Married Accident

Married Accident
Masalah Silih Berganti



Jery kembali mengusap wajahnya kasar. Ia benar benar tidak bermaksud untuk main tangan pada istrinya. Dan ini adalah untuk pertama kalinya Jery melayangkan tangannya ke wajah mulus istrinya.


Disini bukan hanya Jery tak bisa menahan emosinya. Tapi Manda juga yang tetap bersikeras memancing emosi sang suami. Jery semalaman berpikir keras untuk tetap membuat rumah tangganya harmonis dan utuh. Tanpa adanya kata perpisahan. Namun, diluar dugaan. Manda malah dengan enteng nya bilang menyuruhnya untuk bercerai. Dengan pilihan lain poligami.


Hal itu terang saja membuat Jery naik pitam. Ia berusaha untuk mempertahankan malah istrinya berusaha meruntuhkan nya. Tak pernah terpikirkan sama sekali oleh Jery. Jika Manda akan mengucapakan kata itu dengan mudah. Sungguh semua ini diluar nalar nya.


Jery memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Sebelum ia keluar dan berbicara lagi dengan istrinya. Jery berniat untuk meminta maaf pada sang istri karena telah berlaku kasar padanya.


Jery berusaha untuk lebih tenang lagi dengan membasahi seluruh tubuhnya dengan air dingin. Agar amarah nya bisa sedikit mendingin.


Di ruangan yang berbeda saat ini Manda tengah menangis sambil memegangi pipinya. Ia bahkan mengunci kamar Mayra dari dalam. Hingga dering ponsel nya berbunyi membuatnya segera mengangkat nya.


"Halo Assalamu'alaikum".Sapa Manda dengan suara seraknya sambil menahan tangisannya.


" Waalaikumsalam. Kau kenapa ??? ".Suara seorang pria dengan pertanyaan yang selalu saja muncul ketika ia menelpon Manda.


" Aku baik baik saja ".Jawab Manda lirih sembari mengusap air matanya.


" Jangan mencoba membohongi ku Manda".Lagi lagi suara pria itu terdengar nampak begitu khawatir. Membuat Manda mengulas senyumnya.


"Wan, Aku...


" Aku tahu jika kau pasti akan mengambil pilihan ini. Percayalah aku akan selalu ada untukmu Manda".Jawab pria di seberang telpon sana.


"Terimakasih".Ucap Manda tulus.


Keduanya nampak saling mengobrol. Dan entah apa saja yang mereka bicarakan sampai sampai membuat Manda bisa tertawa begitu. Samar Samar dari arah luar Jery mendengar istrinya.


Jery menautkan kedua alisnya saat mendengar gelak tawa Manda. "Segampang itukah kau tertawa pada orang lain".Lirih Jery mulai merasakan adanya keanehan pada istrinya.


🌿🌿🌿🌿🌿


" Papa, Mayra boleh beli oleh oleh untuk Opa dan Oma tidak??? ".Tanya Mayra sembari tersenyum gemas pada Papanya yang kini sedang fokus menyetir.


Jery menoleh kesamping dimana istrinya duduk. Tapi Manda terlihat memejamkan matanya. Sejak keluar dari villa sampai sekarang Manda terus saja bungkam. Ia bahkan tidak menggubris suami dan Putri nya berbicara.


Senyum Jery terlihat miris akan pikiran rumah tangga nya kedepan nya nanti. Lalu Jery menatap wajah putri nya dari spion depan.


"Boleh sayang. Memangnya Mayra mau beliin Opa dan Oma apa??? ".Tanya Jery yang kini ia hanya memikirkan nasib putrinya.


" Hem. Mayra akan pikirkan setelah sampai di store oleh olehnya Pa".Jawab Mayra.


Mayra pun langsung tersenyum senang. Mayra juga sebenarnya hanya ingin menghibur Papanya saja. Karena ia tadi mendengar semua apa yang Mama nya bicarakan. Mayra belum paham apa sebenarnya perceraian. Tapi gadis kecil berusia tujuh tahun itu sedikit tahu. Jika sampai kedua orang tuanya benar benar bercerai. Maka nasibnya akan sama dengan teman di sekolahnya.


Hidup terpisah dengan kedua orang tua. Yang tak sejalan lagi membuat anak anak seusianya akan selalu mengingat masalah itu hingga mereka dewasa. Karena banyak sekali anak anak dari korban keegoisan kedua orang tua.


Tapi akan lebih menyakitkan lagi, jika tetap tinggal satu atap dengan kedua orang tua yang sudah tak memiliki cinta. Pastinya setiap hari hanya akan ada pertengkaran yang tidak ada habisnya. Hal itu justru membuat psikis anak menjadi terganggu.


Beruntung Jery memiliki putri secerdas Mayra. Ia tidak pernah menampilkan kesedihan nya di depan Papa dan Mama nya. Gadis kecil itu berusaha tetap tenang dan pura pura tidak tahu.


Ia juga tidak mau membuat Papa nya sedih. Karena ikut memikirkan dirinya."Mayra akan selalu berdoa untuk Mama dan Papa. Mayra tidak mau melihat Papa dan Mama bercerai".Guman Mayra sambil terus menatap papanya yang kini kembali fokus menyetir.


"Mama tidur sayang".Ucap Jery ketika melihat putrinya menatap Mamanya. Dengan badan yang sedikit ia condongkan kedepan.


" Mama pasti kecapekan ya Pa. Tidurnya pulas banget".Tutur Mayra sambil tersenyum.


Jery pun hanya mengulas senyum tipisnya. Karena Jery juga bingung harus menanggapi dengan apa pertanyaan putrinya nanti. Jery terus membayangkan jika sampai dugaannya benar. Maka ia juga bingung harus mengambil sikap bagaimana lagi.