Married Accident

Married Accident
Ajakan Party



"Tuan, saya rasa Nyonya sedang menyembunyikan sesuatu. Tidak mungkin Nyonya Manda berubah secara tiba tiba begini".


Evi mulai menyatakan asumsinya. Karena Evi hanya ingin yang terbaik untuk tuan dan Nyonya itu. Sebagai seseorang yang pernah di tolong dan di angkat derajatnya oleh Jery dan keluarga besar Bagaskara. Evi tahu artinya balas budi. Dan apapun ia lakukan untuk mengabdikan dirinya dengan tulus pada keluraga ini.


"Apa tuan tidak sadar dengan sikap Nyonya yang sekarang sangat berbanding terbalik dengan sifat aslinya dulu tuan".


" Aku merasakannya Evi. Aku sekarang tidak pernah melihatnya tersenyum lagi dan dia juga lebih sering mengabaikan suami serta anaknya sendiri".


Jery nampak berkaca kaca tapi dia juga tidak bisa mencerna ucapan Evi dengan baik. Karena pikirannya sedang kacau saat ini. Jery bagaikan pria bodoh yang tak tentu arah. Ia terlalu mencintai istrinya hingga ia merasa kehilangan separuh jiwanya saat mengetahui jika dirinya dikhianati.


Jika berbicara masalah harga diri dan berpikir logis. Maka tidak ada satu orang pun yang mau dikhianati. Apalagi ini dalam hubungan pernikahan. Siapa yang tahan dan sabar melihat pasangan nya sendiri masuk kedalam kamar hotel berdua dengan orang lain.


Melihat kekasih jalan dengan orang lain saja kita cemburu dan panas. Apalagi ini istri yang menginap di kamar yang sama dengan seorang pria. Bahkan saat masuk mereka nampak mesra sekali. Layaknya pasangan real pada umumnya.


Yang lebih menyakitkan lagi adalah Jery melihat senyum lepas dari bibir Manda. Saat Dokter Ridwan membukakan pintu kamar hotel itu untuk mereka. Senyum yang tak pernah lagi Jery lihat diwajah istrinya akhir akhir ini.


"Tuan anda mau kemana??? ".


Evi pun ikut terkejut saat Jery tiba tiba bangkit dari kursi kerjanya. Padahal evi belum selesai bicara tentang maksdu dari perkataan nya tadi.


" Batalkan meeting siang ini!. Aku akan pergi sebentar ".Jawab Jery sambil terus melangkah keluar dari ruangan kerjanya.


" Saya harap ini belum terlambat tuan".Lirih Evi sambil menghela nafasnya kasar.


Ia dibuat serba salah saat ini. Di satu sisi Evi hanya ingin tuan nya paham tapi disini lain Evi tidak bisa berkata lebih.Karena akan lebih sangat menyakitkan lagi jika sampai Jery tahu yang sebenarnya.


Tak berselang lama Jery pergi. Ponsel Evi berdering. Terlihat Evi kembali menghela nafasnya sebelum ia mengangkat telpon nya.


"Iya Halo".


Evi pun langsung pergi meninggalkan ruangan kerja Jery. Saat ia sudah mengangkat telpon nya. Evi kembali masuk kedalam ruangan kerja nya. Dan berbicara serius dengan seseorang lewat panggilan telpon itu.


Cukup lama Evi berbicara sambil sesekali mengusap wajahnya. Ia juga kadang terlihat emosi. Dan Evi langsung terkejut saat pintu ruangannya di ketuk dari luar.


"Maaf Bu Evi permisi. Di luar ada tamu yang ingin menemui anda".Ucap sekretaris Jery.


" Siapa??? ".Tanya Evi sedikit bingung. Dan ia pun sudah mematikan sambungan telpon nya tadi.


" Biar saya saja yang langsung temui".Potong Evi cepat sembari melangkah keluar dan diikuti oleh sekretaris itu.


🌿🌿🌿🌿🌿


"Apa dokter Ridwan nya ada??? ".Jery yang baru saja tiba di rumah sakit langsung bertanya pada resepsionis . Menanyakan dokter yang sudah lama ingin ia temui.


" Wah, maaf tuan, dokter Ridwan nya baru saja pergi sejak satu jam yang lalu ".Jawab Resepsionis itu ramah.


" Jam berapa dia akan kembali??? ".Jery masih bisa bersikap sopan. Meskipun otaknya sudah mendidih. Menahan amarahnya sejak ia melihat dengan jelas istri dan dokter itu bergandengan tangan.


"Biasanya kalau sudah keluar . Dokter Ridwan akan langsung pulang tuan. Lagian sore ini dokter Ridwan ada perjalanan ke Surabaya".


" Surabaya??? ".Ulang Jery pelan.


Jery pun langsung bergegas keluar rumah sakit. Setelah mendapatkan informasi tentang dokter Ridwan. Tujuan Jery saat ini pun sama. Ia akan pergi ke Surabaya juga. Karena feeling nya mengatakan jika Manda pasti akan ada disana.


Entah kenapa Jery tidak yakin istrinya itu masih di Singapura. Meskipun Jery tidak mengutus paparazi untuk Manda. Dengan alasan agar ia tidak tahu kegiatan istrinya. Yang hanya membuatnya semakin terluka nantinya.


Dering ponselnya membuat Jery kembali merogoh benda pipih itu dari saku jasnya. Jery mengerutkan keningnya ketika melihat nama sahabat nya tertera di layar ponselnya.


Setelah masuk kedalam mobilnya. Jery pun langsung mengangkat telpon sahabat lamanya. Teman sekolahnya dulu yang sudah lama tidak ia temui. Karena beliau memutuskan tinggal di Swiss.


"Akhirnya loe angkat juga telpon gue".Suara seorang pria bernada sedikit kesal langsung memekakkan gendang telinganya.


" Masih hidup loe, gue kira udah mati di Negara orang ".Jawab Jery sembari meledek.


" Gue ada di Jakarta sekarang. Baru aja tiba di Bandara. Ntar malem anak anak ngajak party men. Jangan ngak dateng. Mentang mentang udah jadi Ceo. Punya istri dan anak cantik. Tapi nikahnya gak undang undang loe mah parah jer".


"Gue banyak urusan men. Kayaknya gak bisa".Tolak Jery halus. Karena ia tahu party yang dibilang oleh sahabat nya satu ini.


" Come on hanya sekali ini aja men. Di club xxx jam sembilan malam gue tunggu!! ".


" Hais... Sialan".Jery mengupat kesal saat telpon nya langsung mati sepihak. Siapa lagi pelakunya kalau bukan sahabat nya yang rada oleng itu.