
Satu Minggu setelah Calista di nyatakan hamil. Sikap wanita itu sangatlah berubah drastis. Bahkan ia jauh lebih galak dari sebelumnya. Sifat bar bar nya nyaris hilang dari dirinya. Calista pun sampai tak mengenali dirinya sendiri.
Sudah satu minggu ini juga mereka tak melakukan hubungan panasnya. Membuat Barra sangat tersiksa lahir dan batin tentunya. Namun, jangan salah, Calista juga sangat tersiksa akan hal itu. Terbiasa memeluk tubuh kekar Barra, Setiap kali ia tidur. Namun, sudah satu minggu ini mereka malah tidur berjauhan.
Rasa mual dan ingin muntah karena menurut indera penciuman Calista tubuh suaminya sangatlah bau. Membuat Barra harus rela tidur d sofa atau bahkan di kamar putrinya.
Malam ini Barra masih sibuk di ruang kerjanya. Entah apa saja yang dikerjakan pria itu. Sejak selesai makan malam tadi, Barra langsung masuk kedalam ruangan kerjanya. Sementara Calista asyik mengobrol dengan Celine.
Saat kembali ke kamarnya, Calista tidak mendapati suaminya ada di sana. Karena biasanya Barra sudah lebih dulu masuk kedalam kamar. Meskipun ia harus rela tidur di sofa tanpa sentuhan hangat sang istri.
Calista kembali keluar kamar. Setelah putrinya sudah terlelap karena dongeng yang ia bacakan. Kini Calista berniat menghampiri suaminya keruang kerjanya. Malam ini ia begitu ingin dekat dan sedikit memeluk tubuh suaminya. Yang sudah satu minggu tidak ia peluk sedikitpun.
Entah, mungkin hasratnya yang sudah kembali normal. Atau memang ia sudah tidak tahan lagi untuk kembali menikmati sensasi panas di atas ranjang bergoyang bersama sang suami.
"Pi... Papi... Boleh aku masuk? ". Calista mengetuk pintu ruang kerja suaminya. Namun, tak ada sahutan dari dalam sana.
Akhirnya Calista memberanikan diri untuk masuk begitu saja. Tapi, ternyata suaminya sedang sibuk menelpon bahkan wajah Barra tampak terkejut saat melihat istrinya masuk kedalam ruang kerjanya.
Wajah Barra yang tadi penuh amarah. Kini kembali terlihat datar. Membuat Calista menautkan kedua alisnya bingung. Bahkan, kini Barra telah mematikan telpon nya sepihak.
" Sedang menelpon siapa malam malam begini??? ". Tanya Calista yang tiba tiba langsung duduk di pangkuan Barra. Ia juga mengalungkan tangannya di leher suaminya.
Hal itu tentunya membuat Barra bingung, Dan terkejut akan sikap istrinya. Padahal satu Minggu ini Calista begitu kesal saat ia mendekat.
" Apa aku sudah tidak bau lagi??? ". Tanya Barra sedikit menarik sudut bibirnya.
" Jawab dulu pertanyaan ku!!. Siapa yang kamu telpon malam malam begini??? ". Calista ternyata masih ingin tahu siapa yang berbicara lewat sambungan telepon dengan suaminya beberapa menit yang lalu. Sampai sampai Barra tidak mendengar ketukan pintu nya.
" Oh itu, hanya kolega bisnis saja. Mereka meminta agar meeting besok di majukan secara dadakan! ". Jawab Barra tanpa ragu sedikitpun. Bahkan Calista saja sampai tidak bisa membaca apapun dari tatapan mata Barra saat ini.
" Yakin??? ".
" Ulangi lagi!!! ".Pinta Calista dengan senyum dibibirnya. Ia begitu senang bukan main, saat Barra entah tanpa sengaja atau tidaknya, Memanggilnya dengan kata Sayang.
" Ulangi??. Yang mana?? ". Barra malah pura pura bodoh.
" Ck, kau itu menyebalkan sekali. Baru saja aku ingin terbang karena kata katamu tadi. Sekarang malah kumat lagi kaku dan datarnya". Gerutu Calista kesal. Dan ia malah ingin beranjak pergi dari pangkuan suaminya. Namun, sayangnya pinggangnya sudah di tahan oleh Barra.
"Jangan harap kau bisa lolos malam ini Sayang". Bisik Barra yang kembali menekankan kalimat Sayang di akhir katanya.
" Aku ingin kamu memanggilku dengan panggilan seperti itu setiap harinya!!! ". Rengek Calista dengan sangat manja.
" Tergantung ". Jawab Barra sekenanya.
" Tergantung apanya??? ".
" Tergantung servisan mu malam ini sayang".
Barra pun langsung menyambar bibir Calista dengan sangat rakus dan menuntut. Ia benar benar langsung kalab. Bagaimana tidak dengan susah payah selama seminggu ini ia tahan hasratnya. Agar istrinya tidak semakin kesal padanya.
Tapi malam ini ia tidak akan membiarkan Calista istirahat sebelum ia puas. Calista ikut membalas ciuman panas suaminya itu dengan tak kalah menuntut nya. Bahkan kini piyama tidur Calista sudah dibuka paksa oleh Barra.
Lalu Barra pun dengan segera memasukkan kepalanya. Kedalam himpitan gunung kembar nan padat berisi itu. Memainkan pucuknya dengan lidahnya. Hingga membuat Calista menegang. Desiran aliran darahnya seketika berubah panas. Menjalar keseluruh tubuhnya.
Tanda tanda percintaan sudah Barra berikan pada kulit istrinya yang putih mulus itu. Bahkan Kini Barra sudah menidurkan istrinya di meja kerjanya. Dan tak ingin gagal dan menunggu lebih lama lagi. Barra pun membuka alat tempurnya. Hingga lobak kesukaan Calista kembali keluar.
"Akhh... ".
Barra tersenyum senang, saat ia kembali bisa mendengar rintihan manja istrinya. Yang membuatnya mabuk itu. Bahkan Barra juga semakin menekan miliknya. Menenggelamkan Lobak berurat itu terbenam kedalam sana.
Dan akhirnya malam ini selesai juga puasa Barra. Mereka melakukan nya tak hanya sekali. Bahkan sampai pindah kedalam kamar pun mereka berdua kembali mengulangi nya.