
Calista dan Celine duduk di meja bar memperhatikanmu sang papi yang saat ini begitu mempesona saat sedang menggunakan alat alat masaknya. Otot kekarnya begitu cekatan dalam segi hal. Apalagi ketika Barra sedang memotong daging. Bahkan Calista sejak tadi tak mampu berkedip sedikitpun.
" Pasti masakan Papi enak tuh. Iya kan mi? ". Celine pun jadi tak sabar ingin mencicipi rawon buatan Barra.
" Tentu sayang, karena Papi bikinnya dengan sepenuh hati ". Jawab Calista melirik suaminya yang saat ini tengah tersenyum tipis.
Namun, senyum itu tidak terlihat oleh anak dan istrinya. Barra memang sangat pelit sekali untuk tersenyum. Tak jarang ia selalu di juluki bos datar. Tapi, karena ketampanan pria itu di luar batas normal. Meskipun ia sudah hampir kepala empat. Itu justru membuat seorang Calista tak mampu berpaling lagi dari pesona suaminya.
Hingga beberapa menit menunggu akhirnya. Rawon buatan Barra telah selesai. Dan kini pria itu mulai mengambil mangkuk kecil beserta sendok teh. Lalu menuangkan kuah hitam dari masakan itu. Dan beberapa potong daging.
Calista pun tampak tak sabaran untuk segera mencicipi nya. Begitupula dengan Celine. " Mau pi!!! ". Rengek Calista malah terlihat lebih manja daripada Celine.
Barra mulai mendekat dan mulai ingin menyuapi dua wanita berbeda usia itu. Yang sama sama ia sayangi dan cintai.
" Aaaa... ". Baik Calista maupun Celine sama sama membuka mulut nya lebar lebar. Barra melirik istrinya namun, kemudian Calista tersenyum.
" Suapan pertama buat anak gadis Mami dulu dong!!! ". Seru Calista begitu tulusnya.
Barra pun menurut dan memberikan sendok pertamanya pada Celine. " Emmm... Sedap". Seru Celine mengacungkan jempolnya.
" Benarkah??? ". Celine mengangguk kan kepalanya. Lalu Calista mulai kembali membuka mulutnya , ia sejak tadi sudah meneguk air liurnya sendiri.
" Celine tidak melihat Mam". Seru Celine yang ternyata sudah menutup matanya dengan kedua tangannya. Barra hanya mengulum senyum tipis, Celine sangat paham akan kode etik dari Papinya.
Calista langsung mendorong dada bidang suaminya. Lalu bumil itu melirik kearah Celine lagi. Namun karena sang putri tetap menutup matanya. Calista malah kembali menarik tekuk leher Barra. Dengan gerakan dadakan membuat Barra tidak siap. Tapi, Calista sudah menyambar bibir sensual nya itu. Menyesapnya dalam dan menyapu setiap sudut bibir suaminya.
Calista tersenyum ketika ia sudah menjeda ciuman singkat namun, sangat terasa membuat sang lobak Barra mulai bergerak.
" Berikan rawonnya padaku!!! ". Ucap Calista mengulum senyumnya. Karena ekspresi wajah Barra saat ini terlihat sedang menahan sesuatu akan ulah nya.
Calista yakin Lobak suaminya mungkin sudah bangkit meskipun belum sepenuhnya berdiri. Barra pun segera beranjak karena ia tidak mau ketahuan sedang sesuatu.
" Tunggu saja di meja makan!!! ". Ucap Barra setelah ia berpaling dan mulai memindah kan rawon ke dalam mangkok besar.
Calista pun terus saja mengulum senyum nya. Sembari menepuk bahu putrinya pelan. " Celine sayang, Papi udah nyuruh kita makan tuh.Ayo sayang sebelum Papi berubah pikiran dan malah memakan Mami". Seloroh Celine dengan jahilnya. Bahkan ia sengaja meninggikan suaranya agar bisa di dengar oleh Barra.
Celine mulai membuka tangannya. Dan kini menatap wajah sang Mami. Membuat Calista tersenyum dan mulai menggandeng tangan Celine menuju meja makan. Namun, Calista masih sempat menoleh sambil memonyongkan bibirnya kiss bye pada suaminya.
" Shittt... " . Upat Barra dalam hati, ia telah salah menjahili Calista. Malah sekarang dia sendiri yang kerepotan.
Memiliki istri seperti Calista tak hanya membuat Barra repot akan kejahilan nya. Tapi, juga repot akan kemesuman nya. Niat hati hanya ingin menggoda. Malah dia juga yang tergoda.