
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tapi acara di ballroom hotel masih sangat heboh. Itu semua karena mereka masih saja menikmati acara. Tapi hanya acara keluarga saja. Baik yang tua maupun yang muda sedang berdansa ria bersama pasangan nya masing masing.
Para anak anak bahkan sudah masuk kedalam kamar mereka masing masing. Karena malam ini semua anggota keluarga diwajibkan untuk tetap tinggal di hotel.
Di saat yang lainnya pada asyik berdansa. Di dalam sebuah kamar yang luas dan kamar yang sudah di siapkan khusus untuk keluarga besar Calista. Jery tengah berbaring di samping istrinya.
Seharian menghadiri pernikahan Calista membuat Velyn mulai lelah. Akhirnya Jery memutuskan untuk mengajak sang istri istirahat saja di dalam kamar. Sedangkan Mayra pun sudah tidur bersama Celine putri nya Barra dengan di temani oleh para pengasuhnya.
Jery mengulurkan tangannya, untuk menyentuh perut buncit istrinya. Mengusapnya dengan pelan. " Dia pasti kelelahan juga sama seperti Bundanya". Lirih Jery sambil tersenyum.
Velyn pun ikut tersenyum. Bahkan tadi ganti pakaian saja ia dibantu oleh suaminya. Tapi kini ia malah enggan untuk memejamkan matanya sendiri.
"Mas sudah siapkan nama untuknya belum??? ". Tanya Velyn sembari mendongakkan kepalanya mematap wajah suaminya yang selalu terlihat tampan dalam keadaan apapun.
" Marchel Jery Putra". Jawab Jery kini menatap wajah istrinya yang tampak tersenyum.
"Apa kau setuju sayang??? ". Velyn menganggukkan Kepala nya dan terus tersenyum.
" Nama yang pas. Jadi dia bisa dipanggil koko Marchel Dan Mayra akan jadi cici". Seru Velyn tersenyum senang.
"Kalau jadi koko berarti masih mau niat nambah anak lagi nih??? ". Goda Jery mulai tersenyum mesum.
" Banyak anak banyak rezeki". Jawab Velyn bersemu merah.
"Kalau begitu malam ini Papa mau mengunjungi baby Marchel dulu!. Mau minta izin nanti kalau dia udah lahir Papa dan Bunda akan bikin adik lagi buat mereka". Seloroh Jery beralasan.
Belum juga sempat menjawab bibir Velyn sudah di bungkam oleh pagutan bibir Jery. Hingga membuat Velyn hanya bisa pasrah dan menikmati sembari ikut membalas ******* suaminya itu.
Pagutan itu terjadi cukup lama, sampai sampai Velyn tak sadar jika mereka kini sudah polos tanpa sehelai benang pun lagi. Membuat Jery lebih leluasa menancap gas memulai penyatuan nya.
"Akh... ".
Keduanya sibuk mencapai puncak nirwan. Menikmati surganya dunia. Hingga tak lagi memperdulikan keadaan di luar sana. Bahkan sang pengantin pun masih asyik berpesta. Tapi Jery dan Velyn malah mendahului mereka.
"Maafkan Papa boy!!!. Papa kalab". Batin Jery dalam hatinya.
Saat dirinya sudah tak mampu mengontrol pacuan tubuhnya. Tapi ia juga masih memikirkan janin di dalam kandungan sang istri.
Jery masih bisa membuat istrinya nyaman meskipun ia terus memacu tubuhnya. Membuat Velyn tidak bisa menahan suaranya lagi. Hasratnya dibuat turun naik. Dalam permainan yang selalu menjadi candu untuk keduanya.
" Mas... Akh... ".
Velyn kembali merintih nikmat saat Jery semakin menekan miliknya. Hingga menimbulkan rasa yang tak pernah bisa di ungkapan dengan kata kata semata. Velyn mencengkram kuat rambut suaminya saat ia merasa sudah saatnya menuju puncak.
" Satu kali ". Lirih Jery tersenyum licik.
" Akh... ".
Velyn kembali melenguh ketika Jery malah kembali memacu tubuhnya. Ia begitu senang saat istrinya sudah pelepasan pertamanya. Dan apalagi wajah Velyn begitu menggemaskan saat ia akan menuju ke langit Ketujuh nya.
Hal itu membuat Jery selalu ketagihan melihat ekspresi wajah istrinya. Dan entah sudah berapa kali Velyn tertuntaskan. Tapi suaminya itu masih saja belum ada tanda tanda untuk berhenti. Hingga suara erangan panjang Jery mulai terdengar. Dan itu menandakan dirinya baru mulai menyiram benihnya kembali dengan cairan lahar panas miliknya.
" I love you sayang".
Kata Cinta yang selalu keluar dari mulut Jery. Membuat Velyn selalu meleleh. Bagaimana tidak, suaminya itu selalu saja mengucapkan kata itu saat mereka sudah selesai berolahraga panas. Tak pernah sekalipun Jery lupa untuk mengucapkan nya.
"Love you too". Jawab Velyn bangga
TBC