
Dan entah siapa yang memulai tapi saat ini Barra sudah ikutan polos tanpa sehelai benang pun. Hingga membuat Calista lebih leluasa menguasai suaminya.
"Oh Shiittt".
Umpat Barra ketika gerakan tubuh istrinya semakin menekan Lobaknya kedalam sana. Menjepitnya kuat membuat Lobaknya terasa di urut saja.
Calista tersenyum licik saat melihat ekspresi wajah Barra yang sedang menikmati permainan nya itu. Tapi, dengan jahilnya Calista malah memelankan temponya. Ia juga akan bangkit dari tubuh Barra.
Namun, sia sia karena Barra sudah bisa menebak apa yang akan di lakukan oleh istrinya itu. Calista berniat ingin meninggalkan Barra di saat suaminya sedang menggebu ny. Sama seperti yang di lakukan Barra tadi padanya.
" Tidak semudah itu sayang". Ucap Barra dengan suara seraknya.
Kini Barra pun membalik keadaan dengan Calista yang berada di bawah kendalinya. Tapi, di luar dugaan Barra kembali membalikkan tubuh istrinya. Hingga Calista kini membelakangi nya.
"Akhh... ".
Calista menjerit saat Lobak bertuah itu mulai menusuk nya dari arah belakang sana. Hingga pekik kenikmatan tak lagi terelakkan. Memenuhi ruangan kamar mewah dengan nuansa romantis itu.
" Menjerit lah sepuas mu sayang!!! ".
Bisik Barra dengan seringai liciknya. Dan mulai menaikan tempo nya. Benar saja Calista terus saja melenguh dan merintih apalagi saat bukit kembarnya di remas oleh kedua tangan Barra dari arah belakang.
Menambah sensasi geli yang tak bisa di ungkapkan lagi dengan kata kata belaka.Runtuh sudah pertahanan Calista saat ini. Ia pun mulai mencapai ******* nya mengakibatkan basah dan lembab pada batang dan ujung lobak itu.
" Akan kupastikan besok pagi kau tidak akan bisa berjalan dengan benar lagi". Bisik Barra kembali tapi tak begitu di dengar oleh Calista. Sebab wanita itu sedang menikmati rasanya nikmat yang tiada tara.
Hal baru yang memang tidak pernah ia rasakan sebelum ny. Jauh sebelum bertemu dengan Barra. Bahkan selama ia jadi player, Calista tidak pernah melakukan kontak fisik dengan teman kencan nya. Ia hanya sebatas jalan dan menggeruk habis ATM pria nya.
Tapi seketika dirinya pun mengkhianati tubuhnya sendiri. Bahkan ia kehilangan harga diri serta kehormatan saat berhadapan dengan Pria yang bernama Barra Edward. Pria yang saat ini berstatus suaminya.
🌿🌿🌿🌿🌿
Esok paginya Calista bangun saat matahari sudah sangat trik. Bahkan sinarnya sudah masuk melalui pentilasi udara. Gorden nya pun sudah melambai melambai di terpa angin dari luar.
Wanita itu mulai mengerjapkan matanya, Dan ia melihat wajah teduh dan tampan pria yang semalam menggempurnya sampai pagi. Tanpa mengenal lelah sedikitpun. Saat ini masih tertidur lelap di sampingnya dengan memeluk tubuhnya. Wajar saja ia sedikit kesulitan untuk bergerak. Karena lengan kekar Barra bertengger pada pinggangnya.
"Apa kau mencintaiku??? ". Lirih Calista sambil menyentuh hidung mancung Barra.
Calista tersenyum tipis dan menggeleng kan Kepala. " Ah, tidak mungkin kau mencintaiku hanya dengan waktu beberapa jam saja. Dan mungkin kau melakukan nya hanya dengan sebuah nafsu". Tebak Calista bergumam sendiri.
Cinta entah apa yang di rasakan wanita itu saat ini. Selama hidupnya ia tidak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Bahkan ia menjalin hubungan dengan semua pria koleksiannya hanya sebatas feeling saja. Dan tanpa adanya rasa cinta ataupun suka sedikitpun.
"Tapi, aku akan berusaha membuatmu jatuh Cinta padaku!. Jika sekarang kau belum memiliki perasaan itu sama sekali. Dan jangan harap kau bisa pergi dariku ataupun berkhianat padaku. Jika itu terjadi. Maka, aku akan memotong lobak kebanggaan mu itu". Guman Calista penuh penekanan.
" Kau dengar itu Barra Edward suamiku ". Calista terkekeh sendiri sambil mentoel toel hidung mancung Barra.
Setelah puas berguman sendiri Calista berniat bangun dari ranjangnya. Tapi kakinya benar benar sangat kram dan pegal sekali. Di liriknya jam di nakas yang ternyata sudah menunjukkan pukul 10 .
" What???... Kenapa tidak ada yang membangunkan ku??? ". Pekik Calista terkejut.
" Karena mereka semua sudah pulang ke rumah masing masing-masing ".
Deg...
TBC