
"Gimana enak??? ".Leon bertanya sambil menaik turunkan alisnya. Membuat Hani langsung merubah raut wajahnya.
" Enak apanya?. Asin tahu, ini juga hambar gak ada rasanya".Jawab Hani ketus. Padahal ia sejak tadi selalu nambah. Tak dapat di pungkiri jika cita rasa masakan Leon. Sangatlah enak, malah ia kalah saing akan itu.
Namun, Hani tetap saja gengsi untuk memuji hasil masakan Leon. Yang sudah ia lahab habis hampir tak bersisa lagi.
"Bilangnya kagak enak. Tapi daritadi nambah terus... " Sindir Leon sambil menyantap kembali sisa makanan di piringnya.
"Gue laper, makanya habis. Lagian mubazir kalo nggak ada yang dimakan. Loe kan udah habisin stok gue buat satu bulan".Ketus Hani masih saja gengsian.
" Ingat ya, harus ganti dua kali lipat!!!! ".Sambung Hani seraya bangkit dari tempat duduknya. Sambil membawa piring nya ke arah wastafel.
" Tenang aja!!!. Setelah loe pulang kerja nanti kita langsung belanja apapun yang loe mau!!! ".Seru Leon sambil menyusul Hani .
" Baiklah, gue tagih janji loe".Hani menatap Leon dengan tatapan garangnya. "Awas saja kalau bohong!!! ".Ancam Hani
" Sudah sana! , jam makan siang sebentar lagi selesai, Bukankah loe harus kembali ke kantor lagi?. Biar gue aja yang beres beres!!! ".Leon langsung mengambil alih cucian piring bekas mereka makan tadi dari tangan Hani.
" Kenapa gak daritadi??? ".Ucap Hani sambil tersenyum. Membuat Leon pun ikut tersenyum.
Hani pun segera merapikan kembali penampilan nya, sebelum ia keluar apartemen. Karena ia harus kembali bekerja lagi. Sedangkan Leon dengan sangat cekatan mulai menbereskan meja makan dan juga mencuci piring.
Mereka berdua sudah seperti pasangan suami istri yang terlihat sangat kompak dan harmoni. Tidak tahu saja jika dua duanya jika sedang kambuh. Hanya ada perselisihan dan perdebatan saja. Seperti tidak akan akur lagi.
🌿🌿🌿🌿🌿
Berbeda tempat berbeda juga cerita. Ketika Hani dan Leon makan siang bersama. Meskipun harus adanya drama sedikit yang di permainan oleh Leon. Supaya Hani langsung pulang tanpa banyak protes dan pertanyaan. Sampai sampai Leon harus pura pura bilang jika dirinya sedang demam.
Bahkan Naufal tak hanya memesan makan siang untuk dia dan Febby saja. Tapi untuk semua orang di klinik itu.
"Wah, calon suami Dokter Febby baik benget ya orangnya. Udah ganteng, seorang polisi lagi".
" Iya, gue mau juga dong dokter Febby punya calon suami kayak bang Naufal".
"Stoknya terbatas ".Jawab Febby sedikit ketus. Ia bukannya kesal karena Naufal datang tiba tiba. Tapi kesal karena sejak tadi para wanita di klinik selalu saja memuji Naufal. Bahkan ada yang sempat sempat nya curi curi perhatian Naufal.
Terang saja Febby geram akan hal itu. Ia jelas tidak terima jika kekasihnya itu di lirik wanita lain. Apalagi jika terlihat genit begitu. Lebih terlihat seperti wanita penggoda saja.
Naufal yang sangat bisa memahami perasaan wanitanya. Kini mulai tersenyum sambil menyentuh punggung tangannya. Menggenggamnya erat seakan enggan untuk melepaskannya begitu saja.
"Aku hanya milikmu sayang".Bisik Naufal tiba tiba. Membuat Febby langsung menatap nya sambil mengulum senyum.
Naufal memang selalu bisa membuat mood nya membaik. Bahkan pria itu sejak dulu, selalu saja bisa memahami nya. Meskipun Febby tak pernah mengungkapkan apa yang dia inginkan.
Mungkin sangat jarang sekali menemukan pria yang sepeka Naufal di zaman sekarang ini. Dan bagi Febby ia adalah salah satu gadis yang beruntung. Sebab, baru pertama menjalin hubungan dengan seseorang. Tapi ia malah langsung mendapatkan pria yang tepat.
"Gombal".Sahut Febby sedikit jaim dan malu malu. Ingin rasanya ia terbang saja saat ini. Karena saking meleleh nya akan ucapan Naufal barusan.
Bisikan kata yang simpel namun bisa meluluhkan hatinya begitu saja. Hatinya selalu di buat berbunga bunga oleh Naufal. Meskipun terkesaan dingin dan datar tapi Naufal juga bisa tersenyum ramah. Pada orang lain tidak seperti Naures yang hanya menampilkan senyuman nya pada orang orang tertentu saja.
TBC