
Satu minggu berlalu sejak Jery pulang dari club. Dan satu minggu ini juga Manda malah belum pulang kerumah. Bahkan kadang nomor ponselnya sulit untuk dihubungi. Tapi Jery tetap memilih diam dan pura pura tidak tahu sampai saat ini.
Manda beralasan jika ia masih harus tinggal beberapa hari lagi di Singapura. Dengan dalih ya tak lain urusan pekerjaan nya.
Dering ponsel Jery membuat pria tampan berwajah datar itu. Melirik ke arah meja kerjanya. Nama Mami nya tertera di layar ponselnya.
"Iya Halo Mi".Sapa Jery langsung ketika ia sudah menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
" Apa kalian begitu sangat sibuk?. Sampai sampai tidak pernah lagi datang berkunjung ke rumah? ".Sindiran Lea membuat Jery menghela nafasnya berat.
" Maaf mi, tolong bilang sama Papa lusa kami akan kerumah. Akhir akhir ini di kantor banyak pekerjaan mi. Lagian Manda juga sedang ke Singapura ".Jawab Jery merasa bersalah karena telah melupakan orang tuanya. Dan sejak rumah tangganya mendapatkan cobaan seperti ini. Jery memang hampir tidak pernah mampir ataupun berkunjung kerumah Papa dan Mami nya.
" Jery, bukankah kita punya rumah sakit sendiri?. Kenapa Manda malah memilih bekerja di rumah sakit orang lain?. Kalau dirumah sakit kita, Manda akan lebih bisa mengurangi jam kerjanya. Kasian Mayra kalau harus selalu ditinggal ".
Lea mulai menasehati dan memberikan saran nya. Karena Lea juga merasakan bagaimana kurangnya kasih sayang orang tua. Dan usia Mayra mengingatkan nya pada masa lalunya dulu. Bagaimana Lea berusaha untuk tetap bertahan hidup dengan ibunya sedangkan pria yang ia anggap sebagai ayahnya itu. Bukanlah pria yang bertanggung jawab.
Lea tidak mau masa lalunya yang penuh penderitaan itu terulang dan dirasakan oleh anak anak dan cucu cucunya. Karena anak seusia Mayra sangat membutuhkan perhatian lebih kedua orang tuanya. Terutama Mamanya sendiri.
"Iya Mi, Nanti Jery akan coba bicara dengan Manda".Sahut Jery tenang. Ia tidak mau sampai kedua orang tuanya tahu masalah rumah tangga nya saat ini.
" Oh ya,Al mungkin akan segera menikah. Karena sekarang adikmu itu sudah punya kekasih. Kami jadi lupa memberitahu kalian ".Seru Lea terlihat antusias menjelaskan hubungan Al dengan calon menantunya.
" Benarkah???. Jery ikut bahagia Mi jika Al akan segera menikah. Setidaknya dia tidak gila lagi karena selalu mengencani banyak wanita".
Jery tersenyum saat mengingat bagaimana kelakuan Al dulu. Dan saat ingat itu, Jery merasa sedikit melupakan masalah rumah tangganya yang pelik ini.
"Dia sudah bertobat nak. Sekarang calon istrinya adalah pilihan terbaik nya. Kau tahu nak dia juga seorang dokter, Sama dengan Manda dan juga Yuni. Tapi bedanya Sherly seorang psikologi".
Lea banyak bercerita pada Jery. Perihal calon menantu nya yang sudah tinggal dirumah nya. Sejak Al membawa gadis itu datang kerumah kedua orang tuanya.
Setelah panggilan telpon dari Mami nya usai. Jery menyandarkan punggungnya pada senderan kursi kerjanya. Menatap langit langit ruang kerjanya. Hidupnya akhir akhir ini bagaikan seorang duda beranak satu.
Ia harus menyiapkan kebutahan Mayra. Bangun lebih awal dari sebelumnya. Hanya untuk membantu sang buah hati. Meskipun Mayra mempunyai pengasuh sampai sekarang. Tapi Mayra cenderung dekat dengan Papa nya.
"Tuan lebih baik istirahat saja dulu!!!. Biar urusan pekerjaan saya yang handle".Evi terlihat melas melihat atasannya itu.
Bahkan Jery terlihat sangat kusut dari biasanya. Ia juga tak lagi memikirkan penampilan nya. Karena pusing akan persoalan rumah tangganya yang sampai saat ini masih belum terpecahkan.
" Apa mereka masih tinggal satu hotel disana??? ".Tanya Jery yang ternyata tidak tahan untuk tetap mengetahui kegiatan istrinya.
" Dokter Ridwan sudah kembali sejak kemarin tuan".Jawab Evi jujur.
"Dia masih memberikan ku pilihan".Ucap Jery lirih. Membuat Evi menautkan kedua alisnya bingung.
" Maksud tuan??? ".
" Manda memyuruhku memilih, bercerai atau menikah lagi".
Jery pun langsung menatap Evi dengan senyum tipisnya. Evi pun sempat terkejut atas ucapan Jery. Evi pun tak tahu harus berkomentar apa saat ini. Evi takut salah memberikan saran pada bosnya itu.
"Apa tuan akan memilih??? ".Tanya Evi pelan.
" Aku sangat mencintainya Evi. Bahkan aku rela menyikirkan pikiran negatifku tentangnya saat tahu dia berselingkuh di belakang ku. Tapi aku juga tidak mau untuk menikah lagi".Jawab Jery mengusap wajahnya kasar. "Sungguh ini pilihan yang sulit bagiku. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam otak Manda saat ini. Aku seperti tidak mengenali istriku sendiri".
" Tuan, maaf sebelumnya. Apa tuan tidak merasa ada yang disembunyikan oleh Nyonya? ".Evi berucap sangat hati hati agar Jery tidak salah paham akan ucapannya.
" Maksudnya kamu??? ".