
Citra diam tak bergeming ditempatnya berdiri. Ia tersentak kaget bahkan tak menyangka sebelum nya jika Naures akan berkata kasar bahkan dengan sebuah ancaman juga.
"Sial... ".Guman Citra sambil mengepalkan kedua tangannya.
Sedangkan Naures sudah pergi masuk kembali kedalam kelasnya. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah citra lagi. Ia bukanlah pria yang haus belaian atau pun pria hidung belang yang mudah tergoda akan kegenitan wanita di luaran sana. Bagi Naures cukup hanya ada satu wanita yang ada disamping nya hingga menua dan apabila perlu sampai maut yang memisahkan.
Beruntunglah Lea memiliki anak anak seperti putra dan putrinya. Sejak dulu Lea selalu menasehati putra dan putrinya untuk setia pada satu wanita dan pasangan mereka. Jangan sampai melukai hati pasangan. Walaupun Lea dulu adalah seorang gadis yang sempat menjadi selingkuhan suami orang. Dan bisa dikatakan dia juga seorang pelakor. Tapi, bagi Lea cukup berhenti pada dirinya saja. Jangan sampai anak anak juga mengikuti jejak nya dulu.
Naures merogoh ponselnya dan nampak sedang menelpon seseorang setelah ia duduk kembali dikelasnya. "Tolong selidiki dan tetap awasi wanita itu jangan sampai dia mendekati keluarga ku apalagi istriku!!! ".
Setelah mengucapkan itu Naures kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya. Lalu tak berselang lama seorang dosen laki laki pun masuk ke ruang dan memulai kembali pelajaran nya.
🌿🌿🌿🌿🌿
Drtd... drtd...
Dering ponsel di dalam tas membuat Yuni yang sedang terlelap di sofa empuk ruang kerja suaminya itu mulai mengerjapkan matanya.
Ia bangun dan merogoh kedalam tasnya. Mengambil benda pipih yang sejak tadi sempat mengganggu tidur siangnya.
Senyum yuni mengembang sempurna saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. "Halo Assalamu'alaikum suami".Sapa Yuni sambil tersenyum.
" Waalaikumsalam istri".Balas Naures dari seberang telpon sambil mengulas senyumnya.
"Kakak lagi dijalan ??? ".Yuni bertanya karena melihat dengan jelas jika saat ini Naures sedang fokus menyetir sambil video call dengan nya.
" Iya sayang. Ini sebentar lagi sampe cafe kok. Apa kau menginginkan sesuatu untuk dimakan sayang???? ".Tanya Naures
" Emm... Kayaknya bakpia enak deh kak".Seru Yuni sambil mengulum senyumnya.
"Mau yang kering atau yang basah??? ".Tanya Naures sambil menggoda istrinya.
" Yang kering saja. Rasa coklat sama kacang hijau ya!!! ".
" Siap istri ku. Ada lagi???? ".Sambungnya bertanya.
" Ada".
"Apa sayang??? ".
" Kamu".Sahut Yuni malu.
"Hahaha... Aku pasti akan datang sayang. Kau tenang saja. Setelah makan bakpia kering maka acara selanjutnya kau yang akan kubuat basah".Seloroh Naures sambil terkekeh.
"Dosa loh menolak suami".
" Iya iya aku tahu sayang. Udah fokus saja nyetirnya!!!. Dan cepat kembali!!! ".
" Siap Nyonya Naures ".
Setelah itu Naures pun langsung mencium istrinya dari jarak jauh. Membuat Yuni hanya bisa menggeleng kan kepala nya saja. Dan telpon pun terputus.
" Ayah memang sedikit genit sayang. Tapi Ayah juga satu satunya pria yang bunda cintai setelah kakek kalian".Yuni mengusap pelan perutnya yang masih datar. Ia mengajak janin nya berbicara bahkan yuni oun sering berinteraksi dengan calon anaknya itu. Walaupun hanya sekedar bercerita seolah yuni tahu jika anaknya juga bisa mendengar apa yang bundanya ceritakan.
🌿🌿🌿🌿🌿
"Siang Pak Bos".Sapa karyawan cafe saat Naures sudah masuk datang.
" Hm... ".Sahut Naures datar sama seperti biasanya. Karena dia memang tipikal pria dingin tapi baik hati. Hanya karakter nya dan tampangnya saja terlihat amgkuh dan datar. Tapi sebenarnya hatinya sangat baik dan menolong tanpa pamrih.
" Siapkan makan siang dengan menu terbaik kita dan antarkan keruangan saya!!! ".Ucap Naures pada hari sebelum ia masuk kedalam ruangan kerjanya. Karena Naures sudah tahu jika Istrinya berada di dalam ruangan itu.
" Baik Pak Bos".Sahut Tari paham.
Ceklek...
Pintu ruang kerja dibuka oleh Naures dari arah luar membuat Yuni yang sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya ikut menoleh kearah pintu.
Naures tersenyum sambil melangkah. Di tangannya ada paperbag yang sudah pasti berisi cemilan pesanan istrinya tadi.
"Maaf ya sayang kau harus menunggu lama. Tadi di kampus dosennya datang semua".Tutur Naures ketika ia sudah duduk disamping istrinya.
" Tidak papa sayang. Aku ngerti kok. Capek ya".Yuni tersenyum sambil mengelus punggung tangan suaminya.
"Kalau lihat kamu capek ku mendadak hilang sayang".Rayuan Naures mulai keluar. Entah sejak kapan dia pandai menggombal seperti ini. Padahal dulu ia tidak pernah berkata konyol seperti itu. Jangan kan untuk membual tersenyum saja dia jarang.
" Aku tidak menyangka seorang Naures pandai membual".Ledek Yuni sambil terkekeh. Bahkan saat ini yuni sudah bersandar pada dada bidang suaminya.
Cup...
Satu kecupan mendarat di pucuk kepala yuni. "Aku akan melakukan apapun untuk kamu sayang. Jika itu bisa membuatmu bahagia".Ucap Naures jujur.
" Kebahagiaan ku hanya bersama mu sayang ".Balas Yuni sambil mendongakkan kepalanya.