan rawat istrinya. Senyum Manda terbit seperti biasanya membuat Jery terasa sesak melihatnya. Karena jika waktu itu tiba, entah apa yang akan Jery bisa lakukan untuk melanjutkan hidupnya tanpa sang istri tercintanya. Wanita yang paling ia cintainya selain keluarga nya sendiri.


"Apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi sayang??? ".Tanya Jery sembari mengusap lembut wajah pucat istrinya.


" Aku hanya ingin pulang mas. Pulang kerumah kita!!. Aku juga mau merawat dan mengurus Mayra sebelum aku benar benar pergi. Aku ingin menebus semua kesalahan ku selama ini pada putri kita. Agar aku meninggal kan kesan baik dalam ingatan nya kelak".Jawab Manda sambil tersenyum.


Jery mendongakan kepalanya agar air matanya tidak tumpah begitu saja di depan istrinya. Karena matanya mulai mengembun.


"Mas, jika aku pergi nanti mas boleh menikah kembali dengan wanita yang baik menurut pilihan mas!!!. Wanita yang bisa menjadi ibu sambung bagi Mayra seperti Mami!!".


" Sayang... Stop bicara yang tidak tidak!!!. Kamu harus yakin jika kamu bisa melewati ini semua!. Dan kamu pasti sembuh".Protes Jery yang selalu tidak suka jika istrinya mulai membahas hal ini padanya.


Bukan hanya sekali dua Manda menyuruhnya untuk menikah lagi. Tapi entah ini yang keberapa kalinya. Itu pun selalu membuat Jery geram. Tak habis pikir akan jalan pikiran istrinya.


"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa mencintai wanita lain selain dirimu sayang. Jadi, jangan paksa aku untuk menikah kembali!!!. Ada dan tanpa adanya dirimu nanti".Jawab Jery tegas.


Manda hanya mengulas senyuman nya saja. Karena Manda yakin saat ini suaminya pasti bisa mengatakan hal itu. Tapi, kedepan nya nanti siapa yang bisa menebak. Karena Cinta itu bisa tumbuh kapan pun. Tanpa harus diminta sama sekali. Ia mengalir bagaikan air, menerpa seperti angin yang berhembus. Tanpa bisa di prediksi kekuatan nya . Buktinya saja dulu mereka saat awal menikah belum ada rasa yang namanya cinta. Namun seiring berjalan nya waktu rasa itu tumbuh di antara mereka begitu saja.