
Seketika kediaman Jery dan Velyn mendadak rame. Karena kedatangan mami mertuanya dan juga Aunty Kinan. Yang sudah lama tidak tidak berkumpul dengan Lea dan para keponakan nya. Karena Kinan beberapa bulan terkahir berada di Bangkok.
Hari ini mereka bertiga yang berstatus istri itu. Menghabiskan waktunya seharian di dapur. Kerana Lea kalau sudah kumpul ya pasti maunya bikin kue kering dan juga cake. Apalagi Kinan yang sangat menyukai masakan kakaknya. Begitupula dengan Velyn yang tak kalah dengan Kinan. Karena apapun yang dimasak oleh Lea itu rasanya pasti enak.
Mami Lea adalah wanita paket komplit. Serba bisa dan serba cepat. Meskipun terlihat anggun begitu tapi Mami Lea juga bisa tangguh. Tak heran jika Rayen sampai sekarang selalu cinta pada sang istri.
Mayra juga tak mau kalah. Ia ikut belajar bikin kue bersama Bunda, dan Oma nya . Gadis kecil itu begitu semangat membuat adonan. Sambil sesekali bercanda dengan sang Bunda.
Kinan dan Lea pun ikut tersenyum melihat Mayra bisa tertawa lepas bersama Velyn. Layaknya ibu dan anak kandung.
"Bunda, kue yang ini nanti buat Papa ya!!. Mayra pengen bikin khusus buat Papa". Seru Mayra dengan sangat antusias.
" Wah, Papa pasti sangat menyukai kue buatan kakak nih". Velyn berbicara dengan senyum di bibir nya. Membuat Mayra semakin berbinar.
"Benarkah Bunda??? ".
" Iya sayang, Karena kakak bikinnya dengan sepenuh hati dan sepenuh Cinta".
"Hahaaa... Bunda juga mencintai Papa kan??? ".Celetuk Mayra yang langsung membuat Velyn gugup saat tiba tiba putrinya melayangkan pertanyaan itu.
" Bunda malahan lebih dari Cinta sama Papa sayang".Sahut Kinan ikut menimpali. "Karena kalau Bunda gak Cinta. Mana mungkin ada dedek bayi dikandungan Bunda saat ini".Sambung Kinan sambil terkekeh.
" Kinan ".Lea langsung mendelik pada adiknya yang mulai tak berfilter karena Mayra juga belum akan paham maksdu perkataan Kinan. Tapi Lea tidak mau mencemari otak dan pikiran cucunya yang masih dibawah umur itu.
Velyn pun ikut mengulum senyumnya akan tingkah kakak dan adik itu. Karena di keluarganya Velyn sama sekali tidak pernah merasa sehangat ini. Ia juga besar atas asuhan sang kakek. Yang memang sibuk dengan urusan nya sendiri. Hingga ia di serahkan pada baby sister sampai ia tumbuh remaja.
Kakeknya juga bekerja hanya untuk membahagiakan dirinya. Apalagi para sepupu nya juga tidak perduli dengan Velyn. Hanya karena sesuatu hal yang tidak Velyn ketahui dengan jelas.
Bahkan setiap hari hari besar Velyn juga sering tidak hadir. Karena ia merasa kehadiran nya tidak di inginkan. Meskipun sang kakek adalah seorang pengusaha yang tidak pernah kekurangan apapun. Tapi Velyn sangat kekurangan kasih sayang. Sang kakek bukannya tidak menyayangi nya. Tapi kesibukan sang kakek membuat Velyn seperti di abaikan.
Dalam arti lain, Velyn tumbuh dan besar secara mandiri. Dan tanpa kasih sayang orang tua yang lengkap sama sekali. Ia juga belum sempat melihat wajah Mami dan Papinya. Bahkan fotonya pun tak pernah Velyn lihat.
Jika ditanya sang kakek akan menjawab. Semua itu sengaja di sembunyikan karena tidak mau membuat dirinya bersedih. Kakek Velyn pun bilang demi kebaikan dan agar Velyn tidak larut dalam kesedihanya.
"Sayang, kamu kenapa??? ".Lea mengguncang pelan bahu Velyn karena melihat Velyn seperti sedang melamun.
" Ah, tidak Papa Mi". Bohong Velyn sambil tersenyum kaku. Ia tidak mau menceritakan apa yang ia alami semasa kecilnya.
Maka dari itulah Velyn bertekad tidak akan pernah meninggalkan Mayra dalam situasi apapun juga. Sebab, ia juga tidak mau jika Mayra ikut mengalami apa yang pernah ia alami dulu.
Velyn ingin Mayra tidak kekurangan kasih sayang orang tuanya. Meskipun ia bukan ibu kandungnya setidaknya Velyn akan terus berusaha memberikan yang terbaik untuk putri sambungnya tersebut.
Senyum Mayra adalah kebahagiaan Velyn saat ini. Dan kasih sayangnya pada Mayra tak akan pernah berubah sedikit pun. Walaupun baby sudah lahir nanti. Velyn ingin membesarkan keduanya dengan kasih sayang yang tulus dan ingin juga melihat anak anaknya tumbuh dewasa serta mendapatkan pasangan hidup masing masing.