Married Accident

Married Accident
Wanita Licik



Barra yang sedang fokus pada layar laptopnya dan juga beberapa berkas yang ada di meja kerjanya. Melirik ponselnya yang berdering.


Drt...


Drt...


Drt...


Senyum pria itu langsung terbit saat ia melihat nama istrinya tertera memenuhi layar ponselnya. Bahkan Calista sedang melakukan panggilan video padanya. Padahal baru empat jam yang lalu ia tinggal ke kantor. Tapi, Istrinya sudah menelpon nya .


"Ada apa sayang??? ". Barra langsung menyapa Calista yang saat ini tengah berada di dalam mobil. " Kau mau kemana??? ". Barra kembali datar saat melihat istrinya sedang dalam perjalanan. Yang awalnya ia berbicara lembut dan sempat menyematkan kata sayang sekarang malah sudah kembali ketus lagi.


" Aku akan keperusahaan suamiku. Kenapa tidak boleh?. Kalau tidak boleh lebih baik aku suruh sopir putar balik saja". Calista sedikit kesal pada suaminya itu. Tapi, rasa kesalnya masih kalah jauh dengan rasa rindunya.


Calista bahkan tidak mengerti pada dirinya sendiri. Kadang ia merasa benci kadang juga ia sangat merindukan suaminya itu. Walaupun hanya untuk mencium aroma tubuhnya sebentar saja. Padahal seminggu yang lalu ia begitu muak dan ingin muntah jika berada di dekat suaminya. Tapi, sejak semalam keinginannya malah kumat lagi.


Hasratnya tiba tiba naik dengan sendirinya. Bahkan ia sendiri yang menggoda Barra untuk menyentuhnya. Dasar Calista sudah seperti wanita penggoda saja. Tapi, bukannya menggoda suami sendiri itu sah sah saja ya?. Entahlah hanya Calista yang tahu seperti apa sebenarnya dirinya itu.


" Siapa yang menyuruh mu putra balik?. Aku tunggu kau di kantor!". Barra langsung mematikan sambungan telepon nya. Membuat Calista langsung ngedumel tak karuan. Dan sang sopir pun hanya bisa menutup telinga nya yang tiba tiba panas.


Sedangkan Barra saat ini langsung menarik sudut bibirnya. Karena ini pertama kalinya Calista datang keperusahaan nya. Barra melirik arloji di pergelangan tangannya. Yang masih ada waktu empat puluh lima menit lagi jam makan siang. Itu artinya ia masih sempat untuk sedikit olahraga bersama di ruangan ini.


"Kau datang tepat waktu sayang". Guman Barra dengan seringai licik di bibir nya.


Ya wanita itu adalah mantan istri Barra. Ia tetap kekeh untuk masuk dan bertemu dengan Barra. Entah apalagi yang akan wanita itu perbuat. Sepertinya ia tidak ada kapok kapoknya sama sekali.


Akhirnya dengan segala kelicikan wanita itu. Ia bisa lolos dari satpam dan petugas keamanan. Bahkan saat ini wanita itu sudah berada di dalam lif menuju lantai 11 dimana ruangan kerja Barra berada.


Ia seperti nya sudah sangat paham dimana letak ruangan kerja mantan suaminya itu. Sehingga ia tidak perlu bertanya lagi. Sedangkan sang resepsionis langsung memberitahu asisten Joe.


" Ada apa??? ".


" Tuan, kami tidak bisa mencegah nyonya Melly untuk bertemu tuan Barra. Dan sekarang mungkin dia sudah berada di lantai 13".


"Shiiittt... ". Joe yang saat ini berada di lantai 10 karena ia sedang mengecek beberapa berkas keuangan yang tadi diperintahkan langsung oleh Barra. Langsung mematikan sambungan telepon dari resepsionis. Lalu tanpa permisi lagi Joe langsung berlari kearah lift.


Joe tidak ingin bosnya marah besar. Karena membiarkan mantan istrinya masuk keperusahaan nya. Namun, sepertinya akan sia sia. Karena Melly mantan istri Barra telah berada di depan ruangan Barra.


Dan tanpa mengetuk pintu ruangan terlebih dahulu. Melly langsung nyelonong masuk begitu saja. Saat Barra tengah siap menunggu kedatangan istrinya.


"Sayang kau sudah... ". Ucapan Barra menggantung. Bahkan wajahnya yang tadi berbinar kini langsung berubah menyeramkan. Membuat Melly sedikit bergidik ngeri melihat tatapan Barra yang begitu menyeramkan baginya.


" Siapa yang mengizinkan kau masuk keperusahaan ku??? ". Sinis Barra yang manatap dingin kearah wanita yang memakai pakaian serba ketat itu. Hingga tonjolan di dadanya sedikit menyembul. Tapi, sayangnya Barra tidak tertarik Sama sekali. Karena sekarang milik istrinya jauh lebih indah dan lebih segalanya.