
Mobil yang di tumpangi Jery, Velyn dan Evi kini sudah terparkir rapi di depan sebuah gedung bertingkat. Yang tak lain dan tak bukan adalah anak cabang perusahaan BGS group.
Evi membukan pintu untuk Tuan dan Nyonya nya. Dengan Jery yang turun duluan di susul oleh Velyn istrinya. Karena di perusahaan juga banyak karyawan baru. Jadi, kedatangan Jery tampak tak begitu di hiraukan oleh mereka.
Jery mulai tersenyum ketika mulai menginjkakkan kakinya di lantai perusahaan nya sendiri. Tapi, begitu berasa seperti orang asing saja. Jery mengkode Evi untuk tetap santai ketika Evi ingin mulai angkat bicara untuk menegur semua karyawan.
Velyn juga tampak bingung dengan apa yang ia lihat saat ini. Hanya security saja yang tampak ramah saat mereka datang tadi. Selain itu malah memasang wajah masam. Dan sama sekali tak ada senyum ramahnya.
Evi mulai mendekati meja resepsionis untuk menanyakan keberadaan sang direktur perusahaan. Sebetulnya mereka bisa saja masuk. Tapi Evi tahu apa yang akan bos nya itu lakukan saat ini. Jadi, tidak ada salahnya jika Evi pun ikut memainkan perannya.
Beruntungnya sang Direktur umum juga belum tahu wajah CEO nya sendiri. Karena Jery sangat jarang terekspos publik. Ia lebih suka bekerja dibalik layar. Dan setiap ada wawancara media. Jery selalu ingin diwakilkan oleh adiknya Naures.
Jadi, tak jarang jika orang orang berpikir jika CEO Bgs group adalah Naures. Padahal Jery lah orang yang saat ini sebagai pemegang saham terbesar. Di perusahaan bgs group. Sedangkan Al ,Naures, Kenyang dan juga Naura hanya memiliki beberapa persen saja.
Dan mereka semua juga tidak terlalu perduli dengan saham itu. Karena masing-masing juga sudah memiliki usaha sendiri. Apalagi Jeny dan juga Naura. Mereka malah memiliki saham perusahaan di perusahaan suaminya sendiri. Dan mereka juga lebih fokus pada keluarga nya Serta usaha mereka sendiri.
Begitu pun dengan Al dan juga Naures. Keduanya sibuk dengan urusan nya sendiri. Al dan Naures juga memiliki saham besar di perusahaan sang Grandpa nya yang di Bangkok.
Jika masalah urusan harta anak anak Papa Rayen dan Mami Lea. Tidak terlalu perduli, karena tidak bekerja pun mereka masih bisa menikmati semua keuntungan perusahaan setiap bulannya.
"Selamat pagi mba, apa Direktur perusahaan nya ada di tempat??? ".Tanya Evi masih bisa bersikap santai pada seorang wanita berpakaian kurang bahan itu.
" Ada urusan apa ya???. Atau sudah buat janji temu dengan pak Yohan??? ".Tanya sang resepsionis sedikit ketus. Membuat Evi ingin sekali memaki wanita yang ada di hadapan nya itu saat ini juga.
Dan ingin sekali Evi jawab, untuk apa membuat janji temu dengan direktur umum yang hanya orang bernasib baik karena di pilih untuk menduduki jabatan itu di perusahaan ini. Sedangan kan jika Evi mau sombong saja. Lebih tinggi jabatan Evi dibandingkan dengan direktur zolim itu. Karena Evi menduduki tempat di samping sang CEO. Dan ia juga lebih berkuasa daripada sang direktur itu.
Tak berselang lama tampak sebuah mobil mewah terparkir tepat di depan perusahaan. Baik Evi dan juga Jery langsung menoleh. Sedangkan Velyn fokus pada ponselnya. Karena membaca pesan dari Akongnya.
Semua karyawan pun langsung menyambut kedatangan pria yang baru saja turun dari mobil itu. Membuat Evi mencelos sedangkan Jery mengukir senyum tipisnya. Senyum yang sulit untuk di artikan.
"Evelyn".Seru pria itu menyebut nama Velyn dengan tepat.
Velyn yang tadi fokus pada layar ponselnya. Kini bisa mendengar dengan jelas suara seorang pria yang masih sangat ia hafal.
Velyn mendongakkan kepalanya. Lalu tatapan nya langsung tertuju pada wajah pria yang ada dihadapannya saat ini. Jery mengerutkan dahinya bingung dan sedikit kesal. Mungkin karena terbakar api cemburu.
Meskipun hampir semua karyawan wanita tampak mengagumi wajah tampan Jery sejak mereka datang tadi. Tapi, tak membuat mereka bisa bersikap ramah.
Pri itu tersenyum sombong sambil memasukkan kedua tangannya pada kantong celana panjangnya. Lalu berjalan menghampiri Velyn.
Jery dengan sigap langsung menarik bahu Velyn dan memeluk nya dengan posesif. Pria itu tersenyum jumawa. Lalu ikut menatap wajah Jery. Dengan tatapan tidak sukanya.
"Cih... Hanya gara gara pria ini kau menolak perjodohan kita Velyn??? ".Tanya pria itu tersenyum sinis. Nada bicaranya saja sombong dan terdengar meremehkan.
" Dia suamiku Yohanes ".Ucap Velyn tegas.
Membuat pria itu langsung tertawa terbahak-bahak. Seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Velyn. Evi yang sudah geram nampak maju. Namun ditahan oleh Jery. Sampai saat pria yang bernama Yohanes itu terus menghina Jery.
Bariton suara pria paruh baya yang sangat mengenal Jery datang menghampiri mereka. "Selamat datang tuan muda. Maaf saya baru tahu anda sudah sampai".Ucap pria paruh baya itu sopan dan merasa malu.
" Kenapa kalian semua diam saja??? "Seru pria itu tegas menatap semua karyawan yang tetap diam tanpa ingin menghormati CEO mereka yang sebenarnya.
" Yohanes beri salam pada tuan muda!!!. Dia adalah pimpinan kita CEO Bgs group. Putra tertua tuan Rayen .
Deg...
Darrrr...