
Di sebuah restoran mewah tampak seorang wanita cantik dan juga gadis kecil sedang duduk berdua sambil bersenda gurau sembari menunggu pesanan makanan yang tadi telah di pesan oleh mereka. Barra yang baru saja selesai menerima telpon. Saat ini menatap dengan senyum dibibirnya.
Akhirnya putri semata wayangnya kini bisa tertawa lepas tanpa beban sedikitpun. Saat Celine bersama Calista istri keduanya itu. Tak berselang lama semua pesanan meraka datang. Membuat dua wanita berbeda usia itu langsung bersemangat.
Barra pun ikut menghampiri keduanya dengan kembali memasang wajah dingin dan kakunya.Pria itu memilih duduk di samping istri nya. Yang saat ini tengah sibuk mengambilkan makanan untuk Celine.
"Terimakasih Mami". Celine menerima makanan nya dengan wajah yang berbinar. Bahkan ia mengucapkan kata yang tulus untuk Calista.
" Sama sama sayang". Calista pun ikut membalas senyum putrinya dengan tak kalah tulusnya. Lalu wanita itu kini beralih menatap suaminya.
"Papi mau makan yang mana dulu??? ". Calista bertanya dengan menyematkan kata Papi di diawal kalimat nya. Membuat Barra sedikit terkejut, Namun, kemudian ia menarik sudut bibirnya tipis.
Barra begitu senang dengan panggilan yang di lontarkan oleh Calista. Karena biasanya wanita itu tidak sopan padanya. Selalu saja menuduh nama nya sesuka hatinya. Bahkan Calista tidak pernah takut sedikitpun akan tatapan tajamnya. Ataupun ancamannya.
Bahkan Calista sampai saat ini masih belum bisa berjalan dengan benar karena ulahnya. Namun, Wanita cantik itu tetap saja tidak kapok sama sekali. Saat Barra mulai memberikan ancamannya. Ia malah dengan senang hati membuka kakinya lebar lebar untuk melayani sang suami.
" Pi, yang mana dulu??? ". Ulang Calista bertanya sembari menyenggol lengan tangan suaminya. Karena Barra malah asyik melamun.
" Dada... ".
Calista mengerut kan dahinya bingung. Namun, Barra langsung kembali angkat bicara lagi. " Maksudku Dada ayam". Sambung Barra berusaha menghilangkan kegugupan nya.
" Disini tidak ada dada Ayam sayang. Kita kan sedang di restoran Seafood. Jadi, menu yang aku pesan itu semuanya khas laut. Apa kau alergi seafood??? ". Beruntung Calista otaknya sedikit lemot berpikir. Jadi dia masih ada polosnya dalam situasi lapar begini.
" Aneh sekali, dada kepiting kan hanya datar. Mana ada enak nya". Guman Calista yang masih bisa di dengar oleh Barra.
Beruntung Celine sedang menikmati makanan nya. Jadi, ia setengah tidak perduli akan obrolan kedua orang tuanya itu.
Malam ini keluarga kecil itu menikmati makan malamnya dengan hikmat. Bahkan hal itu sudah lama sekali tidak dirasakan oleh Celine. Gadis kecil itu tampak sangat bahagia. Akhirnya ia bisa merasakan makan bersama dengan keluarga yang utuh.
Meskipun selama ini Celine tidak pernah mengeluh akan tidak adanya sang Mama. Namun, jauh dilubuk hari anak itu. Ia juga sangat ingin disayang dan dimanja oleh seorang ibu. Dan akhirnya kini doanya terjawab sudah. Ia bisa mendapatkan kasih sayang penuh dari ibu sambungnya.
Meskipun Calista terkesan bar bar, manja, dan suka bikin ulah. Tapi, saat bersama Celine Wanita itu akan menjadi sosok yang hangat. Ia juga bisa memposisikan dirinya. Ya, walaupun di awal ia sedikit kebingungan untuk menjadi ibu yang baik bagi Celine. Namun, semakin kesini sifat keibuannya semakin terlihat saja.
Buktinya Celine juga nyaman berada di dekatnya. Hal itu bisa di manfaatkan oleh Barra untuk menjauhkan Celine dari ibu kandungnya. Yang saat ini mulai mengusik kehidupan nya lagi dengan alasan tak ingin membuat Celine sedih.
"Uhukk... Uhukk... ". Calista langsung menyodorkan segelas air putih untuk Barra. Saat tiba tiba Barra tersedak makanan nya.
Dengan wajah tidak bersalahnya Calista tersenyum. ". Kalau makan itu hati hati dong pi!!. Pasti tadi tidak baca doa dulu". Tutur Calista tanpa dosa.
Barra hanya menatap Calista dengan tatapan yang sulit untuk di artikan". Awas saja kau. Malam ini kau tak akan aku biarkan istirahat barang sedetik saja". Batin Barra geram sendiri.
Bagaimana tidak, Barra yang sedang fokus menikmati makanan nya. Tiba tiba saja dibawah sana kaki Calista malah sibuk memainkan Lobak nya. Bahkan kaki mulus itu ia lebarkan begitu saja. Saat Barra melirik kebawah sana. Beruntung itu adalah ruangan privat. Jadi hanya Barra yang bisa melihat ulah jahil istrinya itu. Calista memang benar benar tidak bisa anteng barang sebentar saja.