Married Accident

Married Accident
Keluhan Velyn



Jery menatap sendu kearah brankar. Dimana disana tubuh Velyn masih berbaring lemah. Wajah cantiknya masih terlihat sangat pucat karena habis melakukan operasi kecil. Dan lebih mirisnya lagi Velyn belum tahu. Apa yang terjadi pada dirinya dan juga janin nya.


Jery bahkan bingung untuk menjelaskan sebenarnya pada Velyn. Jika sampai ia sadarkan diri nanti. Di saat seperti inilah yang membuat Jery kembali takut. Ingatan ingatan tentang kepergian Manda. Terus memenuhi pikirannya saat ini.


Apalagi saat melihat tubuh Velyn masih terbaring lemah seperti ini. Mengingatkan nya kembali dengan apa yang di alami Manda. Jery bahkan tak mengerti akan jalan pikiran Velyn. Kenapa ia bisa menyimpan semua masalah ini sendiri.


Dan yang membuat Jery semakin merasa bersalah lagi karena mendiang istrinya yang malah lebih tahu. Daripada dirinya sendiri.


Tangan Jery terulur menggapai tangan Velyn. Sambil menatap penuh iba pada wajah cantik itu. Jery mulai berkaca kaca.


"Maafkan aku Velyn... Maaf karena aku bukan pria yang baik!. Maaf karena aku pria yang brengsek".Lirihnya pelan.


Jery tak mampu untuk berkata lebih lagi. Ia merasa gagal jadi pria bertanggung jawab. Ia bahkan bagaikan seorang pria pengecut yang seakan ingin lari dari kenyataan. Padahal jalan nya sudah di tunjukan oleh takdirnya sendiri.


Tapi ia malah justru ingin menentang takdir itu sendiri. Ia selama ini hanya beroatokan pada cinta Manda saja. Tanpa memikirkan perasaan Velyn. Bahkan dengan gampangnya bibirnya berucap, Dan bersikap acuh tak menganggap sedikitpun Velyn ada.


Andaikan waktu bisa terulang kembali. Mungkin Jery lebih memilih untuk bersikap semestinya pada Velyn. Meskipun ia belum memiliki cinta pada wanita itu. Setidaknya ia tidak melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang suami.


Jery menatap wajah pucat Velyn dengan perasaan bersalahnya. Lalu ia merogoh ponselnya dengan tangan kanan nya.Dan tangan kirinya masih dengan tetap memegangi tangan Velyn.


"Hallo bik".


Jery memilih keluar ruangan Velyn untuk meneruskan pembicaraan nya dengan art dirumahnya. Entah apa yang Jery bicarakan lewat sambungan telpon itu. Tapi yang jelas mulai saat ini Jery akan memperbaiki semuanya. Ia tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya lagi. Dan mengulang kesalahan yang sama kembi.


🌿🌿🌿🌿🌿


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Tapi tak sedikit pun Jery beranjak dari samping brankar Velyn. Ia bahkan sampai tertidur sambil memegangi tangan Velyn.


Velyn yang mulai tersadar dan mulai mengerjapkan matanya. Nampak sedikit terkejut akan sosok pria yang selama ini selalu cuek dan datar padanya.


Pria sekaligus suaminya yang tak pernah mengangap nya ada. Malam ini malah nampak seperti sosok suami siaga. Bahkan ia bisa tidur dengan menggenggam erat tangan nya.


" Mas, Bangun mas!!! ".Ulang Velyn kali ini sambil mengguncang pelan bahu suaminya.


Genggaman tangan Jery pada tangan kanannya. Membuat Velyn sedikit kesulitan untuk bergerak karena pria itu menggenggam nya dengan sangat erat. Semakin Velyn berusaha melepaskan nya. Maka semakin kuat Jery menggenggam nya.


Velyn menghela nafasnya. Karena Jery tak kunjung bangun juga. Pada akhir nya Velyn mengalah dan tetap membiarkan Jery untuk tetap tidur dengan posisi seperti itu.


Velyn memanfaatkan saat seperti ini dengan memandangi wajah tampan Jery. Pria yang tanpa sengaja menanamkan benihnya di rahimnya.


"Kenapa waktu malam itu aku tidak sadar, jika mas setampan ini".Guman Velyn dengan sudut bibir yang sedikit terangkat membentuk senyuman.


Velyn memberanikan dirinya untuk menyentuh wajah tampan Jery. Di sentuhnya dengan sangat pelan dan sangat hati hati.


" Aku jadi tidak sabar, akan seperti apa wajahnya jika ia lahir nanti".Senyum Velyn memgembang sempurna membayangkan wajah anaknya. "Apapun jenis kelamin nya nanti, pasti dia sangat menggemaskan. Jika dia cowok pasti dia akan sangat tampan seperti kamu mas".Lirih Velyn sambil terus tersenyum.


Ia sama sekali belum sadar dan tahu. Jika saat ini ia sudah tidak hamil lagi. Karena beberapa jam yang lalu ia sudah di kuret. Karena janinnya sudah tidak bisa lagi di tolong.


Velyn hanya sadar jika saat ini ia berada di rumah sakit. Karena selang infus yang menempel di punggung tangannya. Dan Velyn hanya tidak paham kenapa ia di pakaikan infus tersebut.


"Kamu tahu mas?. Saat ini aku merasa kita seperti suami istri beneran loh. Aku jadi ingin terus sakit agar bisa mendapatkan perhatian mu mas. Andai saja saat aku sehat kau terus begini, mungkin aku akan jauh lebih bahagia lagi".Lirih Velyn sendu.


" Tapi sayangnya kau malah membenciku. Bahkan kau tidak perduli dengan kehamilan ku. Padahal dia juga anak kamu mas, Darah daging kamu juga".


"Aku bukannya iri melihat kamu lebih perhatian pada Mayra. Tapi sebagai seorang ibu, aku ingin kau bisa berlaku adil mas pada anak anakmu nanti!!. Agar mereka tidak salah paham".


Velyn terus berguman sendiri. Meluapkan semau unek uneknya selama ini yang ia tahan sendiri. Nyatanya hampir dua minggu mereka tinggal bersama. Tak lantas membuat Jery berubah. Ia tetap saja dingin dan datar.


Tapi Velyn memaklumi semuanya. Velyn cukup tahu diri. Siapa dia dan siapa Jery. Karena perasaan itu tidak bisa di paksakan. Semuanya butuh waktu dan butuh proses serta mengalir begitu saja.