
Keesokan harinya jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Jery mulai sadar ia bangun sembari memegangi kepalanya yang masih terasa pening.
"Akhirnya bangun juga loe. Gue kira udah bablas".Ledek Brian yang ternyata sudah duduk di sofa empuk yang ada di dalam kamar tersebut.
Jery menatap Brian dengan dahi yang mengkerut. Lalu ia mulai mengedarkan pandangannya. Menelisik keadaan kamar yang ia tempati.
" Loe di apartemen gue men. Beruntung istri dan anak gue masih di Swiss sekarang. Kalau tidak sudah habis kita".Seru Brian sambil terkekeh.
"Kenapa loe malah bawa gue pulang ke Apartemen loe segala sih? ".Jery malah protes padahal semalam dia sendiri sudah tak sadar kan diri lagi. Setelah Brian masuk kembali di dalam ruangan vvip tempat mereka party berdua.
" Loe pikir aja sendiri!!!. Kagak sanggup gue bawa loe pulang kerumah loe dengan keadaan kacau kek semalam men".
Brian menggelengkan kepalanya saja. Bukannya berterimakasih karena Brian telah membawanya ke Apartemen nya. Yang memang jaraknya tidak begitu jauh dari Club. Hanya memakan waktu sekitar lima belas menit. Sedangkan jika pulang ke rumah Jery. Bisa memakan waktu sekitar 25 menitan.
Brian juga tak mau ambil resiko jika putri sahabat nya itu sampai tahu. Jika Papa nya pulang dalam keadaan mabuk begini. Brian masih punya hati untuk tidak membuat mental dan psikis Mayra terganggu. Karena yang Mayra tahu Papa nya adalah orang yang baik dan taat beribadah.
"Handphone gue mana???? ".
" Mana gue tahu?.Semalem gue hanya fokus sama elu doang men. Gue juga kagak kepikiran mau cari handphone loe".
Brian juga baru sadar karena semalam ia juga sudah setengah mabuk. Makanya Brian langsung membawa Jery pulang ke Apartemen nya. Dengan bantuan pelayan Club. Pria itu juga lebih memilih membayar jasa sopir dadakan. Hanya untuk membawa mereka sampai ke Apartemen dengan selamat.
"Haiss... Pasti ketinggalan di club nih".Seru Jery sembari beranjak dari ranjang nya. Dan masuk kedalam kamar mandi.
Brian pun kembali fokus pada layar laptopnya. Sepertinya Brian juga memilih bekerja dari rumah hari ini. Sebab, sisa mabuknya semalam belum begitu pulih. Lagipula Brian tidak mau kalau sampai ia ketiduran ketika meeting. Sebab, semalaman Brian tidak bisa tidur karena Jery terus saja meracau.
Dari sana Brian bisa melihat kerapuhan sahabat nya itu. Tapi, Brian juga tidak bisa membantu penuh. Karena itu adalah duduk permasalahan rumah tangga Jery dan istrinya. Sebagai seorang sahabat Brian cuma bisa menasehati dan memberikan semangat untuk Jery. Selebihnya hanya Jery dan Manda yang tahu bagaimana baiknya.
"Gue pinjem baju loe men".Seru Jery yang langsung nyelonong masuk kedalam ruangan walk in closet milik Brian.
Brian pun hanya menganggukkan kepalanya saja. Tanpa berniat untuk menyahuti ucapan Jery. Setelah hampir sepuluh menit Jery keluar dengan memakai kaos oblong warna putih dan jeans bewarna Navy.
"Ini lingerie siapa men??? ".Jery membawa satu lingerie seksi bewarna hitam dan yang ia angkat tepat di depan wajah Brian.
" Punya bini gue lah. Emang punya siapa lagi? ".Brian pun langsung menarik lingerie tipis nan seksi itu dari tangan sahabat nya.
" Sejak kapan istri loe jadi ramping. Setahu gue Adel sedikit berisi kan? ".Jery mulai menaruh curiga pada sahabatnya itu.
Brian pun nampak sedikit gugup. Tapi ia berusaha setenang mungkin di hadapan Jery. Membuat Jery semakin gencar untuk mengorek informasi dari sahabat nya ini.
" Jujur loe men!!. Punya siapa lingerie ini??? ".Goda Jery lagi sambil mengulum senyum nya.
" ****** loe men. Adel sekarang gak seperti yang dulu kali. Dia lebih ramping karena dia rajin olahraga ".Sahut Brian tak mau kalah.
" Lagian ngapain juga sih bahas lingerie bini gue. Sekarang bukannya loe mau ke Surabaya? ".Brian mengalihkan pembicaraan agar Jery tidak membahas masalah lingerie yang kini sudah ia sembunyikan dibelakang bokongnya.
" Gue mau ke Club dulu cari handphone dan dompet gue".Jawab Jery sembari memakai kembali jam tangan mahalnya yang tadi ada di atas nakas.
"Biar gue yang anterin loe!!. Sekalian kita sarapan di luar".Brian pun bangkit dari tempat duduknya. Karena ia juga sudah terlihat rapi dengan pakaian santainya.
Beruntung tubuh mereka sama besarnya jadi, apapun yang di pakai Brian tentunya pas juga di tubuh Jery. Kini keduanya sudah berada di dalam lift. Untuk turun ke lantai dasar dan menuju basement.
"Pinjem ponsel loe bentar".Jery menyodorkan tangannya. Membuat Brian menghela nafas. Tapi ia juga langsung memberikan benda pipih itu pada sahabat nya.
Jery nampak mengetikkan nomor telepon. Dan langsung menelpon. " Halo Evi, Ini aku. Hari ini kau urus dan Handle semua pekerjaan ku di kantor!!. Karena pagi ini juga aku akan terbang ke Surabaya ".
" Ba... Baik tuan. Oh ya tuan, ponsel dan dompet anda ada pada saya sekarang. Apa saya harus antarkan ini kerumah anda tuan??? ".
Jery mengernyitkan dahinya bingung. " Kenapa ponsel dan dompet saya bisa ada di kamu evi??? ".
Brian pun yang tadinya cuek sekarang ikutan bingung akan ucapan Jery. Setahu Brian Evi adalalah tangan kanan Jery selama ini.
" Oh tadi, ada seorang wanita yang menitipkan dompet anda pada resepsionis tuan. Katanya dia pegawai club xx".Jawab Evi jujur. "Tuan apa anda semalam pergi kesana kembali??? ".Evi bertanya sangat pelan agar Jery tidak risih akan pertanyaan nya.