Married Accident

Married Accident
Kehilangan



Velyn memarkirkan mobilnya tepat di halaman depan rumah mewah Jery. Ia kembali menarik nafasnya kasar. Saat melihat mobil Jery sudah terparkir duluan di garasi.


Lalu bumil itu mengitari mobilnya. Membantu Mayra turun dari mobilnya. Dari dalam rumah Jery pun langsung melangkah keluar ketika mendengar suara mesin mobil Velyn.


"Papa... " Teriak Mayra yang langsung tersenyum ketika Jery terlihat melangkah cepat ke arah putrinya.


"Sayang, kamu gak papa kan???. Kenapa bisa jatuh?. Mana lukanya??? ".Tanya Jery penuh kekhawatiran sambil terus memeriksa tubuh putrinya.


Velyn bisa melihat bagaimana sayangnya Jery pada Mayra. Hingga ia berpikir " Apa nantinya mas juga akan melakukan hal yang sama pada anak ini???. Jika mas tahu dia juga darah daging mu mas".Batin Velyn miris.


Velyn pun memilih untuk melangkah masuk lebih dulu. Saat Jery terus saja bersikap posesif pada putrinya. Velyn tidak mau ia berpikiran iri, terhadap Mayra. Yang di perlakukan sangat istimewa oleh Papa nya sendiri.


Jery hanya melirik sekilas saat Velyn berjalan dan melaluinya. "Sayang, Mayra ke kamar dulu ya!!. Nanti dibantu bibi buat ganti bajunya. Papa mau bicara sama Bunda ".


Mayra pun langsung menganggukkan kepalanya. Didepan teras juga sudah ada art nya. Yang memang menunggu Mayra.


" Papa jangan marah marah sama Bunda!!!. Bunda tidak salah Pa, Bunda juga sudah memperingati Mayra untuk tidak lari. Tapi Mayra nya saja yang tidak mau mendengarkan Bunda".Ucap Mayra berusaha untuk membujuk Papanya.


Karena Mayra tahu jika tadi Papanya sedang membentak Velyn. Saat Bunda nya berbicara pada Jery di telpon. Meskipun tidak begitu jelas. Tapi Mayra sudah bisa menebak dari perubahan wajah Velyn.


"Kata Mama Mayra dan Papa harus sayang sama Bunda dan juga dede bayi!!. Karena dede bayi adik Mayra dan juga anak Papa juga!! ".


Deg...


Jery nampak mengerutkan keningnya mendengar penuturan Mayra barusan. Tapi, Jery berusaha untuk tetap tenang. Lalu tersenyum pada putrinya.


" Iya sayang, Papa tidak akan marah sama Bunda".


"Janji!!! ".Mayra mengacungkan jari kelingking nya pada jery.


" Janji".Balas Jery sambil ikut menyatukan kelingking nya juga pada putrinya. Senyum Mayra kembali mengembang dan mengecup pipi Papanya.


"I love you Pa".Serunya sambil berlari kecil meninggal kan Jery yang tersenyum menatap kepergian putrinya bersama art nya.


🌿🌿🌿🌿🌿


Velyn memilih untuk membantu art menyiapkan makanan untuk makan siang. Hanya dengan menyibukkan diri seperti ini yang membuat Velyn bisa sedikit lupa akan permasalahan hidupnya. Velyn juga sesekali meringis menahan sakit di bagian perutnya.


Tapi wanita itu sebisa mungkin untuk tetap kuat. Dan terus menata menu menu makanan di meja makan.


Jery yang sudah berdiri di depan pintu ruang makan. Terlihat ragu untuk mendekati Velyn. Lantaran ia masih bingung harus bicara apa dengan wanita cantik yang telah berstatus istrinya itu.


Namun, Jery langsung berlari saat tubuh Velyn tiba tiba limbung dan terjatuh di lantai samping meja makan.


" Nyonya... ".Teriak bik Lastri ketika melihat majikannya tak sadarkan diri.


" Tuan darah".Seru bik Lastri lagi ketika melihat darah segar yang mulai mengalir dari sela betis Velyn.


Terang saja membuat Jery nampak semakin panik dibuatnya. Rasa khawatir dan cemas langsung memenuhi pikiran Jery. Entah apa yang membuat Jery begitu panik. Saat melihat darah segar itu.


"Suruh sopir siapkan mobil bik cepat!!! ".Perintah Jery tegas sembari mengangkat tubuh lemah Velyn. Belum lagi darah segar masih mengalir.


" Aku mohon bertahanlah Velyn!!! ".Guman Jery ketika ia mengangkat tubuh Velyn sambil terus melangkah lebar kearah luar rumah.


🌿🌿🌿🌿🌿


Jery nampak mondar mandir di depan ruangan UGD. Dimana Velyn sedang di tangani oleh dokter di dalam sana.


" Bagaimana keadaan istri saya dok???. Kandungannya baik baik saja kan dok??? ".


Jery terus mencecar sang dokter dengan pertanyaan nya. Membuat Dokter tersebut hanya bisa menarik nafasnya berat.


" Nyonya Velyn baik baik saja tuan".Jawaban dokter itu membuat Jery bisa bernafas dengan lega. "Tapi, kami tidak bisa menyelamatkan kandungannya tuan".


Deg...


Jery langsung tersentak kaget mendengar penuturan sang dokter. Seketika tubuh Jery lemas, ia hampir saja limbung jika tidak berpegangan pada tembok di sampingnya.


" Nyonya Velyn mengalami pendarahan dan kandungannya juga sangat lemah. Dengan berat hati kami akan melakukan kuret tuan".


Jery tidak bisa berkata kata lagi. Sejenak pikirannya langsung sangat merasa bersalah. Andai saja ia sadar. Dan andai saja ia tidak egois. Rasa bersalah tentu saja menyelimuti jery saat ini.


"Lakukan yang terbaik dok!!!. Dan saya tidak ingin terjadi hal buruk lagi padanya!!! ".Ucap Jery lemah.


Rasa kehilangan Manda masih terus memenuhi otak dan pikiran nya hingga saat ini. Dan satu yang membuat Jery takut, Ia juga tidak mau kehilangan kembali untuk kedua kalinya. Meskipun masih tak ada benih cinta untuk Velyn. Setidaknya Jery memikirkan Mayra. Yang sudah terlanjur dekat dengan Velyn.


"Manda, kenapa kau meninggalkan ku dengan cara seperti ini??.Tapi, jika ini yang kau mau, maka aku akan berusaha".Batin Jery sendu.


Ingin sekali Jery menjerit dan marah dengan takdir. Tapi apalah daya ia hanya manusia biasa. Mungkin ini adalah bentuk teguran baginya.


" Maafkan aku Velyn!!! ".Batin Jery merasa bersalah.


TBC