
Baru saja hatinya berbunga bunga bak taman bunga yang sedang bermekaran. Tapi setelah kedatangan adiknya Leon malah terlihat suram bagaikan dunia tanpa penerangan. Dari wajahnya yang tadi terlihat berbinar binar kini berubah kecut lebih kecut lagi dari adam gelugur.
Leon menghempaskan bokongnya di atas sofa empuk yang ada di ruang tamu aspol nya. Menyenderkan kepalanya pada dinding sofa. Sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Sejenak Leon nampak memejamkan matanya. Dengan pikiran pikiran yang selalu bersemayang dalam benaknya.
"Sepertinya gue harus kerja sama dengan Oma ".Guman Leon sambil membenarkan posisi duduknya.
Clara memang selama ini lebih dekat dengan Omanya daripada dengan Bundanya sendiri. Bahkan Clara lebih sering pulang kerumah oma Rinda Mama dari Ayahnya. Dibandingkan pulang kerumah orang tuanya sendiri.
Leon kali ini harus memutar otaknya agar ia tidak kecolongan lagi. Dan ia harus ektra hati hati menjaga sang adik dari jauh. Bagi Leon cukup sekali Clara salah langkah dan kalau bisa jangan sampai adiknya itu kembali mengambil jalan pintas untuk mendongkrak popularitas nya.
Namun, saat Leon sedang banyak berpikir mencari cara agar adiknya bisa lepas dari dunia hiburan dan kembali melanjutkan kuliahnya saja.Dering ponselnya membuat lamunan Leon buyar.
Leon merogoh ponselnya yang masih dalam saku jaketnya. Lalu senyum Leon tiba tiba mengembang sempurna ketika melihat nama penelpon yang memenuhi layar ponselnya.
"Halo calon istri, Kenapa udah kangen?. Hm?. Baru beberapa menit yang lalu kita bersama. Dan bahkan semalam kita tidur di atap yang sama, tapi sekarang loe udah kangen aja sama gue".Ucap Leon dengan pedenya. Membuat Hani melototkan matanya dan serasa ingin muntah mendengar celotehan Leon yang baginya sangat jumawa sekali.
" Hei, buaya kali... Otak loe udah geser ya??. Apa memang loe emang udah kagak waras. Pede amat kalo ngomong udah kayak orang paling ganteng aja sejagat hiburan tanah air".
Hani di lawan dasaran sejak dulu udah cerewetnya minta ampun. Sekarang malah dapat lawan yang imbang. Cowok tapi mulutnya ember kayak cewek aja malah ngalahin emak emak komplek kalo bersilat lidah.
Leon malah terkekeh mendengar upatan Hani yang mengatainya seenak jidad nya saja. Bagi Leon Hani sekarang sudah menjadi hiburan tersendiri untuknya. Padahl mereka baru bertemu kemarin. Dan langsung menginap di Apartemen nya Hani. Semua sikap dan tingkah Hani membuat Leon selalu saja ingin terkekeh. Bahkan hatinya dan pikirannya yang tadi sempat bunek dan juga sedikit mumet akan ulah adiknya. Kini terhibur oleh celotehan celotehan Hani.
"Kenapa loe malah ketawa?. Dasar aneh".Cibir Hani ketus.
" Terus gue mesti gimana baby??? ".Tanya Leon sedikit menggoda Hani.
" Cih... Najis gue dengan panggilan haram loe barusan".Jawab Hani makin kesal. Tapi ia juga tanpa sadar mengulum senyum gelinya akan panggilan Leon yang terdengar menggelitik telinga nya. "Udah berapa cewek loe panggil begituan??? ".Ledeknya lagi sambil menyindir.
Leon menjawab dengan bangganya. Karena memang benar. Leon jujur karena meskipun dulu dirinya terkenal playboy dan suka bergonta ganti pasangan sebelum ia bertunangan dengan Lucia. Tapi Leon tidak pernah memanggil semua wanita dengan panggilan khusus seperti panggilan yang ia lontarkan untuk Hani barusan.
"Halah, gombal. Salah alamat loe kalo mau ngegombal sama gue".
Hani terus saja memojokkan Leon. Membuat Leon semakin gencar saja mengeluarkan kata kata bualan nya. Tapi kalau boleh jujur entah kenapa saat bersama Hani ia menjadi seperti tanpa beban pikiran. Hatinya mencair dan terasa sangat nyaman. Tidak seperti apa yang ia rasakan ketika bersama Lucia dulu. Padahal dulu Leon sangat mencintai wanita itu. Dan hanya bersama Cia Leon tidak neka neko. Sampai akhirnya hubungan mereka longgar karena Leon memutuskan untuk menjadi seorang aparat Negara.
"Terus loe nelpon gue kenapa???. Kalau bukan kangen apaan dong??? ".Ledek Leon balik.
" Ck.... Makanya jadi orang jangan kepedean dulu!. Gue itu cuma mau nanyain kalau dompet gue tadi ada jatuh gak di mobil loe???".
Tutur Hani sambil menghela nafasnya kasar. Ia benar benar selalu naik darah jika berhadapan dengan pria itu. Tapi juga selalu saja dibuat mesam mesem sendiri juga. Meskipun Hani tidak menunjukkan nya di depan Leon.
"Dompet??? ".Tanya ulang Leon mulai bingung.
" Iya, dompet gue jatuh. Barusan gue mau beli makan siang. Tapi dompet gue gak ada di dalam tas".Lirih Hani menjelaskan dengan suara lembutnya. Membuat Leon mulai curiga .
"Terus...???? ".
"Hehehe... " Hani terkekeh lebih dulu sebelum ia kembali membuka suaranya".Gue minta tolong dong cariin dulu dompet gue di mobil loe eon!!!. Sekalian ya anterin ke jalan xxx, soalnya gue masih di restoran nih!!! ".Ucap Hani sedikit memohon.
" Ogah".
Tut.... tut...
Setelah mengucapkan itu Leon langsungnya memutus sambungan telpon nya. Membuat Hani langsung mengupat kesal dibuatnya.
Tapi Leon langsung kembali meraih jaketnya dan kunci mobilnya. Kemudian ia beranjak pergi meninggalkan asramanya kembali.