
Ketika sampai dirumah Naures dan Yuni mereka berempat pun sudah di sambut oleh sepasang suami istri yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan mereka. Vina dan Keke juga ikut menyambut para ounty dan juga uncle uncle nya.
"Uuhhh, gemesnya kalian berdua ini. Ounty bawa pulang mau ya!! ".Seru Febby yang sudah tidak sabaran ingin memegang Vina dan juga Keke.
Naures dan Yuni selalu tidak menyuruh siapapun menyentuh si kembar jika dari luar dan belum cuci tangan. Karena Keke juga sangat rentan, ia terlalu sensitif jadi hal itu membuat Naures maupun Yuni harus ektra hati hati dan juga perlu higenis jika ingin bermain dengan si kembar.
" Enak aja main bawa pulang. Loe pikir si kembar barang apa? ".Leon kembali mengeluarkan kata kata pedasnya. Karena ia juga masih sedikit kesal. Sebab, sejak tadi Hani masih saja mendiamkan nya.
" Yeeeh... Dasar julid. Nyamber aja kayak petasan".Febby pun tak mau kalah. Ia selalu bisa membalas ledekan Leon.
Gelak tawa kembali terdengar karena baik Febby maupun Leon sama sama tidak ada yang mau mengalah. Febby diam ketika sudah di gandeng masuk oleh Naufal. Dan di ikuti oleh Hani dan juga Yuni.
"Loe masih marah sama gue Han??? ".Leon mencekal pergelangan tangan Hani. Membuat Hani dengan terpaksa menghentikan langkahnya.
Sedangkan Febby masih sempat menoleh kebelakang dan memberi kode pada Yuni. Tahu akan maksud dari kode yang di berikan oleh Febby. Sebab, Yuni juga bisa melihat antara Hani dan Leon. Pasti sedang bersilih paham. Karena sejak datang tadi Hani selalu saja cemberut ketika di dekati oleh Leon.
"Apaan sih?. Gue marah sama loe??? ".Hani terlihat tersenyum sinis. " Gak ada gunanya juga".Sambungnya kesal.
"Yakin??? ".Goda Leon sambil memasang senyum mautnya. Membuat Hani menggerutu dalam hati. Bagaimana bisa ia mau melewatkan senyum Leon yang menambah kesan aneh di dalam dirinya. Bahkan senyuman yang tiba tiba membuat hatinya berdenyut.
Padahal itu hanya sebuah senyum. Namun, mampu membuat keegoisan dalam dirinya sedikit sirna. Namun, Hani langsung tersadar sebelum Leon semakin kepedean saja.
Hani menghempaskan tangan Leon. Dan kembali melangkah masuk . Menjauh dari Leon sebelum detak jantungnya yang sempat gugup karena melihat senyum maut seorang Leon. Di dengar oleh pemilik senyum itu.
Leon juga mengangkat sudut bibirnya. Ketika Hani sudah jauh meninggalkan nya. Ia dapat melihat jika sebenarnya Hani tadi hanya berusaha tetap pada pendirian nya. Dari sana Leon bisa menilai jika ia harus benar benar sabar untuk mendapatkan hati dan simpati Hani.
Saat ini mereka semua sudah berada di taman belakang. Dengan perlengkapan dan peralatan yang memang sudah di siapkan oleh para pekerja di rumah Naures dan Yuni.
Sementara Febby sibuk bermain bersama si kembar. Yuni dan Hani nampak sedang mempersiapkan bumbu barbeque an nya . Art juga ikut membantu mereka. Sedangkan para pria saat ini tengah memanaskan pemanggangan nya.
"Gimana masih nihil juga??? ".Kali ini Naures yang bertanya seraya meledek Leon.
" Perkara sulit ini bro".Jawab Leon sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Sajen nya kurang kali".Sindir Naufal. Yang di sambut gelak tawa oleh Naures. Tentu saja ledekan kedua sahabat nya itu membuat Leon sedikit kesal.
Bukannya membantu dan memberi saran. Naufal dan Naures malah meledek nya.
" Resek ya loe pada. Bukannya kasih saran atau solusi gitu!!!. Malah ngatain gue ".Ketus Leon sambil memasang wajah masamnya.
" Itu mah derita loe kali ".Jawab Naures sambil terkekeh.
" Lihat saja nanti!!!. Setelah hatinya gue taklukkan, maka saat itu juga gue akan langsung melamarnya".Seru Leon dengan serius dan penuh penekan.
"Di tunggu bro, jangan omong doang!! ".Sahut Naures dan Naufal secara bersamaan.
" Haiss... Dasar keluarga julid. Loe berdua memang cocok jadi sepupuan."Cibir Leon kesal. Yang malah di tertawakan kembali oleh Naufal dan Naures.