
Mension Barra...
Calista yang sudah bangun sejak tadi. Kini tengah sibuk di dapur membuatkan sarapan untuk suami dan putri nya. Seorang chef cantik dengan rambut panjang yang ia cepol asal. Bahkan celemek khas baju dinas saat di dapur tampak begitu sesuai melekat di tubuh rampingnya itu.
Barra yang sejak beberapa detik yang lalu berdiri di samping kulkas hanya memperhatikan istrinya dari arah belakang. Wanita itu belum menyadari juga jika suaminya sudah ada dibelakang tubuhnya.
"Bik, tolong ambilkan sendok dong!!!".
" Terimkasih ". Ucap Calista tanpa menoleh kearah belakang. Padahal yang mengambilkan sendok untuknya adalah Barra bukan pelayan yang tadi membantunya di dapur.
Tangan Calista begitu terampil menggunakan alat alat masak. Tak di ragukan lagi, jika ia memang pantas menduduki chef terkenal dan juga chef terkemuka di Negara nya. Bahkan bau masakan Calista sudah mampu membuat perut Barra lapar.
Greppp...
"Aww... ".Pekik Calista begitu terkejut dan reflek memukul kepala Barra menggunakan centong sayur sup yang sedang ia pegang.
Pletukkk...
Pelukan Barra langsung melanggar dan kini menatap istrinya dengan tatapan tajamnya. Sedangkan Calista langsung melotot tak percaya. Jika barusan ia telah membuat kepala suaminya sedikit benjol akan ulahnya.
"Ya Ampun pi. Sorry aku tidak sengaja melakukan nya!!! ". Seru Calista sambil nyengir kuda.
" Sekali lagi berani memukulku. Akan ku potong tanganmu itu". Ancam Barra penuh penekanan.
Calista malah maju untuk merapatkan tubuhnya dengan Barra. Lalu ia tersenyum ". Yakin mau potong tangan ini?. Hm? ". Tanya Calista sambil mengedipkan matanya.
Barra hanya diam dengan menautkan kedua alisnya. Namun, Calista terus merapatnya tubuhnya. Hingga tubuh Barra terbentur ke pintu lemari pendingin yang ada di sampingnya.
" Jika kau memotong tanganku. Siap siap saja lobakmu kesepian. Karena tak akan ada lagi tanga n jahil ini untuk menyentuhnya kembali". Ucap Calista dengan gamblangnya.
Dimana wajah kaku itu selalu saja dibuat kesal akan ulah istrinya yang penuh aksi konyol dan juga jahil itu.
" Aku akan mandi dulu. Sarapan ku harus sudah siap setelah aku turun kembali!!! ". Barra langsung beranjak pergi. Setelah ia Mwngucapkan kata itu.
Berada lama lama di dekat Calista membuat Barra panas dingin. Wanita satu itu memang benar benar tak kehabisan akal untuk berbuat konyol. Jika saja hari ini tidak ada meeting di perusahaan nya. Mungkin Barra akan kembali membawa Calista untuk olahraga panas lagi.
Dan mungkin juga pagi ini adalah hari keberuntungan untuk Calista. Sebab, Suaminya tidak punya waktu lebih lama lagi berada di mension. Jadwalnya hari ini benar benar padat sekali.
Calista langsung tertawa puas saat melihat punggung suaminya hilang dibalik tembok. Lalu Calista pun meneruskan masakannya. Gara gara Barra ia juga hampir lupa. Jika saat ini ia sedang membuat sup kesukaan Celine. Yaitu sup buntut dengan ditambah potongan kentang wortel dan juga brokoli.
"Kenapa bibik gak bilang kalau Barra sejak tadi ada disini??? ". Calista mulai ngedumel dengan pelayan.
" Maaf Nyonya. Tuan Barra yang menyuruh kami untuk diam!! ".
Calista menarik nafasnya panjang. Lalu ia buang perlahan. " Dapat pria itu. Untung saja aku tahu kelemahan nya. Dan beruntung juga hari ini dia begitu sibuk di perusahaan ". Guman Calista yang sudah tahu betul jadwal suaminya.
Tak berselang lama Celine pun turun ke lantai bawah. Sambil terus memanggil manggil Maminya. "Morning Mami... ".
". Morning honey. Hei, kau sudah bangun?. Balas Calista sembari menghampiri putrinya yang juga sudah rapi dengan seragam sekolah nya.
Celine masih sekolah PAUD, maka dari itu Calista setiap harinya hanya mengurus Celine. Dan juga diam duduk santai di rumah. Sebab, sejak resmi jadi istri Barra. Calista tidak di izinkan bekerja lagi. Ataupun kembali pada dunia chef nya itu.
" Celine tunggu Mami di meja makan saja ya sayang!!. Mami sebentar lagi selesai kok".
"Ok Mami".