
"Ingatlah Allah itu tidak akan memberikan ujian, dibawah kemampuan hambanya. Jadi, Mami yakin kamu dan Manda adalah orang orang pilihan Allah nak. Jangan menentang takdir, karena semua ini sudah digariskan".Lea begitu lembut berucap membuat Rayen bangga pada istrinya itu.
Rayen beruntung bisa menemukan sosok istri seperti Lea. Dan usia pernikahan nya saja sudah hampir genap 27 tahun. Sampai sekarang pun masih tetap harmonis.
Lea terus memberikan nasehat serta usapan lembut pada bahu putranya. Hingga kini membuat Jery jauh lebih tenang. Meskipun masih dapat Lea lihat. Jika Jery tetap rapuh.
"Mas Jery... ".Lirih Manda pelan. Membuat Jery langsung menoleh ke arah istrinya. Begitupun dengan Lea dan Rayen.
" Sayang, kamu sudah sadar??? ".Tanya Jery sambil mengusap sisa air matanya.
" Maafin aku mas!!".Ucap Manda menatap sendu wajah suaminya yang terlihat sangat kacau. Lalu Manda juga ikut menatap kedua mertuanya yang kini juga ikut menatap nya dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
"Mi, pa... Maafin Manda juga!!!. Manda bukan menantu yang baik untuk Papa dan Mama".
Mata Manda mulai mengembun. Membuat Jery hanya bisa bungkam sambil menahan air matanya yang akan tumpah saat ini juga. Berkali kali Jery mendongakkan kepalanya agar tidak terlihat cengeng dan rapuh di depan istrinya.
Sungguh ini bukanlah situasi yang Jery inginkan. Harapan nya begitu tinggi untuk mencari jalan kebahagiaan bersama istri dan anak anaknya nanti. Tapi, sekarang pupus sudah karena keadaan dan takdir. Entah apa yang akan Jery lakukan jika sampai terjadi hal buruk menimpa istrinya suatu hari nanti.
"Mas kamu jelek kalau lagi Nangis gitu".Canda Manda sambil mengukir senyumnya.
Lea yang tak sanggup lagi melihat keadaan menantu dan putra sambungnya itu. Memilih untuk berlari keluar kamar. Rayen menepuk pelan bahu Jery dan menganggukkan kepalanya.Memberikan dukungan semangat untuk Jery. Setelah itu Rayen pun langsung menyusul istrinya. Dan di luar ruangan tangisan Lea pecah tak terbendung lagi.
Rayen yang baru datang langsung memasukkan Lea dalam dekapan nya. Di sana juga masih ada Evi, dokter Ridwan yang wajahnya sudah memar dan lebam. Serta wanita paruh baya yang tadi menemani Manda.
Rayen dan Lea pun langsung menatap wanita itu dan sesekali menatap Ridwan. Dengan tatapan bingungnya.
"Tuan, Nyonya. Ibu Farah ini adalah adik kandung dari Almarhum ayahnya Nyonya Manda. Dan Dokter Ridwan adalah putranya Ibu Farah".Evi ikut menjelaskan.
Pada akhirnya ibu Farah dan Dokter Ridwan. Mulai menceritakan kenapa ibu Farah bisa terpisah dari kakak kandungnya. Dan begitu ia mencari tahu selama belasan tahun. Farah harus menerima kenyataan jika kakaknya sudah meninggal dunia. Dan memiliki satu putri yang ternyata juga sudah menikah dan tinggal di Jakarta.
Sedangkan Paman dan Bibi Manda yang ada di surabaya itu. Bukanlah keluarga kandung Manda. Wajar saja dulu saat Jery menikahi Manda. Paman nya malah menyuruh wali hakim untuk Manda.
Dan pertempuran Manda dengan Farah baru enam bulan terkahir ini. Itupun langsung di kejutkan akan penyakit yang menimpa Manda. Hingga Ridwan harus ikut andil dalam kebohongan sepupunya itu.
Yang menyebabkan kesalahan pahaman pada Jery. Dan itupun sengaja di lakukan oleh Manda agar Jery mau meninggalkan nya. Sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terkahir. Manda lebih memilih menyakiti hati suami dan putrinya. Meskipun ia harus ikut merasakan sakit yang lebih parah. Semua itu Manda lakukan hanya untuk membuat Jery dan Mayra membencinya.
Sehingga jika saatnya tiba ia harus menghadap sang Khalik. Suami dan putrinya tidak merasakan kesedihan yang mendalam. Seperti yang saat ini di rasakan oleh Jery.
Bahkan sebelum nya Manda berniat menyatukan kembali Jery dengan Karin. Tapi, Karena hal lain, Manda mengurungkan niatnya. Hingga ikut melibatkan Evi dalam rencananya ini. Awalnya Evi juga sempat menolak. Tapi begitu melihat Manda memohon padanya. Membuat Evi tak tega.
Namun, Evi jauh lebih tak tega lagi. Ketika melihat tauan nya malah mabuk mabukan. Hanya untuk mengosongkan pikiranya. Belum lagi Jery belum sadar apa yang telah terjadi di club malam itu. Saat ia pergi bersama Brian.
Lagi lagi Evi menghela nafasnya berat. Ia belum berani mengatakan hal sebenarnya pada Jery. Karena kondisi dan situasi nya belum pas. Yang ada jika di katakan sekarang. Jery akan semakin pusing dan membuatnya bertambah stress. Evi pun sudah menyuruh Brian untuk tetap diam. Sampai keadaan membaik. Dan entah apa yang akan terjadi sampai waktu itu tiba nantinya.