
Sudah dua minggu ini Calista menjadi seorang istri dari Barra Edward. Dan sudah dua minggu ini juga mereka selalu melakukan rutinitas barunya. Tak ada absen sedikitpun barang sehari saja. Itu semua membuat Calista benar benar tak bisa kemana mana. Bahkan ia pun hanya makan tidur saja.
Beruntung putri sambungnya juga lebih betah di rumah Jery bersama Mayra. Karena sekolah juga sedang libur. Hari ini juga suatu keberuntungan bagi Calista. Sebab, suaminya pagi pagi sekali sudah pergi ke Bandara. Dan mungkin selama beberapa hari kedepan Calista akan aman dari serangan gila suaminya itu.
Meskipun tadi malam dia benar benar di siksa habis habisan oleh Barra. Dengan alasan akan LDR selama 3 sampai 5 hari kedepan. Bahkan Calista tak ambil pusing dan bertanya detail tentang pekerjaan suaminya . Yang Calista tahu Barra akan pergi ke New York bersama asisten pribadinya.
Calista sudah tampak rapi dengan dress sebatas lutut nya. Dan ia juga sudah membawa tas bahunya. Membuat pelayan menatap ke arah Nyonya itu.
"Anda mau kemana Nyonya??? ". Seorang wanita paruh baya dengan jabatan sebagai ketua pelayan dirumah mewah Barra langsung melayangkan pertanyaannya saat melihat penampilan Calista yang sudah sangat rapi.
" Saya mau jemput Celine dirumah kak Jery. Tolong bilang sopir suruh siapkan mobil sekarang!!. Aku sedang malas menyetir sendirian".Ucap Calista dengan sebuah perintah.
"Baik Nyonya". Sang ketua pelayan pun langsung melangkah keluar rumah dan melakukan tugasnya sebagaimana yang dikatakan oleh Calista.
Bahkan pelayan yang sedang sibuk di dapur saat ini. Ikut mengintip istri majikannya itu. Dimana selama ini mereka juga sangat jarang melihat wajah cantik itu. Karena Barra selalu mengurung Calista dikamarnya. Bahkan, Makan saja sampai harus dibawa ke dalam kamarnya.
Dan hari ini adalah hari kebebasan Calista. Meskipun ia masih harus menyeret kakinya untuk berjalan dengan benar. Calista tak perduli, ia juga sengaja menahan rasa nyerinya saat di hadapan semua orang yang ada dirumah mewah itu. Demi harga dirinya sebagai istri majikan, Calista tidak mau kalau sampai mereka semua malah tertawa dengan melihat cara jalan nya.
"Ah, sial... Gara gara pria Barra yang seperti kesurupan reog saat di atas ranjang. Aku jadi susah berjalan begini". Upat Calista kesal tapi sayangnya itu hanya bisa ia lontarkan di dalam hatinya saja.
Kepala pelayan kembali menghampiri Calista yang sudah duduk di sofa ruang tamu. Karena jujur ia berdiri saja tidak tahan lama. Karena pangkal paha nya begitu linu dan nyeri.
" Oh ya ampun. Aku hampir saja lupa memberitahu nya. Bagaimana kalau kau saja yang telpon suamiku itu!!! ". Calista malah menyuruh kepala pelayan untuk menelpon Barra.
" Nyonya tuan mungkin masih di dalam pesawat. Bagaimana jika anda mengirim pesan saja!!! ".
" Ide bagus ". Jawab Calista yang langsung memainkan ponselnya. Yang memang sejak tadi ia pegang.
" Oke, selesai". Seru Calista setelah ia mengirim pesan singkat untuk izin kerumah Jery menjemput Celine disana. Dan benar saja ponsel Barra sedang tidak aktif. Pesan nya juga hanya centang satu saja.
Bahkan baru tadi malam Calista diberi nomor ponsel suaminya. Padahal mereka menikah sudah sejak dua minggu yang lalu. Sedangkan kedua orang tua Calista sudah kembali ke Australia sejak satu minggu yang lalu.
"Mari Nyonya!!! ". Ketua pelayan pun mempersilahkan istri tuan nya untuk berjalan lebih dulu keluar rumah. Dimana Calista langsung melongo tak percaya jika di depan teras sudah ada beberapa pengawal yang telah siap ikut bersamanya.
" Maaf Nyonya ini semua perintah langsung dari tuan. Jika Nyonya keluar rumah harus dijaga pengawal". Sang ketua pelayan menjelaskan
" Oh, Astaga aku bisa benar benar gila kalau begini terus". Gerutu Calista kesal.
Ia pun sudah meninggal kan karirnya di Negara tempat tinggalnya selama ini. Setelah menikah dengan Barra. Pria itu tidak mengizinkan nya untuk bekerja kembali. Bahkan jangan kan bekerja, keluar kamar harus izin terlebih dahulu. Sepertinya Barra memang benar benar tidak bisa jauh dari istrinya ini. Kalau saja urusannya di New York bukan hanya masalah pekerjaan. Mungkin Barra sudah membawa Calista ikut pergi bersama nya juga.
Tapi, putrinya juga di sini butuh pengawasan. Barra sudah lama membiarkan Celine tinggal dan di asuh oleh orang orang kepercayaan nya selama ini. Dan mungkin saat ini adalah waktunya Celine bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu. Meskipun sebenarnya ibu kandung Celine masih tetap kekeh untuk mengajak Barra rujuk kembali dan terus berusaha untuk menemui putrinya.