Married Accident

Married Accident
Barra Edwar



Pria itu sudah di penuhi kabur gairah . Ia sudah tidak perduli lagi dengan apa yang ia lakukan saat ini. Yang ada di dalam otaknya hanyalah kepuasan dan kenikmatan saja.


Apalagi suara suara merdu nan majah yang keluar dari mulut Calista. Menjadikan dirinya semakin tidak sabaran untuk memasuki lorong kenikmatan tersebut.


Pria itu mulai janggal dengan milik Calista yang masih susah untuk ia tembus dengan jarinya. Tapi jiwa mesum nya dan cassanova nya jauh lebih mendominasi hingga ia tak berpikir panjang untuk mulai melakukan penyerangan pada lorong tersebut.


"Baru begitu saja sudah basah ". Ledek Sang pria saat Calista sudah banjir bandang hingga membuat jari sang pria terasa lengket.


Calista yang tak sadar jika dirinya sedang terpengaruh alkohol dan juga terpengaruh kenikmatan yang diberikan oleh sang pria. Kenikmatan yang tak pernah ia dapatkan dari pria manapun juga. Karena ia tak pernah melakukan kontak fisik lebih dari apapun itu.


Bisa dibilang Calista hanya modal nekad berani mencium sang pria ketika di Club tadi. Karena harga dirinya juga merasa di rendahkan sebagai seorang player.


"Akh... ".


" Shittt.. " Pria itu kembali mengupat saat ia benar benar merasakan milik Calista masih tersegel rapi.


"Still a virgin". Guman sang Pria tak habis pikir wanita se bar bar Calista dan seberani dirinya masih tersegel seperti ini.


Namun, karena ia baru pertama kalinya mendapatkan seorang wanita yang masih suci. Pria itu tidak akan menyia nyiakan kesempatan nya. Ia bahkan langsung mengklaim Calista untuk jadi miliknya selamanya. Dan ia tidak akan melepaskan Calista lagi setelah ini.


Pria itu begitu sangat menikmati permainan nya. Hingga ia tidak mau stop begitu saja. Karena merasa sayang saking nikmatnya. Membuat Calista sudah tak mampu berucap satu kata pun. Yang ada hanya ******* dan juga eluhan halus nan manjah.


"Akh... "


Racau Calista terus menerus saat ia juga menikmati hal itu meskipun dalam keadaan mabuk berat. Namun rasa nikmat yang keluar tetap saja ia rasakan.


Entah apa yang akan terjadi jika ia sadar nanti. Karena dirinya saat ini sudah tidak suci lagi. Bahkan masa depan nya telah hancur bersama dengan kekonyolan nya sendiri. Menyerahkan nya pada pria yang tidak ia kenal sama sekali. Dan baru ia temui satu kali saja.


🌿🌿🌿🌿🌿


Pagi harinya lebih tepatnya sudah hampir tengah hari. Calista mulai menggeliat tapi bagian bawahnya begitu terasa perih saat ia bergerak.


Ia pun mulai membuka matanya lebar lebar saat melihat ruangan kamar luas dengan desain monokrom yang yang ia tahu tempat itu bukanlah kamar nya.


Calista langsung menyibak selimut nya saat baru sadar juga jika dirinya tidak memakai satu benang pun. "Apa yang terjadi padaku??? ". Guman nya lirih sambil mengingat kembali hal apa yang terjadi semalam.


Calista duduk sambil melotot sempurna. Saat ia mengingat sesuatu akan kebodohan nya semalam. " Oh Astaga... Gue udah jebol". Pekik nya sambil memukul mukul kepalanya sendiri. "Apa yang harus gue katakan sama Keluarga gue nantinya".


Calista merutuki kebodohan nya sendiri. Karena bisa bisanya ia ikut dengan pria yang tidak ia kenal sama sekali. Dan malah menyerahkan dirinya begitu saja.


" Berengsek... Dimana dia? ".Pekik Calista mencari keberadaan sang pria yang telah memanfaatkan kesempatan yang ada. Dan malah meniduri nya dengan keadaan nya yang sedang mabuk berat.


" Akan ku bunuh kau". Pekik Calista lagi sambil membanting banting kakinya. "Awww.... Berengsek". Calista terus saja mengupat saat ia merasakan tubuhnya berasa remuk redam dan juga area pangkal paha nya begitu terasa nyeri.


Setelah berpikir dan berusaha menenangkan dirinya karena ia juga tidak melihat lagi. Dimana keberadaan sang pria yang telah merenggut kesuciannya semalam. Calista pun mulai turun dari atas ranjang.


Ia berniat untuk mandi dan membersihkan tubuhnya saja dulu. Sebelum ia mencari keberadaan pria yang sudah menghancurkan masa depan nya ini.


Tapi begitu ia ingin mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya yang terletak di atas nakas. Ia melihat note kecil di sebelah tas nya.


"Maaf, aku tidak bisa menunggumu sampai kau bangun. Karena aku ada urusan bisnis dan harus terbang ke LA pagi ini juga. Jika ada apa apa silahkan hubungi nomor ini saja".


Calista tersenyum sinis. Dan melihat kartu nama yang ditinggalkan oleh sang pria.


" BARRA EDWARD . Akan ku bunuh kau kalau kita bertemu lagi". Calista mengepal kan tangannya penuh emosi.


Tapi beberapa detik kemudian ia malah merengek kembali. " Aahhh... Kenapa jadi begini sih?. Mama pasti akan membunuh gue lebih dulu jika tahu gue udah... "


"Berengsek kau Barra". Pekik Calista lagi


TBC