
Langkah lebar Jery terlihat tergesa gesa memasuki sebuah rumah sakit besar di Singapura. Di ikuti oleh sang asisten dan juga seorang pria yang wajahnya sedikit lebam.
Ruangan pertama yang di tuju oleh Jery adalah ruangan ICU. Dimana di salah satu ruangan VIP itu terlihat seorang wanita terbaring lemah. Di tubuhnya masih menempel beberapa selang dan kabel yang tersambung pada monitor dan tabung oksigen.
Ceklek...
Jery langsung membuka pintu ruangan kamar tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Membuat wanita paruh baya yang sejak semalam menemani wanita cantik itu terperanjat kaget. Namun, kedatangan putranya bersama Jery membuat wanita paruh baya itu paham. Kondisi apa yang sedang terjadi saat ini.
Jery menatap lemah dengan mata yang mulai berkaca kaca. Saat melihat wajah cantik istrinya selama ini. Sedang terlihat pucat dengan alat medis yang tetap menempel di tubuhnya. Selang infus pun masih melekat di sana.
Langkah Jery semakin melemah kala melihat separuh jiwanya terbujur tak berdaya seperti ini. "Kenapa kau menyembunyikan semua ini sayang???. Kenapa??? ".Sungguh tak ada lagi yang bisa Jery katakan selain memperlihatkan kesedihan mendalamnya.
Berulang kali ia menciumi punggung tangan istrinya dengan kecupan kecupan lembutnya. Sembari menitik kan air matanya. Ia bahkan ikut menyalahkan dirinya sendiri. Karena tidak pernah tahu apa yang di alami oleh istrinya selama ini.
" Bagaimana dengan operasi nya??? ".Tanya Jery datar dengan suara lirih namun penuh penekan.
Wanita paruh baya itu menoleh pada sang putra yang kini juga ada di dalam ruangan tersebut. Melihat anggukan kepala dari putranya. Membuat wanita itu mulai membuka mulutnya untuk menjelaskan.
" Dokter hanya melakukan operasi kecil. Tapi... ".Wanita paruh baya itu tidak sanggup untuk melanjutkan kata katanya kembali.
" Tapi apa??? ".Bentak Jery yang memang masih menyimpan amarahnya sejak ia tahu apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya. Bahkan asisten Evi hanya bisa menundukkan kepalanya lemah.
Seandainya saja Evi punya keberanian dan lebih memilih untuk menjelaskan lebih dulu pada Jery. Mungkin Jery akan melakukan tindakan untuk istrinya. Evi turut merasa bersalah, tapi ia juga baru mengetahuinya dua bulan terkahir. Dan itupun langsung mendapatkan ancaman dari Manda.
"Sel kankernya sudah menyebar sampai ke sumsum tulang belakang nya. Dan kemungkinan Manda bisa bertahan hanya beberapa bulan lagi".Wanita paruh baya itu ikut berkaca kaca tak sanggup untuk mengatakan hal sebenarnya.
Lidahnya begitu kelut untuk berbicara kebenarannya. Karena ia yakin semua atas kehendak sang Khalik pemberi hidup dan kehidupan di dunia ini. Tapi di lain sisi dokter sudah memvonis Manda karena Manda mengidap Kanker otak stadium akhir. Dan harapan nya sangat tipis untuk bisa sembuh. Apalagi sekarang sudah menyebar sampai ke sumsum tulang belakang nya.
" Tapi tuan...
"Jika kau masih menganggap ku bos dan keluarga mu. Maka lakukan apa yang aku perintahkan!!! ".Potong Jery yang sedikit kecewa akan asisten nya itu.
Dan dengan helaan nafas beratnya. Evi pamit undur diri untuk melaksanakan perintah Jery. Namun, ketika Evi akan keluar dari ruangan itu. Evi di kejutkan dengan kedatangan Rayen dan Lea.
" Tuan, Nyonya besar".Sapa Evi sedikit gugup.
Rayen dan Lea hanya menganggukkan kepalanya. Lalu mulai masuk kedalam ruangan Manda. Membuat Wanita paruh baya tadi ikut menundukkan kepalanya memberi salam pada sepasang suami istri yang sampai saat ini masih terlihat tampan dan cantik.
"Jery Papa ingin bicara. Lebih baik kita bicara di luar saja!!! ".Rayen berkata selembut mungkin untuk menenangkan putranya.
" Jery tidak ingin jauh dari Manda pa".Jawab Jery lemah. Rayen dapat memahami itu. Tapi semua ini sudah menjadi ketentuan sang Maha Kuasa. Manusia hanya bisa berikhtiar,berdoa, dan berusaha sebaik mungkin. Hasil akhirnya hanya Allah yang bisa menentukan nya.
"Nak, Manda juga butuh kekuatan dan dorongan semangat dari kamu. Dan masih ada Mayra yang selalu menunggu kelulangan kamu sayang".Bujuk Lea lembut sembari mengusap bahu Jery pelan.
Wanita paruh baya dan seorang pria yang tadi datang bersama Jery dan Evi pun. Memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Karena memang sebenarnya tidak boleh ada banyak orang yang masuk. Apalagi mereka tidak memakai seragam yang steril.
"Apa yang harus Jery lakukan tanpa Manda Mi???. Jery tidak akan sanggup kehilangan Manda mi. Kenapa Tuhan begitu kejam pada Jery, Apa Jery begitu berdosa sampai sampai Tuhan memberikan Jery masalah seperti ini??? ".
Jery memeluk pinggang Maminya. Membuat Rayen ikut berkaca kaca. Tak sanggup melihat putranya serapuh ini. Bahkan selama ini Jery tidak pernah menunjukkan kesedihan sekecil apapun pada keluarga nya. Sejak kecil Jery selalu banyak diam.
Rayen juga sangat sedih melihat putranya itu. Dari kecil sudah terlalu banyak cobaa yang ia hadapi dan harus dewasa sebelum waktunya.
Lea ikut memeluk bahu putranya. Karena Jery dalam posisi duduk di kursi samping brankar Manda. "Jangan bicara seperti itu nak!. Justru karena Allah sayang sama kamu dan Manda. Makanya Allah memberikan kalian ujian.