
Setelah sarapan seperti biasa Velyn mengantarkan suaminya sampai di depan teras, Karena Jery pun akan segera berangkat bekerja. Disana juga sudah ada Evi yang menunggu. Sedangkan Mayra baru saja bangun karena hari ini ia kesekolah agak siang.
"Papa pergi kerja dulu ya. Jangan nakal di perut Bunda!!".Tutur Jery mengusap lembut perut istrinya.
" Iya papa".Sahut Velyn menimpali dengan menirukan suara anak kecil.
Jery bangkit dari berjongkok. Lalu menatap wajah istrinya yang saat ini sedang menampilkan senyum manisnya. "Baik baik dirumah!!!. Titip anak anak ya!. Telpon saja kalau ada apa apa! ".Ucap Jery sambil mengecup bibir istrinya.
Sungguh pemandangan yang sangat indah dan membuat iri siapa saja yang melihatnya. Perlakuan Jery saat ini membuat Evi ikut bahagia. Akhirnya bosnya yang dingin dan datar itu. Bisa kembali merasakan cinta dan kebahagiaan nya. Terlihat dari semua sikapnya pada Velyn sekarang.
"Iya mas, udah sana!!!. Evi sudah sejak tadi menunggumu mas". Velyn merasa sedikit canggung karena tingkah suaminya itu. Apalagi Velyn tahu jika Evi adalah seorang single parent.
Namun, meskipun Evi seorang single parent Velyn tidak pernah menaruh curiga dengan asisten suaminya itu. Karena Velyn tahu Evi bukanlah sosok perempuan penggoda. Dan Evi juga tipe wanita yang bisa di percaya.
"Apa kau tidak mau menciumku dulu Bun??? ".Seru Jery dengan wajah yang dibuat memohon membuat Velyn hanya mengulum senyumnya. Dan menggeleng kan kepalanya saja. Tapi tak urung juga, Velyn masih mau memberi apa yang di minta oleh suaminya itu.
Satu kecupan Velyn daratkan pada bibir sensual suaminya. Membuat Evi ikut menggeleng kan kepalanya juga. Seakan ia sudah terbiasa akan pemandangan seperti itu setiap paginya. Karena Jery selalu saja menghadirkan drama nya setiap kali ingin pergi bekerja.
Velyn mencium punggung tangan suaminya. Sebelum Jery beranjak pergi. Begitu pula dengan Jery yang masih tetap sempat mencium kening dan bibir istrinya.
"Aku pergi dulu sayang. I love you".Serunya kembali saat sudah melangkah pergi dari hadapan istrinya.
" Waalaikumsalam mas".Teriak Velyn karena suaminya hampir saja lupa mengucapkan salamnya.
Selang beberapa detik akhirnya mobil yang di naiki Jery dan Evi. Mulai melaju ke luar halaman rumah dan hilang di balik tembok tinggi pagar rumahnya.
Velyn pun langsung kembali masuk kedalam rumah. Karena ia juga harus menyiapkan sarapan serta bekal untuk Mayra.
Saat Velyn masuk di saat itu juga Mayra baru menuruni anak tangga. Membuat Velyn tersenyum pada putri sambungnya itu.
"Pagi Bunda".Sapa Mayra yang kini sudah berlari kearah Bundanya.
" Pagi sayang, anak gadis Bunda pinter ya. Udah rapi aja ".Puji Velyn karena Mayra memang tidak pernah merepotkan siapapun lagi. Ia sudah sangat mandiri. Dan sudah terbiasa menyiapkan semua keperluan sekolahnya sendiri. Begitu pula dengan semua seragam sekolahnya.
Di usia nya yang masih delapan tahun. Mayra sudah berpikiran dewasa. Ia selalu melakukan apapun sendiri. Hanya kadang kadang saja ia masih membutuhkan bantuan orang lain. Terutama Bundanya dan pengasuhnya.
"Papa udah berangkat ya Bun??? ".Tanyanya karena sejak tadi ia tidak melihat sosok Papanya lagi.
" Iya sayang, baru saja papa berangkat. Kan Papa mau ke Bandung sama Aunty Evi". Velyn menjelaskan dengan sangat pelan dan hati hati.
"Apa Papa akan pergi menginap Bun??? ".
" Tidak sayang, kata Papa sih langsung pulang. Tapi ya itu mungkin tidak bisa pulang tepat waktu ".Mayra hanya menganggukkan kepalanya saja. " Ayo Bunda temenin Mayra sarapan!!! ".
Velyn menggandeng tangan Mayra menuju meja makan. Sedangkan Mayra hanya menurut dan mengikuti langkah Bundanya.