
Akhirnya setelah semalaman berpikir keras. Dan ia juga sudah mendapatkan wejangan dari Mami Lea siang tadi. Sore harinya Calista memutuskan untuk kembali ke Negaranya. Ia bahkan sudah membulatkan tekad untuk siap menerima perjodohan nya setelah ia kembali.
Pria yang sudah mengambil kesucian nya pun sampai saat ini tidak tahu keberadaan nya. Pernah sekali Calista datang keperusahaan nya. Tapi ia sama sekali tidak menemukan pria itu. Karena Barra sedang berada di luar negeri.
Dan dengan berat hati dan juga ia sudah pasrah akan jalan hidupnya. Gadis itu melangkah gontai kearah pintu keluar rumah mewah kedua orang tuanya. Dengan menyeret sebuah koper besar miliknya.
"Non, Calista beneran mau pulang ke Australia? ". Tanya art nya sedikit ragu. Tapi Calista hanya menganggukkan kepalanya saja pelan.
" Tolong jangan beritahu Papa dan Mama dulu ya bik!!!". Pesan nya pada art nya.
" Baik Non. Hati hati di jalan nona!!".
Lagi lagi Calista hanya menganggukkan kepalanya saja. Berat rasanya meninggalkan kota Jakarta. Tapi, ia juga tidak punya pilihan lain saat ini. Calista berpikir jika dirinya akan lebih baik jujur dengan pria yang akan di jodohkan dengannya itu.
Dan Calista juga akan terima apapun keputusan pria itu nantinya. Setelah urusan dengan sang pria selesai, maka Calista juga akan mengatakan yang sejujurnya juga dengan keluarga nya. Ia sudah pasrah meskipun akan mendapatkan hukuman ataupun kemarahan kedua orang tuanya.
Calista masuk kedalam taksi yang sudah ia pesan. Lalu taksi itu mulai membawanya menuju arah airport. Tatapan kosong Calista mengarah keluar jendela mobil. Sejak kejadian malam itu ia bahkan kesulitan untuk tidur.
Bayang bayang panas hujaman sang pria selalu masuk kedalam pikirannya. Bahkan tanpa sadar Calista malah sempat bermimpi memadu kasih dengan pria kurang ajar itu.
"Ah, apa aku sudah gila? ". pekik Calista membuat sopir taksi langsung terkejut.
" Eh, maaf Pak !. Aku hanya sedang berlatih peran saja". Bohong Calista kikuk.
🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Gadis cantik itu kembali melangkahkan kakinya akan masuk kedalam Bandara. Dengan koper besar di tangannya. Helaan nafas kasarnya memulainya untuk terus melangkah. Karena pesawat yang akan ia naiki take out sekitar 30 menit lagi.
Tapi, belum jauh taksi yang ia tumpangi tadi pergi. Tangan nya sudah di cekal oleh seseorang. Membuat Calista langsung menoleh karena terkejut .
Mata Calista melotot sempurna saat melihat siapa pemilik tangan tersebut. "Kau... ".
" Ikut aku!! ".
"Lepasin!. Loe siapa berani nya merantau gue? ". Calista berusaha melepaskan cekalan tangan sang pria tapi sia sia. Pria itu malah langsung menggendong tubuhnya seperti karung beras saja.
" Bawa kopernya masuk kedalam mobil!!!".
"Baik tuan". Seorang pria berjas hitam pun mulai membawa koper milik Calista masuk kedalam mobil tuannya.
Sedangkan Calista terus saja berteriak meminta tolong dalam gendongan sang pria. Membuat mereka menjadi tatapan orang orang di sekitar sana.
"What???. Tolong!!. Aku bukan istri nya. Dia ingin menculik ku. Tolong aku Nyonya". Teriak Calista berusaha meminta bantuan tapi tetap saja percuma. Asisten pribadi pria itu telah berbicara dengan orang orang disana. Dan malah membuat mereka mengulum senyumnya saja. Menatap Calista yang kini sudah di masukkan kedalam mobil mewah dan pria itu pun ikut duduk di samping Calista.
"Dasar berengsek". Calista terus saja memukul mukul dada bidang pria tersebut. Meluapkan kekesalan nya.
"Lepaskan aku berengsek!!! Aku tidak sudi ikut dengan mu". Sentak Calista menatap tajam pada pria itu. Tapi sang pria hanya melirik sekilas setelah itu malah memerintahkan asistennya untuk mulai melajukan mobilnya.
" Stop!!!. Aku hilang stop. Hentikan mobilnya atau...
"Atau apa??. Kau ingin lompat?. Silahkan lompat saja kalau kau punya nyali! ". Potong Pria itu malah menantang Calista.
" Menyebalkan ". Akhirnya Calista memilih diam karena ia sama sekali tidak punya nyali untuk lompat dari mobil tersebut. Sejujurnya saja ia masih belum siap jika harus bertemu malaikat maut.
Sang Pria juga hanya menarik sudut bibirnya saat Calista langsung bungkam. Lalu ia mendekatkan wajahnya tepat di samping Calista. Membuat gadis itu reflek menjauhkan tubuhnya.
"Kau pasti sedang merindukan diriku kan??". Bisik sang pria dengan senyum liciknya.
" Cih... Kau pikir siapa kau?. Kenal saja tidak. Untuk apa aku merindukan pria berengsek yang mengambil kesempatan dalam kesempitan ". Maki Calista gugup.
" Benarkah??? ". Sang Pria semakin mendekatkan wajahnya. Hingga wangi mint mulai menyentuh kulit leher Calista membuatnya sedikit meremang.
Wanita mana yang bisa menolak pesona sang pria itu. Wangi maskulin dari tubuhnya sudah membuat otak Calista tak tentu arah. Apalagi saat ini pria itu malah semakin menempelkan tubuhnya pada Calista.
" Aku merindukan mu sayang".Bisik sang pria dengan suara seraknya.
Deg...
Jantung Calista langsung tak beraturan. Dan tanpa Calista sadari tangan sang pria sudah mulai menyentuh delima kembar nya. Tubuh Calista kembali meremang ia berusaha menolak tapi kedua tangannya telah di kunci oleh sang pria dan di tekan kearah kaca jendela.
"Hen... tikan!!! ". Lirih Calista memejamkan matanya. Saat delima kembar nya di remas oleh sang pria.
Tapi respon tubuhnya malah berbeda dengan ucapan nya. Apalagi saat tangan sang pria sudah mulai turun dan masuk kedalam celana yang ia pakai. Mengeduk rongga goa nya dan memainkannya dengan perlahan. Calista berusaha mati matian agar suara ******* nya tidak keluar. Ia pun hanya bisa memejamkan matanya.
Senyum pria itu terbit saat ia mengangkat tangannya dan memperlihatkan jarinya telah basah. Setelah itu sang pria malah kembali membenarkan posisi duduknya dan menjaga jarak dengan Calista.
"Kau...
" Hussttttt... Kita akan segera sampai". Potong sang pria meletakkan jarinya di ddepan bibirnya.
TBC