
Deru mesin mobil mulai memasuki halaman depan rumah mewah yang menjadi tempat tinggal Jery dan keluarga kecilnya. Velyn yang memang sengaja menunggu suaminya sampai rumah. Meskipun jam di dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Jery sempat terjebak macet di tol dan belum lagi sedang turun hujan. Jadi, Jery pun menyuruh sopir kantornya untuk pelan pelan saja membawa mobilnya. Belum lagi, ia harus mengantarkan Evi terlebih dahulu pulang kerumahnya.
Hingga Jery rela putar balik. Karena rumah Evi dan rumahnya berlawanan arah. Velyn mulai menuruni anak tangga untuk menyambut kedatangan suaminya.
"Bi, biar saya saja yang bukain pintunya!. Bibi silahkan istirahat!! ".Seru Velyn yang melihat salah satu art paruh baya ingin membukakan pintu untuk majikannya yang baru saja pulang.
" Baik Nyonya ".Art itu pun kembali masuk kearah kamarnya. Dan membiarkan Nyonya nya yang saat ini telah memakai piyama tidurnya yang ia tutupi dengan cardigan panjang. Hingga perut nya yang mulai buncit itu terlihat jelas.
Dengan senyuman lebarnya Velyn kembali menuruni anak tangga. Dan mengarah ke pintu utama. Seolah ia sudah tak sabar untuk melihat wajah tampan suaminya. Yang telah seharian ini tidak ia lihat.
Kalau masalah rindu, Jangan ditanya lagi. Karena hampir setiap saat Velyn merasakan rindu pada suaminya itu. Mungkin itu juga pengaruh dari kehamilannya juga. Baby boy sepertinya tidak bisa jauh dari sang Papa.
Termasuk juga Jery yang akhir akhir ini sebenarnya juga ingin selalu menempel dengan istrinya. Mungkin ikatan batin anak dan Papanya sangat erat. Sehingga Jery dan baby boy bisa merasakan hal yang sama.
Ceklek...
Suara pintu utama dibuka. Dan tepat saat Jery ingin memencet bel rumahnya. Senyum Jery langsung mengembang saat melihat wajah cantik istrinya dengan rambut yang ia cepol asal. Hingga leher jenjangnya terlihat sempurna. Belum lagi piyama tidurnya yang berbahan sedikit tipis membentuk perut bulatnya yang sudah tampak. Meskipun Velyn memakai cardigan panjang. Tapi tidak menutup semua piyama tidurnya yang panjang sebatas lutut itu.
"Assalamu'alaikum mas".Sapaan salam Velyn membuyarkan pikiran kotor suaminya. Membuat Jery langsung tersenyum.
" Waalaikumsalam salam istriku ".Sahut Jery yang menyodorkan tangannya. Dan disambut oleh Velyn lalu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim.
Tanpa banyak bicara lagi Jery pun langsung menggiring istrinya untuk segera masuk kedalam rumah. " Sebentar Mas!!!. Pintunya belum dikunci".
Jery menoleh dan langsung menutup kembali pintu utama dan menguncinya dengan cepat. Membuat Velyn langsung terkekeh. Suaminya itu terlihat tidak sabaran untuk segera melahabnya.
Benar saja beberapa detik kemudian tubuh Velyn sudah melayang ke udara karena Jery menggendong nya tanpa permisi terlebih dahulu.
"Mas... ".Pekik Velyn terkejut karena mendadak sudah berada dalam gendongan suaminya.
" Kelamaan sayang, kalau mesti nungguin kamu jalan sampai ke atas". Jawab Jery dengan seringai mesumnya.
" Tidak ada tapi tapian lagi!. Terima saja hukuman mu hari ini! ". Potong Jery cepat . Velyn pun hanya mencubit gemas dada bidang suaminya. Lalu ikut melingkarkan kedua tanganya pada leher Jery.
Setelah sampai di lantai atas tepat di depan pintu kamar utama. " Buka pintunya sayang!!! ". Seru Jery menatap wajah istrinya sambil menunjuk arah pintu dengan dagunya.
" Tidak mau". Velyn mengulum senyumnya.
"Baiklah, kalau begitu kenapa tidak lakukan disini saja?. Hm? ".
" Heh, mana bisa??. Nanti kalau Mayra bangun bagaimana??? ". Protes Velyn cepat
" Makanya, buruan buka pintunya atau aku...
Ceklek...
"Istri sholehah". puji Jery ketika Velyn tanpa menjawab langsung membuka handle pintu kamar mereka. Ia juga memanyunkan bibirnya.
Jery membawa istrinya menuju arah ranjang dan setelah membaringkan Velyn dengan nyaman. Jery kembali kearah pintu, menutup dan mengunci pintu kamarnya kembali dari dalam. Velyn berbaring sambil terus memperhatikan suaminya. Yang kini malah berjalan kearah kamat mandi.
"Mas, mau kemana??? ". Velyn malah melayangkan pertanyaan konyolnya. Karena tadi Jery seakan tak sabaran untuk membawanya ke puncak nirwana. Tapi kini malah ingin masuk kedalam kamar mandi.
" Mau mandi ". Jawab Jery tanpa dosa.
" Iihhh, kok malah mandi sih?. Tadi katanya mau... ". Velyn langsung menutup rapat mulutnya karena ia baru sadar kalau dirinya seolah memang sudah menantikan hukuman dari suaminya.
Jery pun mengulum senyumnya. Karena ia tahu kemana arah tujuan ucapan istrinya ini. " Mau apa sayang???. Hm? ". Jery kembali mendekati istrinya dan duduk di sisi ranjang.
"Gak jadi mas. Sana mandi udah malem!!!. Aku bantu siapin air hangatnya ya? ". Velyn berucap dengan gugup berusaha menghindari tatapan mesum suaminya ini.
Jantung nya selalu saja berdebar kencang saat di tatap seperti itu oleh Jery. Bahkan tak pernah sedikit pun Velyn mampu menolak pesona suaminya ini.
" Mas mau mandi keringat dulu". Bisik Jery tepat di telinga istrinya.