Married Accident

Married Accident
Menunggu



Waktu memang selalu cepat berlalu. Hari hari Velyn semakin banyak dilalui dengan kebahagiaan. Baik dari sang putri sambungnya maupun dari sang suaminya. Usia kandungan Velyn saat ini sudah masuk bulan ke empat. Dan mereka juga sudah mengetahui jenis kelamin sang buah hatinya.


Jery juga tampak berkaca kaca setelah tahu jika janin yang di kandung istrinya berjenis kelamin laki laki. Itu artinya Mayra akan mendapatkan adik cowok. Dan kandungan Velyn juga sehat tak kurang satu apapun.


Itu karena Jery selalu memperhatikan istrinya. Dan tidak menyuruh Velyn untuk bekerja terlalu berat. Bahkan Seiring berjalan nya waktu. Jery semakin menunjukkan sikap humble dan juga perhatian nya sebagai seorang suami pada istrinya.


Selama hamil Velyn juga tak pernah mengeluh. Hanya di awal kehamilan saja Velyn sering mual mual dan juga memilih makanan. Tapi sekarang ini, Velyn bahkan tak pernah pantang ingin makan apapun lagi.


Hampir semua makanan halah ia konsumsi. Dan tidak pernah merasakan mual seperti awal kehamilan nya yang pertama dulu.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul empat sore. Tapi belum ada tanda tanda suaminya akan pulang. Velyn yang sudah biasa menunggu suaminya di depan teras. Saat sudah tahu jam pulang suaminya.


Saat ini sedang memainkan ponselnya. Dan di dampingi oleh Mayra yang selalu menempel pada Bundanya itu. "Sayang, Bunda boleh minta tolong panggil kan bibik untuk ambilkan Bunda minum boleh??? ".


" Boleh Bunda. Biar Mayra saja yang ambilkan".Jawab Mayra sambil tersenyum. Gadis kecil itu saat ini juga sudah duduk di bangku kelas 3 SD.


Dengan kata lain Mayra memang sudah mulai paham akan kondisi sang Bunda. Bahkan Mayra juga sudah tidak mau tidur di temani sang pengasuh. Ia sudah semakin mandiri saja. Velyn begitu beruntung karna Mayr sangat jarang Merepotkannya. Bukan karena Velyn tidak ikhlas untuk menyiapakan seluruh keperluan Mayra.


Namun, disaat hamil seperti ini. Tubuh Velyn kadang mudah sekali lelah. Dan kadang juga mood nya tidak stabil. Karena ia suka sekali sensitif hajya dengan masalah sepele saja.


Tak berselang lama Mayra masuk kedalam rumah. Ponsel Velyn tiba tiba berdering. Membuat Velyn mengerutkan Keningnya bingung. Apalagi si penelepon saat ini adalah nomor orang tidak dikenal.


Tapi Velyn sama sekali tidak menggubris nya. Karena bagi Velyn jika orang itu punya kepentingan. Maka ia akan terus menghubungi nya dan juga mengirim pesan singkat. Memberitahu siapa dirinya.


Pesan dari suaminya selalu ada di dalam otak Velyn. Dan itu juga ia lakukan untuk menjaga perasaan suaminya juga.


Senyum Velyn mengembang ketika ia melihat mobil suaminya. Mulai memasuki gerbang rumahnya. Velyn pun langsung beranjak dari kursi nya. Berdiri di depan teras sambil menunggu suaminya turun dari mobilnya.


"Assalamu'alaikum".Salam Jery ketika ia baru saja Turun dari mobilnya.


" Waalaikumsalam, Mas kenapa pulangnya sedikit terlambat???. Apa ada masalah di perusahaan??? ".Tanya Velyn sembari menyambut tangan suaminya dan mencium punggung tangan itu dengan takzim.


" Iya, maaf sayang tadi ada ketemu klien sebentar di Cafe. Soalnya beliau besok tidak bisa meeting".Jawab Jery sambil tersenyum.


Velyn hanya menganggukkan kepalanya karena ia yakin dan percaya pada suaminya. Sebab, Jery adalah tipe pria setia, Jadi. Tidak akan ada kata khianat dalam hubungan rumah tangganya ini.


Tangan Jery terulur untuk menyentuh perut Velyn yang mulai buncit itu. Ia tak pernah absen untuk menyapa sang baby. Yang tinggal lima bulan 10 hari lagi akan lahir kedunia ini.


"Bunda, ini air putihnya".Seru Mayra yang baru saja kembali dengan seorang pelayan.


" Terimakasih sayang".Jawab Velyn tulus.


TBC