
Calista yang sejak tadi bingung karena ia sadar betul mobil yang mereka tumpangi bukan menuju arah mension. Melainkan ke tempat lain. Wanita itu mulai mengedarkan pandangan memutar otaknya. Dan berusaha mengingat dengan jelas jalanan yang yang sedang mereka lewati.
" Sebenarnya kita itu mau kemana sih pi??? ". Calista mulai bertanya karena ia sama sekali belum ingat jalan itu. Sebab, ia juga baru beberapa kali ke Jakarta. Wanita itu sejak kecil dan dewasa di Australia. Jadi, ia juga belum begitu paham kota Metropolitan tersebut.
" Duduk lah dengan nyaman!!! Dan jangan banyak protes! ". Barra mulai melepas kaca matanya dan menutup tabletnya. Karena sejak tadi pria itu masih saja sibuk menatap layar tablet yang tak pernah ia lepaskan dari tangannya.
Sepertinya Barra memang sedang banyak pekerjaan. Tapi, entah kenapa ia malah sempat sempatnya menjemput istrinya dari rumah Jery.
Mata Calista kembali membelalak sempurna saat mobil yang di kendari oleh sang Asisten Joe. Kini mulai memasuki rumah sakit besar di kota itu.
"Ayo turun!!! ". Barra kembali membuka suaranya karena Calista terlihat enggan untuk turun dari mobil mewah itu.
" Sekarang??? ".
" Besok". Jawab Barra ketus.
"Iis Kau itu. Tidak ada romantis romantis nya sedikitpun ". Calista menggerutu kesal. Karena lagi lagi Barra hanya menunjukkan sikap dingin dan datar saja.
🌿🌿🌿🌿🌿
Calista lebih tercengang lagi saat dirinya di ajak masuk kedalam ruangan dokter khusus kandungan.
" Pi, wait... wait... Kita kesini mau ngapain sih?. Progam bayi tabung atau... "
"Jangan banyak tanya dan... "
" Jangan banyak protes". Seru Calista dengan penuh kekesalannya yang ikut memotong ucapan suaminya. "Oke fine... Terserah tuan Barra yang terhormat saja!!". Sambungnya lagi yang langsung masuk lebih dulu.
Benar saja sampai di dalam seorang dokter wanita tampak tersenyum menyambut kedatangan mereka. Hanya sang asisten yang tidak diizinkan masuk kedalam ruangan dokter obgin itu oleh Barra.
Calista juga hanya menurut tanpa ingin banyak protes saat sang dokter meminta ny berbaring di atas brankar. Meskipun ia juga tidak tahu apa yang akan di lakukan oleh dokter tersebut. Setelah tadi ia sempat di tanya hal hal yang menurutnya memang sedang di alami olehnya dalam seminggu terakhir.
Calista pun hanya diam tanpa ingin menatap wajah suaminya. Yang menurutnya sangat kecut lebih kecut lagi dari rasa buah mangga jengkel yang tadi mereka bikin rujak. Padahal itu hanya kata Velyn dan anak anak saja. Kalau Calista sih menurutnya sangat segar.
Sang dokter mulai menarik sudut bibitnya membentuk senyum. Saat ia melihat layar monitor yang ada di hadapan nya.
" Selamat Barra, sepertinya sebentar lagi kau akan menggendong bayi kembali ". Dokter itu menjawab dengan senyum dibibirnya.
" Jadi benar kalau istri ku sedang...
"Apa aku sedang hamil??? ".Ucapan Barra terpotong akan pertanyaan Calista.
Dokter cantik itu pun menganggukkan kepalanya sambil mengulum senyumnya. Ia begitu aneh melihat pasangan suami istri yang kini ada di hadapan nya.
Apalagi ia bisa melihat seorang Barra yang begitu terlihat bahagia. Saat mengetahui wanita cantik dengan bentuk tubuh nyaris sempurna. Mengandung anaknya.
Sungguh dokter itu tak menyangka jika Barra bisa bersikap seperti ini. Pada wanita yang sudah ia nikahi sekitar hampir dua bulan lalu.
Barra langsung memeluk dan menciumi seluruh wajah Calista. Membuat wanita itu kesal, Dan mendorong dada bidang suaminya sedikit kasar.
" Menyingkirlah dariku!!!. Kau itu sangat bau sekali". Ketus Calista yang memang jujur sejak di dalam mobil tadi ia menjaga jarak dari suaminya itu. Karena entah kenapa setelah melihat wajah Barra tiba tiba ia enek sendiri. Terlebih saat mencium aroma tubuh suaminya.
Padahal sebelum melihat wajah suaminya. Ia sudah bisa menebak jika wangi parfume suaminya sangat membuatnya nyaman. Barra menautkan kedua alisnya bingung. Ia juga reflek mengendus endus tubuhnya sendiri. Dan Barra pun berpikir tidak ada yang salah dengan aroma tubuhnya.
" Kau harus mulai terbiasa Barra akan perubahan sikap istrimu!!!. Itu hanya bawaan baby saja". Sang dokter mulai menjelaskan.
Calista mulai bangkit dari brankar itu. Lalu membenarkan pakaian nya. Tapi, ia juga tetap menjaga jarak dari suaminya. Barra sudah terlihat lesu akan sikap Calista. Padahal biasnya wanita itu yang lebih dulu menggoda nya. Wajar saja sejak di mobil tadi Calista terus menjauh darinya. Dan memilih menatap kaca mobil daripada menatap wajahnya.
"Sampai kapan ??? ". Tanya Barra pada dokter cantik bernama Violitta itu yang merupakan sahabat nya sendiri.
Dokter vio pun hanya mengangkat bahunya". Tidak bisa dipastikan dengan sebuah dugaan . Biasanya hanya pada trimester pertama saja. Karena semua itu tergantung dari sang baby nya". Dokter Vio malah membuat sahabatnya mulai ketar ketir.
" Berapa usia kandungan ku dok??? ". Calista mulai tampak antusias mengetahui usia kandungan nya. Yang sama sekali tidak ia ketahui tanda tandanya.
" Dua Minggu ".
TBC