
Keesokan harinya Jery dan Velyn beserta Mayra, sudah berpenampilan rapi dan juga Velyn beserta Mayra sudah memakai pakaian yang satu warna yang sama. Kebaya bewarna salem sebatas lutut yang sedikit longgar karena perut Velyn yang membuncit. Ditambah lagi rambut sebahunya yang ia buat sanggulan seperti para Pramugari yang akan siap dinas.
Kalau masalah penampilan Velyn adalah jagonya. Karena terbiasa berpenampilan elegan, anggun dan juga rapi. Membuat bumil itu tidak akan kelabakan saat ingin menghadiri acara. Ia juga terbiasa memoles makeup nya sendiri.
Jery yang baru saja masih berbicara lewat sambungan telpon dengan seseorang. Langsung menoleh kebelakang saat mendengar langkah kaki menuruni anak tangga. Dan wangi parfum yang khas tak akan salah dikenali oleh Jery.
"Bunda cantik sekali". Seru Mayra yang ikut terpanah akan penampilan Velyn saat ini. Jery pun langsung menutup panggilan telpon nya secara sepihak dan membuat lawan bicaranya di seberang sana mengupat kesal. Lantaran dirinya belum selesai bicara tapi sang kakak malah memutuskan sambungan telpon nya begitu saja.
"Sayang, Mayra juga sangat cantik". Balas Velyn menangkup kedua pipi putri sambungnya itu.
Tatapan Jery tak teralihkan dari wajah istrinya yang dirias dengan makeup tipis itu tapi masih tetap terlihat natural dan ayu. Selama ini Jery memang tidak pernah melihat istrinya berdandan berlebihan saat dirumah maupun akan keluar rumah.
Karena pada dasarnya Velyn sudah cantik dengan kulit putih nya yang mulus itu. Ia setiap harinya hanya memakai rangkaian skincare rutin nya. Dan memoles sedikit lipblam saja. Tapi hari ini penampilan Velyn begitu memukau.
"Ayo kita berangkat sekarang! . Sebelum acaranya di mulai". Ajak Jery yang mulai tak bisa mengontrol dirinya melihat kecantikan istrinya hari ini.
Bahkan Jery sedikit geram karena istrinya berdandan begitu. Jery pikir disana nanti pasti tatapan semua orang akan tertuju pada istrinya itu. Dan disinilah Jery mulai posesif terhadap istrinya yang sedang mengandung darah dagingnya itu.
"Makeup bisa di hapus tidak bun??? ". Tanya Jery dengan suara pelan nya saat mereka sudah berada di depan pintu utama.
Velyn menghentikan langkah kakinya. Dan kini menatap wajah suaminya dengan kening yang mengkerut. " Apa makeup ku terlalu tebal mas??? ". Tanya Velyn mulai tidak pede saat mendengar ucapan suaminya barusan.
Jery menggeleng kan kepalanya jujur. " Bukan terlalu tebal ataupun menor. Tapi kau terlalu cantik hari ini sayang". Jawab Jery menghela nafasnya kasar.
"Terimakasih".
Kini giliran Jery yang menautkan kedua alisnya bingung dengan jawaban istrinya. " Untuk??? ".
" Karena mas memujku cantik. Dan ini first time sayang". Velyn tersenyum pongah karena benar adanya selama ia tinggal dan hidup bersama dengan Jery. Tak ada sekalipun Jery memuji dirinya. Padahal itu hanya pada saat Jery berhadapan dengan dirinya saja.
Velyn tidak tahu saja jika selama ini Jery selalu memuji dirinya. Bahkan hal itu tidak dapat Jery pungkiri. Jika istrinya ini selalu cantik setiap harinya. Bukan berati mendiang istrinya tidak Cantik. Tapi kedua wanita yang telah ia nikahi itu memiliki kadar kecantikan masing masing dan juga ciri khas masing masing.
" Me too". Balas Velyn dan langsung melingkarkan kedua tangannya pada lengan kekar suaminya.
" Papa Bunda... Ayo !!! ". Teriak Mayra karena kedua orang tuanya malah asyik saling tatap satu sama lainnya di depan pintu utama.
" Iya sayang tunggu sebentar!!! ". Sahut Jery sedikit berteriak juga karena Mayra sudah sampai di samping mobil mereka
Jery dan Velyn berjalan beriringan dengan kedua tangan Velyn masih bergelayutan di lengan kekar Jery. Tanpa mereka sadari sejak tadi di balik tembok ada seseorang yang sedang mengawasi gerak gerik keduanya.
Ia pun mengepalkan kedua tangannya melihat kebahagiaan Velyn dan juga Jery saat ini. Hatinya begitu panas. " Tak akan kubiarkan kalian hidup bahagia Evelyn ". Guman nya dalam hati lalu kembali melangkah pergi. Naik ke atas motornya dan pergi berlalu meninggalkan kediaman Jery dan Velyn.
Disaat bersamaan mobil mewah Jery pun keluar dengan ditumpangi oleh Velyn, Jery dan juga Mayra.
" Ada apa sayang??? ". Tanya Jery ketika melihat perubahan raut wajah istrinya. Bahkan Velyn tampak menatap kesamping kirinya menatap motor besar yang menurutnya tidak asing begitupula dengan orang yang membawa motor tersebut.
" Sayang... ". Panggil Jery lagi saat istrinya tidak merespon nya.
" Ah, iya mas. Kenapa??? ". Velyn sedikit terkejut karena panggilan suaminya.
" Kamu lihatin apa sih??? . Kok mukanya tegang gitu? ".
" Oh, tidak ada mas. Aku hanya gugup saja kkarena belum terbiasa kumpul dengan keluarga besar kamu mas". Bohong Velyn sambil menundukkan kepalanya.
Jery pun menyentuh punggung tangan istrinya yang saat ini terasa begitu dingin. "Gak usah tegang sayang!. Keluarga ku tidak akan menelanmu hidup hidup". Ledek Jery sambil terkekeh. Membuat Velyn pun ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja.
Karena sebenarnya bukan itu yang Velyn pikirkan saat ini. Melainkan sosok pria yang tak asing baginya tadi. Karena ia takut apa yang ada di dalam. pikirannya saat ini adalah benar adanya.
"Semoga saja bukan dia". Batin Velyn dalam doanya